Oleh: Husnul Khatimah ( HI 2014)

Email: chuusnul03.hk@gmail.com

Globalisasi dapat mencakup keseluruhan integrasi didalam bidang ekonomi maupun budaya serta politik. Proses penyatuan ini telah ada sejak lima abad lalu, sejak masa dimana Christopher Colombus mencari tanah yang luas untuk ditempati hingga kemudian ketika menemukan benua Amerika, Colombus bertemu dengan suku taino hingga terjadi proses Inter-Cultural. Era globalisasi kemudian berlanjut pada masa kolonialisme di Amerika, di pembabakan pertama adalah masa dimana era koloni berlangsung dan masa berikutnya adalah fase setelah perang dunia II berlangsung. Memasuki fase pasca perang II adalah masa dimana sekat ekonomi semakin terintegrasi satu sama lain sebab dimulainya fase dimana tiap-tiap negara mengalami ketakutan akan trauma di perang hingga dicetuskanlah suatu upaya untuk membuat suatu lembaga regulatoris internasional guna tetap menjaga stabilitas perekonomian dunia dan mewujudkan perdamaian dunia. Hal ini memicu dibentuknya tiga regulatoris internasional lahir di tahun 1994, yakni IBRD, GATT yang kini dikenal dengan WTO dan IMF. Di tahun 1980, arus liberalisme kemudian mencadi kacau hingga menyebabkan terjadinya perang dingin. Hal demikian menjadi pemicu dilahirkannya neoliberalisme yang dianggap sebagai nafas ekonomi dalam proses globalisasi sendiri.

Hingga saat ini kerjasama, integrasi kawasan dan perdagangan bebas merupakan fenomena yang yang banyak mewarnai dinamika dunia internasional dewasa ini. Berbagai bentuk kerjasama baik regional, multinasional maupun kerjasama internasional banyak terbentuk bersamaan dengan makin pesatnya alur komunikasi dan informasi di seluruh belahan dunia. Fenomena integrasi dunia dan kerjasama dalam berbagai bidang seringkali dikaitkan dengan globalisasi. Makin menigkatnya interaksi manusia antarnegara atau wilayah disebabkan oleh hilangnya sekat-sekat sehingga seluruh dunia seakan kehilangan batas (borderless) dan semakin terintegrasi. Globalisasi sendiri memilki banyak defenisi yang disesuaikan dengan konteks dimana ia digunakan. Secara etimologis[1] globalisasi berasal dari kata globalize yang merujuk pada meningkatnya jejaring dan perekonomian internasional. Menurut Alma Kadragic, globalisasi secara sederhana dapat didefenisikan sebagai sebuah dunia yang saling tergantung dan terintegrasi[2]. Menurut Robert Jackson & Georg Sorensen, globalisasi adalah meluas dan meningkatnya hubungan ekonomi, sosial dan budaya yang melewati batas-batas internasional. Globalisasi merupakan proses peningkatan interaksi atau hubungan antar masyarakat ke dalam satu bagian besar dunia global yang menimbulkan efek terhadap orang-orang yang jauh sekalipun (Smith & Baylis, 2001: 7). Terminologi globalisasi mencakup aspek sosial, politik dan ekonomi. Dengan adanya globalisasi, maka akan terjadi lintas batas antarnegara yang cukup bebas. Globalisasi memperluas dan mempercepat pergerakan dan pertukaran ide-ide dan komoditas melampaui batas-batas wilayah yang jauh.[3] Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, globalisasi juga mencakup pertukaran dan penyebaran ide-ide termasuk nilai-nilai dan norma yang bersifat global. Lahirnya aturan dan regim-regim internasional yang menjadi dasar pola perilaku di seluruh wilayah di dunia. Dalam prosesnya, globalisasi dapat membawa perubahan di berbagai segi kehidupan, baik yang bersifat meteriil maupun ideasonil. Berbagai bentuk rancangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan global merupakan salah satu aspek globalisasi yang banyak diterapkan dewasa ini.

Selain globalisasi dalam pendekatan ekonomi, terdapat pula prosese globalisasi dari segi budaya. Globalisasi kultur atau dapat juga disebut sebagai globalisasi budaya merupakan serangkaian fenomena dimana kultur dan budaya di seluruh dunia seakan melebur menjadi satu kesatuan dan cenderung homogen. Didalam globalisasi budaya kemudian terklasifikasi kembali ke dalam 3 aspek yakni  berupa 3 pendekatan, yakni diferensialisme, hibridisasi kultur, dan konvergensi kultural. Pertama, diferensialisme. Diferensialisme merupakan pendekatan yang dihasilkan oleh kaum diferensialis, yang mana selalu beranggapan bahwa perbedaan kultur adalah sesuatu hal dan/atau fenomena yang sifatnya tidak akan pernah berakhir. Kaum diferensialis percaya bahwa dalam globalisasi, perbedaan akan selalu ada, seberapapun masyarakat ingin menghindarinya. Pendekatan kedua yang juga digunakan untuk mengkaji globalisasi kultur adalah hibridasi kultur. Perspektif ini percaya bahwa sesungguhnya kultur merupakan sesuatu yang tidak murni, kultur adalah hasil pencampuran yang kompleks. Pendekatan ketiga yang digunakan untuk mengkaji globalisasi kultur adalah kovergensi kultural. Globalisasi kultur menurut pendekatan ini dipandang sebagai bentuk lain dari imperialisme kultur, dimana globalisasi mereduksi peran aktor-aktor lain dan kemudian muncul beberapa negara yang mendominasi.

Secara keseluruhan, budaya memang seharusnya memunculkan identitas suatu masyarakat tertentu. Globalisasi kemudian membuat batas-batas antar wilayah dan bahkan negara seakan semakin memudar. Globalisasi kultur kemudian membuat budaya yang seharusnya dapat menjadi sebuah sumber identitas, kini tak lagi dapat diandalkan sebagai identitas oleh suatu entitas ataupun negara secara umum. Globalisasi kultur melunturkan batas-batas wilayah dan negara, dan membuat budaya semakin sukar diandalkan sebagai sumber identitas. Pada akhirnya, globalisasi secara ekonomi ataupun budaya kemudian sama-sama mempengaruhi politik domestik suatu negara.

Catatan kaki:

[1] “Globalization”. Online Etymology Dictionary.

[2] Alma Kadragic, 2005. Globalization And Human Rights (The New Global Society) (2005).pdf

[3] https://www.globalpolicy.org/globalization/cases-of-globalization.html /diakses pada 5/11/2016

1 Reply to “An Introduction to Sustainable Development Goals: Diskusi Globalisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *