Diskusi Kontemporer: Pangan dan Ancaman Kedaulatannya

Setelah beberapa pekan lalu memperingati Hari Tani Nasional, kali ini HIMAHI FISIP UNHAS memperingati Hari Pangan Internasional yang bertempat di FIS IV FISIP UNHAS pada hari Minggu, 16 Oktober 2016 lalu. Diskusi ini dimoderatori oleh Andi Rivaldy (HI 2013) dengan pemateri A. Aulia Hardina Hakim (Koordinator Advokastra HIMAHI FISP UNHAS periode 2016-2017) dan Rial Ashari Bahtiar (Dewan Pengawas Organisasi HIMAHI FISIP UNHAS periode 2016-2017). Dalam diskusi kontemporer kali ini, dirangkaikan dengan jamming dan menikmati hasil pangan yang disediakan oleh HIMAHI FISIP UNHAS. Peringatan Hari Pangan Sedunia ini telah diperingati kurang lebih 150 negara, setiap tahunnya pada tanggal 16 Oktober. Tanggal bersejarah ketika Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada konferensi umum ke-20 bulan November 1979. Dr. Pal Romany sebagai Delegasi Hongaria Menteri Pertanian dan Pangan, berperan penting pada konferensi tersebut dan mengusulkan ide perayaan Hari Pangan Sedunia.

Sekilas tentang pangan, menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004, Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah. Hakikat pangan diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan maupun minuman. Maraknya kabar seputar hilangnya kemandirian pangan di negara-negara berkembang akibat hadirnya program reformasi pangan yakni kebijakan nasional yang memprioritaskan eksploitasi sumber daya alam dan bahan mentah untuk kepentingan ekspor. Kebijakan ini telah menyebabkan lahan-lahan pertanian digantikan dengan lahan pertambangan dan perkebunan yang menghasilkan komoditas ekspor. Sementara pasar pangan dalam negeri semakin dipenuhi dengan pangan impor yang berasal dari negara-negara maju yang mengalami over kapasitas dalam produksi pangan mereka. Berbagai dampak dari Agreement on Agriculture pada diskusi pecan lalu dapat anda akses di laman http://himahiunhas.org/index.php/2016/09/27/review-diskusi-publik-agreement-on-agriculture-dan-kedaulatan-pangan/ dinilai merugikan sektor pertanian tidak hanya secara umum namun berdampak pula kepada petani secara khusus.

Peringatan Hari Pangan sedunia yang ke-36 ini, merupakan refleksi dari para petani. Kita dapat merasakan betapa susah payah para petani dalam menghasilkan pangan. Pengakuan yang pantas untuk mereka sebagai seorang pejuang pangan dan gizi untuk seluruh bangsa, Karena tanpa mereka, mustahil kita dapat menikmati pangan yang kita konsumsi selama ini. Terlebih lagi, Indonesia sebagai negara agraris, dimana petani yang dengan kepemilikan sebagian besar dan pengelolaan tanah yang relative sempit. Para petani ini terbentuk sebagai pola dari infrastruktur masyarakat yang tidak bisa dihapus begitu saja. Kebijakan pertanian harusnya berpihak pada kepentingan petani yang meliputi kelayakan hidup, akses terhadap pendidikan demi meningkatkan hasil pertanian yang memadai. Lantas, perlu digarisbawahi bahwa usaha pertanian tidak hanya berbicara pada pertanian, tetapi juga mengaktualisasikan prinsip menghormati tanah atau lahan. Merekalah sang konstruksi untuk lahan bercocok tani. Nah. bagi anda yang tidak sempat hadir dalam kegiatan ini, silahkan membaca review yang telah disediakan di laman: http://himahiunhas.org/index.php/2016/11/23/review-diskusi-kontemporer-pangan-dan-ancaman-kedaulatannya/

Selamat Memperingati Hari Pangan Internasional ke-36

Salam HIMAHI, Salam Kreativitas!

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar