NAHIBITI 2016

Sejarah perjuangan Timor Timur untuk bisa melepaskan diri dan memulai kemerdekaannya sendiri, memiliki sejarah yang kelam terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Pelanggaran HAM ini sering terjadi terutama pada anak-anak warga negara Timor Timur. Sejarah kelam ini sayangnya tidak banyak diketahui oleh orang-orang, seakan tertutup oleh isu-isu lain yang seakan ‘mengalihkan’ perhatian masyarakat.

Sejak pendudukan militer Indonesia dari tahun 1975 sampai tahun 1999, diperkirakan 200.000-an orang telah meninggal dunia sebagai akibat represi, pelanggaran sistematis, dan karena kelaparan. Selain itu, diperkirakan 4000an anak-anak secara paksa diambil dari keluarga mereka, ada yang dijadikan sebagai Tenaga Bantuan Operasional (TBO) oleh militer Indonesia selama pendudukan sebagaimana dituturkan dalam laporan Komisi Timor-Leste untuk Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR). Selain itu, ada juga yang diambil oleh beberapa yayasan keagamaan atau panti asuhan, bahkan beberapa anak diambil oleh warga sipil lainnya seperti pedagang, dokter, dll.

Anak-anak yang diambil paksa, dicabut dari budayanya dan jauh dari keluarganya kemudian hidup dalam kurungan masalah yang semakin pelik. Mereka kemudian tersebar di berbagai daerah, salah satunya di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Banyak diantara mereka kemudian bergabung bersama para pengungsi yang datang pada tahun 1999. Mereka kini hidup dengan beragam profesi dan aktifitas yang tujuan utamanya ialah untuk bertahan hidup. Banyak diantara mereka kini tidak saling mengenal dan menyimpan kenangan atas budaya nenek moyang mereka.

Menurut data yang didapatkan oleh AJAR (Asian Justice and Rights) dan KontraS Sulawesi, terdapat kurang lebih 4000 anak-anak Timor Timur yang dibawa atau ‘diculik’ ke Makassar pada tahun 1975-1999. KontraS Sulawesi melakukan banyak pencarian, dan akhirnya mendapatkan 33 anak-anak yang diculik dari Timor Timur dan dibawa ke Makassar. KontraS Sulawesi bersama dengan AJAR berinisiatif membuat suatu kegiatan reuni bernama “NAHEBITI 2016” dengan tema Building Togetherness and Looking Forward for Future. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan kembali Stolen Children (sebutan bagi anak-anak Timor Timur yang diculik)

Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 27 Oktober 2016 bertempat di Fort Rotterdam, Makassar. Kegiatan ini didukung oleh Kedai Buku Jenny, dan HIMAHI FISIP UNHAS. Kegiatan ini dihadiri oleh para Stolen Children, perwakilan dari AJAR dan KontraS Sulawesi, Kedai Buku Jenny, dan HIMAHI FISIP UNHAS, serta mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Gorontalo, dan juga masyarakat umum.

Kegiatan ini dimulai pada pukul 11.00 WITA yang mengambil tempat di Main Hall Fort Rotterdam. Dalam kegiatan ini, ada pameran foto, yang berisikan foto-foto Stolen Children yang berhasil ditemui oleh AJAR maupun KontraS Sulawesi. Pameran foto ini juga merupakan bukti dokumentasi Stolen Children yang dilakukan oleh AJAR dan KontraS Sulawesi.

Ada pula kegiatan ‘nonton bersama’ sebuah film tentang korban penculikan anak dari Timor Timur yang berhasil untuk bertemu lagi dengan sanak keluarganya di Timor Timur setelah melakukan pencarian sendiri tentang keberadaan keluarganya. Film ini berjudul NINA : The Story of Stolen Children. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh dengan penampilan-penampilan pengisi acara seperti Small Stage dan Gafacoustic. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pembacaan puisi yang bertemakan penculikan paksa. Kegiatan kemudian berlanjut ke acara inti, yaitu Sharing Session bersama dengan Gregorio Muslimin dan Rosita (para Stolen Children), Atikah Nuraini, dan Jose Luiz De Oliveira. Para Stolen Children ini membagikan kisah mereka menjadi korban penculikan paksa, seperti cerita Gregorio Muslimin dimana ia menceritakan kisahnya menjadi Stolen Children gelombang pertama yang diculik dari Timor Timur. Ia menceritakan bagaimana ia keluar dari kapal melalui jendela dan hal-hal lain yang ia alami.

Kedua Stolen Children ini juga kemudian bercerita tentang merasa sangat beruntungnya mereka. Seperti Rosita, yang setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu dengan keluarga, dimana selama ini ia putus asa karena keluarganya di Makassar mengatakan bahwa keluarganya di Timor Timur sudah tidak ada lagi. Teater Kedjil persembahan dari Kedai Buku Jenny menampilkan teatrikal yang sangat ciamik, dimana juga menceritakan tentang penculikan paksa yang terjadi di Timor Timur. Kegiatan ini pun ditutup pukul 17.00 WITA dengan persembahan seni asli Timor Timur yaitu Tebe-Tebe. Semua orang pun menari bersama dengan Stolen Children dengan penuh bahagia. Raut wajah bahagia itu sungguh jelas terlihat diwajah mereka.

Sekali lagi, hal ini mengingatkan kita bahwa masih banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Negara namun tertutupi oleh isu-isu lain. Masih banyak orang yang harus kehilangan kesempatan untuk bisa terus hidup dan tinggal bersama keluarganya. Sekali lagi, kegiatan ini mengajak kita untuk tetap merawat ingatan akan pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu, serta berusaha untuk bagaimana Negara sebagai pelaku pelanggaran HAM di masa lalu, terutama dalam kasus Timor Timur tahun 1975-1999 untuk mempertanggungjawabkan kerugian yang dialami para korban.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar