Oleh: A. Aulia Hardina Hakim ( HI 2014)

Email: andiauliahardinahakim@yahoo.co.id

Dimulai dari fase dimana Perang Dunia II membawa kehancuran total, terutama pada negara-negara di wilayah Eropa. Lumpuhnya industri-industri besar, kehancuran kota-kota hingga banyaknya korban jiwa akibat Perang Dunia. Pada akhirnya, sebagian besar  sumberdaya diarahkan untuk keperluan perang. Kehancuran ini membawa dunia pada krisis. Pada akhirnya diupayakanlah pembaruan kembali dunia dan tatanan ekonomi yang hancur Hal ini kemudian dijawab melalui hadirnya konferesi yang diselenggarakan di Bretton Woods, pertemuan dengan maksud membicarakan sistem perekonomian dunia pasca perand Dunia hingga pada kesepakatan bahwa hal yang dapat mewujudkan perdamaian di dunia secara Internasional adalah kerjasama Ekonomi Internasional, yang tentu saja berlandaskan pada satu pasar global.

Dilandasi oleh rasa trauma akibat Great Depression 1929, kemudian hadirlah Keynes yang merupakan salah satu peserta dari pertemuan yang memberikan saran mengenai pentingnya campur tangan negara dalam perekonomian, Hal ini berbanding terbalik dengan sistem ekonomi yang sebelumnya dianut oleh negara-negara, yakni sistem ekonomi liberal klasik. Tetapi, Keynes melupakan hal bahwa adanya kemungkinan yang dapat mengakibatkan over produksi jika jumlah penawaran di pasar tidak data di kontrol, karena itu lahirlah solusi memberlakukan kebijakan fiscal dan kebijakan moneter. Pada Konferensi Bretton Wood sistem ini kemudian terbentuklah dua lembaga internasional yakni International Monetary Fund atau IMF dan International Bank for Reconstruction and Development atau IBRD (sekarang disebut sebagai World Bank) serta International Trade Organization atau ITO terbentuk pada tahun 1947. ITO berubah nama kemudian menjadi General Agreement on Tariffs and Trade atau GATT. Pada tahun 1992, GATT menjadi World Trade Organization atau WTO.

Hal yang berlaku secara Internasional ini kemudian membawa serta perubahan yang terjadi di negara-negara lain, sebut saja mulai terbentuknya komunitas mont pelerine swiss hingga di Chile. Komunitas ini menentang segala bentuk intervensi negara dalam perekonomian maka dari itu ditentang pula-lah mazhab dari keynes. Ditolaknya gagasan ini sebab komunitas ini mempercayai bahwa segala bentuk ekonomi perencanaan merupakan kekangan bagi kebebasan individu. Chile kemudian menjadi contoh bagaimana prinsip-prinsip neoliberalisme diterapkan. Setelah terpilihnya Pinochet sebagai pemimpin junta militer, akhirnya dinegosiasikanlah hutang dengan IMF. Pemerintah kemudan memfasilitasi arus asing sampai membebaskan perdagangan.

Krisis moneter dunia kemudian kembali terjadi pada tahun 1980an. Krisis ini disebabkan beberapa negara gagal membayar utang yang telah jatuh tempo. Gagal bayar ini terutama terjadi pada negara-negara berkembang yang menggunakan utang luar negri sebagai landasan pembangunan domestiknya. Keadaan ini akhirnya dimanfaatkan oleh IMF sebagai. Negara-negara kemudian membutuhkan dana suntikan untuk dapat membayar utaangnya. Akhirnya, Negara-negara berkembang dipaksa untuk mengikuti syarat-syarat peminjaman yang diberikan oleh IMF.  Dengan demikian jika menariknya lebih jauh, maka Washington Consensus merupakan lompatan besar penerapan neoliberalisme.

Pada putaran Uruguay muncullah World Trade Organization di tahun 1995 yang menjadi merupakan kemajuan besar bagi upaya realisasi neoliberalisme. Putaran Uruguay bertujuan agar terhapusnya hambatan perdagangan terutama pada komoditi pertanian dan prosuk tekstil. Perjuangan negara-negara berkembang pada Putaran Uruguay melahirkan sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai “great bargain”.    Great bargain ini pada akhirnya membuat negara-negara berkembang berpikir untuk keluar dari jerat neoliberalisme. Perlawanan negara-negara berkembang terhadap hegemoni ekonomi negara-negara maju awalnya muncul di negara-negara seperti India, Brazil, dan Tiongkok yang lebih menunjukkan ketegasan dalam forum WTO. Pada putaran Doha tahun 2001 (Doha Development Round), yang diselenggarakan di Qatar turut menjadi ajang wadah perwujudan kepentingan negara berkembang dan negara maju sebab putaran Doha diselenggarakan atas maksud memanfaatkan perdagangan guna mencapai tujuan pembangunan di negara-negara berkembang. Pada putaran ini, pembahasan mengarah ppada pertanian, akses pasar nonpertanian) serta TRIPs dan isu-isu yang terkait dengan pembangunan.

            Perputaran arus kapitalisme global dengan menerapkan prinsip neoliberalisme telah menjadi hal yang berlaku dalam perekonomian dunia. Hal ini disebabkan beberapa lembaga Internasional tetap memberikan pengaruh yang sangat besar bagi negara-negara termasuk dalam menciptakan utang dan jerat bagi negara-negara yang menyepakatinya. Selain hal tersebut hal-hal yang mengarah pada ekonomi ataupun pembangunan secara global tetap berjalan searah dengan neoliberalisme. Salah satu agenda global tersebut adalah MDG’s atau Millenium Development Goals yang tetap diinisiasi oleh lembaga-lembaga Internasional yang memegang kepentingan untuk terus menafaskan neoliberalisme dalam setiap programnya, MDG’s kemudian diambil alih oleh lembaga yang lebih spesifik dalam pembangunan, sebut saja UNDP. Program ini memiliki beberapa tujuan mulia untuk tiap negara yang menyepakatinya tetapi tetap saja ada hal yang kemudian perlu ditanggung dan diterapkan oleh negara ketika bersedia menyelenggarakan tujuan-tujuan mulia dari MDG’s ini. MDG’s kemudian hanya menjadi suatu upaya untuk menciptakan pasar dunia yang lebih bebas ke negara-negara.

1 Reply to “An Introduction to Sustainable Development Goals: Diskusi Paradigma Pembangunan Global

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *