Oleh: M. Ryanto (HI 2015)

Email: ryantohendra34@gmail.com

Dewasa ini studi tentang pembangunan seringkali dihubungkan dengan studi ekonomi atau studi politik padahal pada dasarnya studi pembangunan dibuat lebih banyak ditemukan pada referensi-referensi seputar psikologi, jadi pembangunan lebih dekat ke literatur psikologi. Secara sederhana, kita bisa mengasosiasikan pembangunan dengan kemajuan. Pembangunan merupakan sebuah progress yang kemudian ditafsirkan oleh berbagai perspektif pembangunan di masa-masa awal, kemajuan kemudian diidentikkan dengan modernisasi sebelum banyak menuai kritik yang muncul bahwa jika suatu negara ingin maju berarti negara tersebut harus modern pula.  Modernisasi kemudian di refleksikan kepada pembangunan negara yang dianggap maju, oleh karena itu cerminan model pembangunan secara global kemudian diarahkan tercermin dari negara maju.

Model pembangunan yang maju maknanya bisa menjadi sangat luas bukan sekedar program sepintas, lalu kemajuan itu kemudian ditandai dengan adanya perubahan dan perubahan itu bukan hanya sekedar merubah hal-hal yang sifatnya materiil atau fisik namun merubah juga hingga ke tahap yang paling dasar yaitu cara pandang dan pola hidup, karena cara pandang pembangunan yang di anut menyandarkan diri pada modernisasi dibalik modernisasi yang diindentikkan pada masyarakat Eropa  yang dianggap tercerahkan terlebihi dahulu. Arah pembangunan kemudian mendorong dunia ini menjadi homogen dan menjadikan cara pandang tentang pembangunan itu sama.

Sebelum membahas tentang Millenium Development Goals (Mdgs) sebelumnya telah lahir agenda pembangunan global yaitu International Development Goals (Igds), sebelum di patenkan menjadi MDGs, setiap empat tahun ada laporan tentang komprehensif tentang kondisi dunia global secara detail. Ada juga terjadi laporan yang sering kita kutip misalnya soal betapa timpangnya kondisi perekonomian global ini adalah UNDP (United Natios Development Reports) pada tahun 1994 saat laporan tersebut dikeluarkan dengan statistik-statistik yang horror seperi 3/10 orang mati karena kelaparan. Laporan tersebut tergambarkan bahwa dunia ini sangat rentan terhadap ketimpangan ekonomi, militerisme masih berkuasa, angka harapan hidup negara berkembang sangat rendah jadi saat laporan itu keluar semua orang sepakat bahwa ada masalah dengan pembangunan kita sehingga dipandang secara bersama bahwa kita membutuhkan agenda pembangunan global.  Saat itu dengan berbagai perspektif kiri maupun kanan pro maupun kontra semuanya bersepakat bahwa masalah ini harus direspon secara bersama maka dikeluarkanlah kemudian agenda bernama IDGs yang kemudian  diadopsi oleh World bank dan IMF dan dilaksanakan pada periode tahun 1996 sampai ditetapkan di agenda MDGs.

Agenda pembangunan MDGs  pada tahun 2000 secara global disepakati bersama dengan targetan-targetan yang nyata dan kuantitatif, terdapat delapan agenda utama yang ada di Mdgs itu antara lain menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyakita menular seperti HIV/AIDS, memastikan kelestarian hidup, membangun kemitraan global untuk pembangunan. MDGs memiliki model dan cara sistematika yang mirip dengan SDGs karena memiliki targetan dan goals, model pembangunan atau agenda pembangunan global ini dianggap sudah kemperehensif menanggulangi delapan agenda tersebut kemudian dievaluasi setiap lima tahun dan lima tahun pertama setelah dilaksanakan. MDGs pada masa evaluasinya kemudian meprediksi lima puluh negara akan gagal mencapai maupun mengimplementasikan program pembangunan global tersebut selanjutnya di evaluasi paruh kedua diklasifikasin lagi ada tujuh puluh negara itu ada dalam kategori rentan untuk pencapaian Mdgs nya kira-kira data-data ini menunjukkan MDGs ini tidak tercapai dalam ranah politiknya kemudian timbullah pertanyaan guna mengetahui mengapa MDGs ini gagal. Model dan prinsip MDGs melihat bahwa semakin banyak pihak yang terlibat maka semakin bagus terkait program-program CSR.

Sejarah perjalan MDGs itu awalnya adalah kesepakatan internasional yang kemudian diadaptasi menjadi agenda pembangunan nasional jadi pemerintah masing-masing negara diminta untuk memberikan segolontoran dana yang variatif kepada negara yang paling miskin selanjutnya kedua negara diminta bersinergi dengan perusahaan-perusahaan atau aktor-aktor swasta terkhusus ke aktor swasta yang orientasinya kepada keuntungan ingin terlibat dalam agenda MDGs ini.

Usaha-usaha untuk mencapai delapan hingga dua belas targetan itu seringkali berhadapan dengan kondisi ekonomi global yang goyang lebih tepatnya krisis apalagi dalam situasi ekonomi berkembambang seperi pada tahun 1996 pra kondisi krisis ekonomi pada masa itu diadopsi oleh World bank lalu diterapkan kepada negara berkembang pada tahun 1998. Krisis statistik pembangunan global semakin goncang lalu pada tahun 2000 disepakati masa pemilihan ekonomi global, kemudian muncul pertanyaan apakah agenda pembangunan ini bisa memastikan dirinya berjalan di wadah yang rentan maksudnya adalah dimana sistem globalnya, lalu apakah agenda-agendanya berpotensi menyelesaikan masalah-masalah yang sifatnya struktural, sampai pada akar masalahnya. Kika dilihat dari pokok masalah, kita bisa mencari tau apakah MDGs ini bisa menyelesaikan akar masalah didunia atau tidak contohnya seperti masalah kemiskinan yang outcomenya yaitu menurunnya kualitas hidup manusia yang berdampak banyak, pertanyaan lebih lanjut kemudian beralih dari mana kemudian sumber dari kemiskinan itu berasal hingga pada akhirnya agenda pembangunan global kemudian pengarah ke proses penyelesaian masalah struktural tersebut.

Jika membahas mengenai perbedaan MDGs dan SDGs, keduanya sangat berbeda pada fase penyusanannya, fase penyusunan MDGs itu sangat elitis sedangkan SDGs itu semua pihak bisa terlibat dalam penyusunannya walaupun tidak terlalu besar pengaruhnya, fase penyusunan SDGs dirangkai dengan survey oleh sebab itu sifatnya kemudian lebih partisipatif, didalam survey kemudian ditemukan bukti negara yang paling banyak mengusulkan itu negara Meksiko dan negara-negara lain termasuk negara Indonesia yang ikut terlibat berpartisipasi, SDGs juga membuat Focus Group discussion (FGD) yang pesertanya bukan hanya pemerintah nasional tapi pemerintah kota serta walikota-walikotanya yang turut diminta mengutarakan pandangannya mengenai agenda pembangunan global. Oleh sebab itu, SDGs mempunyai banyak agendanya hampir semua yang melingkupi kehidupan sehari-hari.

Referensi:

Kementrian PPN. 2013. Status Pencapaian MDGs di Indonesia. http://www.sekretariatmgds.or.id . Diakses pada Selasa, 22 Nopember 2016 pukul 10.10 WITA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *