Studi Hubungan Internasional Dalam Perspektif

Oleh: Tavinur Syamsudin (Lulus 1992, Ilmu Hubungan Internasional)

E-mail: prootda@gmail.com

Pengenalan pelbagai faktor yang mendorong atau menghambat upaya kita memahami gejala atau masalah-masalah internasional, sangat terkait dengan cara kita mengelolanya (to manage). Melalui Studi Hubungan Internasional (SHI) diharapkan muncul pelbagai gambaran dunia berdasarkan model atau kerangka berpikir yang dikembangkan berdasarkan pertimbangan unsur global, regional, lokal atau dalam kerangka kepentingan nasional (national interest).

Diskusi padaegogis, kerapkali melihat hubungan internasional sebagai problem managemen pendidikan atau kelembagaan, yakni masalah organisasi penyelenggaraan proses pendidikan yang lebih terspesialisasi. Artinya, SHI dipandang sebagai cabang ilmu pengetahuan (science). Kendati demikian, manakala kita kembangkan lebih jauh, akan nampak SHI sebagai art atau kiat yang berorientasi kepada tindakan (action).  Munculah pandangan SHI sebagai art dan SHI sebagai science.

Konsep art dan science ini mewarnai penggalian terhadap pengembangan SHI dan tertuang dalam kurikulum akademis SHI di pelbagai lembaga pendidikan tinggi. SHI sebagai art mengartikan kapasitas dan kapabilitas atau keahlian memecahkan masalah internasional. Sementara, SHI sebagai science berupaya mengembangkan cabang ilmu ini melalui pelbagai pendekatan, konseptualisasi, metodologi atau pun pengembangan teori-teori. Alhasil, SHI sebagai faktor kelembagaan atau kurikulum mengandung kebijaksanaan (policy). Kebijaksanaan ini merupakan jawaban (resume) memecahkan masalah ihwal penyelenggaraan proses pendidikan dan pencapaian tujuan pelaksanaan SHI. Jadi, untuk ini ia mengandung masalah manajerial.

Cakupan atau materi SHI meliputi pandangan filsafati, tujuan dan fungsi pendidikan, metodologi pendidikan, struktur/materi pendidikan (kurikulum) hingga pelbagai orientasi atau pendekatan keilmuan.

Dalam implementasinya, pandangan filsafati SHI mengungkap nilai-nilai atau kondisi riil yang ingin dicapai oleh penstudi HI, termasuk faktor kepentingan yang mendukung dan merintanginya, sejauh itu dapat direspons dalam kepentingan lembaga pendidikan itu sendiri. Pengenalan terhadap sosok, sikap, kepribadian, profesional atau warganegara sangat mempengaruhi pengembangan SHI dalam mengelola masalah-masalah internasional. Karena itu, proses perubahan sikap dalam peranan yang beragam sangat terkait dengan berfungsinya pelaksanaan SHI.

Terkait metodologi SHI tercakup dua unsur, yakni perihal program pendidikan dan proses pengelolaan pembelajaran. Program pendidikan meliputi penetapan mata kuliah yang secara fungsional saling kait mengkait guna mencapai nilai-nilai dan kapasitas atau kondisi tertentu dari penstudi HI. Pencapaian ini mengacu kepada kemampuan problem solving yang berupa art, kiat atau aplikasi terhadap pemahaman lingkungan dunia internasional. Dengan demikian, selalu terbuka upaya untuk mengembangkan atau merekonstruksi SHI dengan parameter-parameter mutahir (up to date) yang lebih bersifat sahih.

Pokok pengajaran SHI sangat terkait dengan tujuan pendidikan SHI itu sendiri. Materi SHI merupakan komponen yang saling berinteraksi dalam proses sosialisasi pendidikan. Interaksi ini berfungsi bagi pengembangan hubungan internasional sebagai artatau science dalam kerangka pembinaan penstudi HI yang telah dirumuskan dalam grand design pembelajaran SHI. Hal ini diharapkan mendorong para pestudi HI lebih kritis dalam mencermati gejala sosial:kritis, tajam dan terpercaya (boleh khan meminjam take line sebuah stasiun TV swasta nasional).

Dalam mencapai pemahaman komprehensif, SHI mengetengahkan komponen kurikulum pendidikan dengan fungsi-fungsinya sendiri, karena itu materi-materi SHI mencakup komponen Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK) dan Mata Kuliah Keahlian (MKK). Secara fungsional MKDU bertujuan memupuk kesadaran bermasyarakat dan bernegara pestudi HI. Komponen MKDK berfungsi mengembangkan keahlian akademik dan Komponen MKK berfungsi mengembangkan keahlian penstudi HI dalam implementasi keilmuan, mencakup pemahaman melalui identifikasi, problem solving dan mekanisme pengelolaan isue-isue internasional.

Sebagai fenomena kehidupan sosial, hubungan internasional memerlukan pendekatan dalam memahaminya. Menerangkan kenyataan lingkungan internasional bagi penstudi HI dapat dilakukan melalui penggalian dan pengamatan terhadap kecendrungan (trend) perilaku dari pelaku-pelaku hubungan internasional (aktor-aktor internasional). Melalui pengamatan perilaku aktor (individu, lembaga, negara, lembaga internasional, kelompok kepentingan tertentu, pressure group, NGO, dll) dihasilkan teori atau pendekatan keilmuan hubungan internasional. Kegiatan pengamatan ini merupakan objek penalaran yang terus dikembangkan guna menjawab pelbagai keingintahuan kita terhadap pelbagai isu dan gejala internasional. Hasil pengamatan ini dapat berupa perumusan kebijaksanaan bagi pedoman tingkah laku aktor-aktor tadi atau mereka warganegara biasa.

Sebagai spesialisasi keilmuan, hubungan internasional merupakan kompilasi dari pelbagai aspek-aspek internasional dari cabang ilmu pengetahuan. Aspek internasional ini merupakan cerminan dari interaksi atau inter–relasi sosial antar komponen (aktor) dalam kehidupan internasional, bahkan jauh sebelum hubungan internasional menegaskan dirinya sebagai disiplin ilmu. Pemanfaatan komponen-komponen keilmuan ini dipergunakan sebagai alat memperoleh ilmu pengetahuan atau menghasilkan kebijakan. Karena lewat interaksi dan inter-relasi hubungan internasional ini, pengamatan ilmiah dan kebijakan yang dihasilkannya melahirkan disiplin keilmuan yang lebih mandiri. Objek, sasaran penelitian dan metode pendekatan SHI dalam fase selanjutnya berhasil melahirkan prinsip-prinsip, konsep-konsep dan teorinya sendiri.

SHI menjadi sedemikian dinamisnya seiring perilaku komponen hubungan intenasional yang bergerak cepat. Tak heran apabila dikatakan pertumbuhan SHI jauh tertinggal dari dinamikan hubungan internasional itu sendiri. Meskipun demikian, dalam mencermati dinamika internasional yang terus berkembang, dalam pendekatan SHI dikenal pola pendekatan spesialisasi dan generalisasi. Pola pendekatan spesialisasi membangun sikap bahwa hubungan internasional dapat diamati (dipelajari) melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan terdahulu, yakni sebelum SHI berdiri sebagai disiplin ilmu tersendiri.

Sementara pola generalisasi berpandangan bahwa hubungan internasional memerlukan cakupan sebagai cabang ilmu pengetahuan khusus, berdiri sendiri namun bersifat umum. Artinya, SHI diharapkan mampu memadukan produk dari disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Pola ini melahirkan pendekatan multi-disipliner dan inter-disipliner. Sehingga, SHI memiliki ruang lingkup atau jangkauan luas. Hal ini disebabkan karena cakupan SHI meliputi semua macam hubungan lintas negara dan menjangkau hajat hidup dan kehidupan orang banyak. Tak heran apabila Ilmu Hubungan Internasional “mencomot” informasi dan ilmu pengetahuan dari disiplin ilmu lainnya. Jadi, dilihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia, SHI adalah ilmu yang merupakan proses sintesa diantara pelbagai macam ilmu pengetahuan.

Kendati demikian, luasnya cakupan SHI juga menjadi pertimbangan akan keterbatasan imaji berpikir manusia. Kondisi ini, mendorong konsep yang dinamakan “core subjects”, yakni statusnya merupakan persyaratan wajib dalam keahlian bidang kajian hubungan internasional. Core subjects dapat berupa pembelajaran spesifik seperti studi wilayah, sejarah diplomasi, studi perdamaian, Studi Peranan Multy National Corporation (MNC) dan NGO, dll. Atas kenyataan ini, maka SHI mensyaratkan pemahaman keilmuan para penstudinya melalui cara pendekatan fungsional (funcional approach), pendekatan ruang (space, spatio, geographic approach) dan pendekatan multi-disipliner (multi-disciplinary approach).***

Catatan: Tulisan ini dibuat sekitar awal tahun 1991, ketika saya telat mengambil Mata Kuliah “Teori dan Metodologi Hubungan Internasional.” Tulisan ini merupakan tugas makalah akhir dari mata kuliah tersebut. Tulisan ini juga merupakan upaya comot sana sini dari pelbagai sumber, juga merupakan resapan pemikiran dari serangkaian diskusi dengan Pembimbing Akhir saya, Pak Salusu dan Pak Mappa yang demikian sabar menghadapi keterbatasan penulis. Selain itu Pak Suwardi (Alm.) dari Unpad Bandung dan Pak Mochtar Mas’oed (UGM) juga banyak memberi arahan penulis ihwal pemahaman lebih jauh SHI. Beberapa bagian tulisan ini sudah disunting seperlunya.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar