Oleh: Marwah Aisyiyah Mawardhy (HI 2014)

Email: Marwahaisyiyahmawardhy@yahoo.co.id

 “suatu negara akan rapuh eksitensinya bila tidak dapat

menyelenggarakan dan menggerakkan rakyat untuk mengadakan pangan”

—–Francis Wahono—–

Pangan merupakan kebutuhan yang paling primer untuk manusia. Jika dibandingkan dengan kebutuhan lainnya, kebutuhan akan pangan adalah hal yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. Indonesia terkenal menjadi salah satu Negara berkembang yang terkenal akan pangan dan ditandai dengan mata pencaharian penduduknya adalah petani. Kebutuhan Indonesia akan pangan sampai saat ini, masih menjadi rating tinggi dalam pengkonsumsian pangan, khususnya padi. Pola ini secara tidak langsung turun-temurun di Indonesia yang katanya “tidak kenyang kalau tidak makan nasi”. Sehingga, untuk mencukupinya Indonesia harus mengimpor dari Negara-negara tetangga.

Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa Negara wajib menjalankan kedaulatan pangan (hak rakyat atas pangan) dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi penduduk. Kewajiban ini mencakup kewajiban menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang. Pangan juga memiliki peran strategis bagi suatu Negara karena dapat mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan politik Negara tersebut. Banyak negara yang mampu berubah menjadi negara maju karena kemajuan sektor pertaniannya, sebut saja Tiongkok, Jerman, Australia, dan New Zealand. Apabila ketersediaan pangan menjadi langka, maka rakyat bisa bertindak anarkis dan menurunkan rezim pemerintahan yang sedang berkuasa sebagaimana yang dialami di Mesir dan Aljazair.[1]

Upaya pemerintah Indonesia dalam ketersedian pangan telah dilakukan melalui peningkatan kualitas pangan dan pola konsumsi yang lebih beragam atau biasa disebut dengan Diverifikasi pangan. Hal ini dilakukan, karena kualitas konsumsi yang ada di Indonesia di dominasi oleh bahan makanan sumber karbohidrat, terutama padi-padian. Diverfikasi pangan dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek horizontal dan vertical. Aspek Horizontal disini adalah upaya untuk menganekaragamkan konsumsi dengan memperbanyak komoditas pangan dan upaya meningkatkan produksi dari masing-masing komoditas tersebut. Sedangkan, aspek vertikalnya adalah upaya untuk mengelola pangan terutama non eras, sehingga mempunyai nilai tambah dari segi ekonomi, nutrisi maupun sosial. Diverifikasi secara Horizontal contohnya dengan mengganti bahan pangan, dari beras enjadi umbi-umbian, sagu, kacang-kacangan, sayur, buah dan lain-lain. Sedangkan contoh dari Diverifikasi vertical, misalnya dengan mengelola jagung menjadi corn flake, ubi kayu diolah menjadi berbagai macam makanan, baik makanan pokok atau sekedar dijadikan cemilan seperti keripik ubi. Diverifikasi pangan ini akan menguntungkan baik konsumen maupun produsen jika dilaksanakan dengan baik tentunya. Namun, ada saja keganjala-keganjalan dalam realitas pangan baik di seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri.

Baru-baru ini penulis berkunjung ke daerah Pangkep tentunya masih dalam kawasan Indonesia, di sana penulis memanen beberapa pangan, anehnya tomat-tomat yang penulis petik tidak cepat membusuk, Paman penulis berkata bahwa tomat dan jagung tersebut dapat bertahan setelah disemprot sejumlah besar pestisida yang dapat membunuh hama di dalam tanah. Semua hal ini tidaklah alami, tetapi memang ada. Tanaman jenis baru ini disebut bahan pangan hasil Rekayasa Genetika (RG) atau bahan pangan hasil modifikasi genetis (Genetically Modified= GM). Tidak semua orang sepakat bahwa bahan pangan baru ini sehat. Perusahaan yang membuatnya mengatakan mereka akan meningkatkan ketahanan pangan, membantu memberi makan orang di seluruh dunia. Namun, realitanya kebanyakan tanaman hasil RG tidak memberikan hasil produksi yang lebih besar, nutrisi yang lebih baik, atau manfaat kesehatan lainnya seperti yang dikatakan para penanam modalnya. Sejauh ini hasil tanaman RG tidak menolong kaum miskin atau memecahkan masalah kelaparan. Kebanyakan hasil tanaman RG diciptakan agar dapat menjual lebih banyak pestisida dan pupuk yang dibuat oleh perusahaan sama, yang juga memproduksi dan menjual benih-benih RG.

Salah satu perusahaan multinasional yang menjual benih benih RG di Indonesia adalah Monsanto. Monsanto didirikan di St. Louis, Missouri, tahun 1901 oleh John Francis Queeny, seorang yahudi berusia 30 tahun pekerja industri farmasi. John Francis Queeny menamakan perusahaannya Monsanto Chemical Works, diambil dari nama istrinya yang berdarah latin, Olga Mendez Monsanto. Ayah mertua Queeny adalah Emmanuel Mendes de Monsanto, pemodal industri gula di daerah Vieques, Puerto Rico, yang tinggal di St. Thomas.[2] Menurut penulis, Tidak ada perusahaan yang se-kontroversial Monsanto. Meski diketahui sebagai perusahaan paling berbahaya karena limbah dan racun dalam kandungan produk-produknya, tetapi menjadi produsen makanan terbesar di dunia. Produknya meliputi juga merek-merek paling terkenal seperti Coca Cola.

Antara tahun 2004-2005 Monsanto mengajukan banyak tuntutan hukum pada para petani di Kanada dan Amerika dengan tuduhan pencurian hak paten atas bibit yang ditanam petani. Pada banyak kasus petani mengklaim bibit yang diperolehnya berasal dari perkebunan lain yang serbuk sarinya dibawa oleh angin. Mahkamah Agung Kanada dan Amerika, dicurigai telah menerima suap dari Monsanto, memutuskan para petani telah bersalah. Seperti seorang petani di Kanada, Monsanto mengumpulkan sampel dari lahannya dan menemukan bahwa tanaman yang ada sudah toleran terhadap herbisida Roundup[3]. Monsanto menyimpulkan bahwa ia pasti telah menanam bibit Toleran Roundup milik Monsanto. Petani ini sangat terkejut ketika ia mendapat surat panggilan dari pengadilan. Ia menyangkal bahwa ia telah menanam bibit Monsanto ataupun bibit hasil rekayasa genetik lainnya. Petani ini berkata jujur. Sebenarnya yang menanam bibit Monsanto itu adalah tetangganya. Tanaman tetangganya itu melakukan penyerbukan dengan tanaman miliknya. Ketika tahun berikutnya ia kembali bercocok tanam, bibit-bibitnya juga sudah menjadi toleran terhadap Roundup, seperti milik tetangganya. Petani itu sangat marah, bukan saja karena telah dituduh mencuri bibit, tapi juga karena tanaman Monsanto telah meracuni bibit miliknya.

Produk Kebanyakan benih hasil rekayasa genetika tidak berbeda dalam hal warna, bentuk, bau, atau rasanya dibanding benih biasa sehingga kemungkinan benih ini ditanam oleh petani yang tidak tahu menahu. Monsanto, perusahaan yang paling banyak membuat produk-produk RG, menolak memberi label sebagai produk RG sehingga orang yang memakannya tidak akan tahu bahwa itu adalah makanan RG. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah suatu benih dan makanan merupakan hasil RG adalah dengan menguji struktur genetiknya. Tetapi, alat pengujinya tersedia di Amerika Serikat dan Eropa dengan harganya yang sangat mahal. Sungguh malang nasib petani kita!

Banyak negara yang melarang produk RG ditanam atau dibawa ke dalam negeri, tapi produk RG menemukan caranya sendiri untuk masuk ke jalur pemasok bahan pangan. Di negara-negara miskin, produk RG menerobos pasar dan perkebunan melalui bantuan pangan. Negara-negara yang mengalami bencana kelaparan sering menerima bantuan dalam bentuk biji-bijian dari PBB atau dari suatu negara. Negara-negara produsen biji-bijian RG seperti Monsanto ini, sering memberikannya sebagai bantuan pangan. Hal ini memaksa para petani, mereka yang kelaparan, dan pemerintah mereka untuk memilih antara makanan RG atau kelaparan. Tapi terkadang, meski sedang menghadapi bencana, pemerintah mempunyai pendirian. Contohnya, Zambia dan Zimbabwe ditawari jagung RG sebagai bantuan pangan pada musim dingin tahun 2002, saat ada bencana kelaparan. Zambia menolak bantuan pangan RG itu. Setelah keputusan itu, lembaga donor luar negeri mengirimkan Zambia uang tunai untuk membeli bahan pangan dari negara lain di Afrika yang mempunyai kelebihan produksi pangan. Beberapa negara Eropa yang melarang bahan pangan RG di negaranya, bereaksi dengan menawarkan bantuan pangan gratis berupa produk bebas RG. Pemerintah Zimbabwe juga mendapat tekanan dari banyaknya rakyat yang kelaparan. Zimbabwe menerima bantuan pangan RG tetapi setelah dibuat kesepakatan bahwa jagung harus digiling sehingga nantinya tidak dapat ditanam kembali dan tidak menimbulkan masalah baru. Andai saja Negara-negara seperti ini terus ada dalam melawan perkembangbiakan perusahaan multinasional The Evil Monsanto ini.

Terakhir, penulis mengharapkan tingkat perlindungan yang memadai baik di Negara luar maupun Indonesia untuk menghindari pengaruh yang merugikan terhadap kelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati, serta resikonya terhadap kesehatan manusia yang “katanya”, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati ‘nomor 2’ terbesar di dunia maka Indonesia merupakan sumber gen yang luar biasa untuk pengembangan tanaman transgenik; di lain pihak Indonesia belum membutuhkan produk OHMG (Organisme Hasil Modifikasi Genetik) karena masih dapat memanfaatkan sumberdaya alam sendiri. Namun kenyataan di lapangan memperlihatkan adanya produk-produk OHMG yang beredar di Indonesia, seperti kapas, jagung, dan kedelai.

Produksi tanaman pertanian memang bukanlah suatu kebutuhan yang mutlak bagi suatu negara untuk mencapai ketahanan pangan. Jepang dan Singapura menjadi contoh bagaimana sebuah negara yang tidak memiliki sumber daya alam untuk memproduksi bahan pangan namun mampu mencapai ketahanan pangan. Hanya saja, di berbagai tempat masih ditemukan kerawanan pangan akibat produksi pangan per kapita dunia sudah melebihi konsumsi per kapita. Mari kita mengoreksi, tidak semua manusia di dunia ini memiliki hati yang baik, yang memerlukan sumber daya alam sebatas yang diperlukan. Tapi banyak yang rakus, banyak yang tamak, sehingga menjadi rusak seolah-olah kurang. Alam semesta, cukup memberikan pangan, tapi tidak pernah cukup melayani ketamakan kerakusan manusia.

Salam Pangan dan Selamat Hari Pangan Internasional!

 

Sumber bacaan:

Robin, Marie Monique. 2010. The World According to Monsanto: Pollution, Corruption, and the Control of the World’s Food Supply. New York: The New Press.

[1] Krisis roti di mesir berakhir dengan jatuhnya Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Tingginya harga pangan di Tunisia berakhir dengan jatuhnya Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Sementara krisis pangan di Aljazair membuat rakyat Aljazair turun ke jalan-jalan meminta Presiden Abdelaziz Bouteflika turun dari jabatannya.

[2] “The evil of Monsanto and GMOs: Bad technology, endless greed & the destruction of humanity”; Mike Adams; naturalnews.com; September 23, 2012

[3] Herbisida Roundup merupakan herbisida purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *