Pengkhianatan Intelektual

Oleh: Marwah Aisyiyah Mawardhy (HI 2014)

E-mail: Marwahaisyiyahmawardhy@yahoo.co.id

Tiap orang butuh tempat untuk curhat yang asyik dan nyaman. Idealnya dia bisa mendengarkan keluhan, kegembiran sekaligus pemberi kritik dan saran. Karena sedari tadi semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, kubuat jari-jariku menari di atas laptop butut dan mulai menulis kata per kata hingga menghasilkan keluh kesah yang nampak namun terkesan asing. Dinda masih tidak bisa berpikir jernih, sedari tadi hatiku berkecamuk. Mungkin sebagai makhluk yang menamai diri manusia dan memeluk agama, merasa sakit saat melihat berita di media sosial terkait terorisme yang mengatasnamakan keyakinan dan tak dapat berbuat apa-apa. Tapi, bukankah terorisme juga manusia, yang memberi perintahpun manusia. Samakah yang mereka rasakan dengan apa yang dinda rasakan? Tidakkah itu dipikirkan?? Sebagai seorang manusia umumnya, yang selalu digeluti berbagai teka-teki kehidupan yang harus kita jawab sendiri meskipun itu menyayat hati dan menjadi problema tiada akhir.

Semilir wacana yang berjalan cantik dalam rel ideologi kelas berkuasa selalu menyisahkan tumbal dan meninggalkan sosok pahlawan yang mengatasnamakan perdamain, keadilan dan HAM. Salah satu contoh adalah terorisme. Betapa terorisme dijadikan sebagai mesin propaganda negara maju yang merasa terancam dan terus dihantui oleh produk globalisasi, beserta intelektual di dalamnya telah mengambil bagian menjalankan aktivitas propangada tersebut. Dalam pandangan Noam Chomsky terorisme telah menjadi alat semantik kekuasaan Negara-negara barat. Artinya terorisme telah diselubungi tendensi dan kepentingan. Wajah ketakutan, kewaspadaan, dan ancaman adalah ekspresi yang terekam tajam oleh pembidik kamera. Namun dibalik layar, kita malah terkonstruk akan peristiwa yang bukan realitas asli tetapi sebuah imajinatif rekayasa dan ditopang oleh kemampuan media massa.

Sebutlah Negara adidaya dengan gencar memberi stigma Negara-negara berpenduduk islam dan negara di Amerika latin dicap teroris. Citra Islam pun dikonstruksi menjadi sebuah kelompok atau kawanan eksrtim identik dengan kekerasan dan ketidakamanan. Melawan terorisme bukanlah dengan jalan menciptakan terror mistik kembali terhadap rakyat, tetapi dengan menciptakan tatanan dunia yang lebih adil, manusiawi dan bermartabat dengan menjamin hak demokratis dari warga negara. Melenyapkan terorisme dengan cara-cara terorisme justru tidak akan melenyapkan terorisme itu sendiri, tetapi memunculkan kekuatan-kekuatan teror yang lebih luas dan lebih radikal, karena menemukan pembenarannya yaitu tata ekonomi global yang tidak berkeadilan.

isu terorisme yang muncul belakangan ini sebenarnya tidak lain hanya permainan politik tingkat tinggi kaum kapitalis dan materialis yang berkolaborasi dengan mereka yang condong menjual keyakinan demi mendapatkan kesenangan nafsu belaka. Disusunlah skenario besar siapa yang melakukan apa dan siapa yang menjadi korban serta siapa yang patut “dikambinghitamkan” oleh skenario ini. Kapitalisme Liberal turut pula berperan membidani lahirnya teroris tingkat dunia yang telah merusak tatanan sosial dan merugikan kehidupan masyarakat.

Kita dibuat dendam, benci dan mengutuk tanpa tahu sebenarnya yang mesti dikutuk. Banyak pandangan terlontar mengenai teroris. Ada diantara kita yang setuju kalau teroris dihabisi dengan cara apa saja termasuk kekerasan. Namun ada pula diantara kita juga tidak sepakat dengan pola kekerasan tersebut. Hal itu disebabkan mereka berpandangan bahwa bila terorisme diselesaikan dengan cara kekerasan dan kita turut menjadi pelaku kekerasan itu sendiri. Yah, Memang bagai buah simalakama. Kita dihadapkan pada kekerasan di satu pihak dan kita dituntut untuk bertindak arif dan ihsan terhadap siapapun yang berlaku tidak etis dan agresif bahkan yang memerangi kita sekalipun di pihak lain. Sungguh memilukan, tak hanya berdampak pada sektor kehidupan juga menjangkau sektor psikis manusia.

Sudah semestinya diskursus terorisme harusnya ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya. Negara sebagai institusi dan pemerintah sebagai agen terbukti gagal. Perlu pembacaan ulang tentang peran dan tanggung jawab negara. Sudah maksimalkah Negara (pemerintah) memberi makan seluruh lapisan masyarakat Indonesia?, Sudah meratkah keadilan dan kesejateraaan bagi rakyat Indonesia? Masih adakah warga Negara republik ini yang penghasilanya hanya 20 ribu dalam hitungan 24 jam? Dan pantaskah kita berbangga diri disaat banyak saudara kita harus kehilangan tempat tinggal tergusur dengan alasan tatakota dan pembagunan kawasan pemukiman elite. Rentetan fakta sosial ini, tidak satupun terpenuhi dan berhasil diatasi oleh pemerintah saat ini. In fact, this is a real terror!!!

Media telah mengambil posisi penting dalam peta pengetahuan. Bahkan sampai detik ini pun media tetap diyakini sebagai alat transmisi pesan bahkan tak jarang media tampil sebagai agent pertukaran makna dan simbol. Disaat itu juga media menjadi perangkat stigmatisasi dan tak jarang menuding dibalik fakta. Dari sinilah sosok Harold laswell mengakaji hubungan media dan mengaitkanya dengan sosiologi politik. Hal ini erat kaitannya denga kondisi politik USA yang dihantui oleh politik anti semith dan fasisme Hitler. Pada saat itu kajian ini jadi penentu dalam menganalisa dampak propaganda Hitler. Maka kajian-kajian seperti persuasi, efek propaganda, efek media mulai ramai digeluti di USA. Mereka terlanjur dikenal dunia sebagai jawara perang yang mengatasnamakan peace. Disanahlah ilmuan-ilmuan dan pakar komunikasi telah “menafikkan” kapasitas pengetahuanya.

Sampai hari ini, penggunaan kekuasaan tentu saja memerlukan kekayaan intelektual dengan dalih untuk memberi “wangsit” terhadap keputusan politik. Kita masih ingat kasus reklamasi di Pantai Losari, beberapa ilmuan, tokoh masyarakat bahkan pemerintahan menjadi “provokator” melegalkan dan merestui reklamasi pantai tersebut. Nama-nama dan gelar akedemik mereka dipajang sebagai pembenar atas keputusan pemerintah. Sungguh sangat ironi!. Sekarang mari kita bandingkan, kondisi terakhir di Porong Sidoarjo. Semburan lumpur Lapindo, apa hasil riset mampu menjawab dan menyelamatkan warga porong dengan lumpur yang tak kunjung berakhir? Mana kontribusi Ilmuan Indonesia mengatasi masalah ini? Justru yang ada warga Porong kian terpuruk. Media masa ramai-ramai merayakan lumpur lapindo adalah musibah nasional. Disinilah media menjadi saluran terpenting yang selalu beririsan dengan kekuasaan. Melalui politik bahasa satu per-satu kata-kata diper’imut’. Seperti kemiskinan dinamakan pra sejahtera, kelaparan disebut gizi buruk dan penggusuran dibilang penertiban.

Disinilah ilmu pengetahuan menjadi kata kiasan yang manis nan halus. Ilmu pengetahuan yang hakekatnya dianggap mampu dan membantu umat manusia, ternyata menjadi alat terror dalam melanggengkan berbagai aliran. Suara lantang akan ilmu pengetahuan yang katanya berwatak netral, tidak berpihak, toleran, dan tidak mempunyai prasangka kepentingan hanyalah mitos semata serta terkesan difable. Justru hanya menjadi senjata pamungkas pembunuhan secara perlahan berlabel penindasan dalam proyek besar eksploitasi ummat manusia dan alam. Sebagai seorang mahasiswa progresif yang berusaha tetap berada pada tapal batas ombaknya pengetahuan dan terdidik dari realitas kelas-kelas bentukan kapitalisme berusaha menjadi ilmuan yang tidak bersikap positif thinking terus-menerus, tidak netral dan tidak menjadi pengikut pada tahta kekuasaan dan menjadi ‘Wonderwoman’. Wonderwoman yang nggak pernah ngeluh, kuat hati, kuat badan tapi tetap cantik. See you soon

Nuun Walqalami wa maa yasthuruun

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar