Oleh: Maharani Putri Kahar (HI 2014)
E-mail: maharani.putri97@gmail.com

Setiap manusia memiliki hal-hal pokok yang harus dipenuhi dalam menjalankan kehidupannya, hal-hal pokok tersebut biasa juga disebut kebutuhan pokok atau primer. Kebutuhan pokok manusia ada 3, yaitu pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, jika tidak dipenuhi maka dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia tersebut. Yang akan penulis bahas dalam tulisan kali ini adalah salah satu dari kebutuhan pokok tersebut yaitu pangan. Pangan merupakan hal yang sangat pokok dalam kehidupan, setiap hari orang membutuhkan makanan. Akibat yang terjadi jika manusia tidak makan berhari-hari adalah tentu saja manusia tersebut bisa mati, sama seperti makhluk hidup lainnya. Inilah mengapa, kita tidak boleh mengesampingkan permasalahan pangan.

Di Indonesia, salah satu masalah serius yang dihadapi hampir di seluruh daerah adalah kemiskinan, yang tentunya bisa berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Masalah ini sampai sekarang masih sulit untuk ditangani oleh Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia khususnya bagian timur, contohnya di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, terjadi krisis pangan yang menimpa warganya. Hal inilah yang  membuat penulis melihat kasus ini penting untuk dibahas karena kasus ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi mengapa masih ada sejumlah warganya yang merasakan kelaparan, bahkan untuk mendapat sesuap nasi pun sangat sulit. Secara umum dalam esai ini, penulis akan membahas tentang krisis pangan di Bima, Nusa Tenggara Barat yang kemudian diharapkan agar sebagai manusia kita bisa peka dan sadar terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat khususnya disini adalah krisis pangan., yang secara tidak langsung artinya kita pun berkontribusi dalam menangani masalah ini.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya  alam, baik itu sumber daya alam hayati maupun non hayati. Sumber daya alam hayati contohnya, tumbuhan, produk pertanian dan pertumbuhan, hewan, produk peternakan serta perikanan. Sedangkan sumber daya alam hayati disini contohnya, air, angin, tanah, dan hasil tambang. Indonesia pun dikenal sebagai negara agraris, yaitu negara yang sebagian besar penduduknya mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Data statistik pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 45% penduduk Indonesia bekerja di bidang agrikultur. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara ini memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam, dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa. Tetapi yang menjadi masalah mengherankan disini adalah mengapa masih sangat banyak daerah di Indonesia yang mengalami krisis pangan, mengingat begitu melimpahnya sumber daya alam, banyaknya penduduk yang berprofesi sebagai petani, serta luasnya lahan pertanian yang ada. Menurut penulis, mengapa krisis pangan ini terjadi walaupun sumber daya melimpah adalah pertama, karena tingginya pertumbuhan penduduk sehingga sumber daya alam yang ada pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap warga. Kedua, karena terjadinya pengalihan fungsi lahan dari lahan pertanian ke industri atau pembangunan lain seperti mall dan supermarket misalnya, serta banyaknya petani yang beralih profesi menjadi pekerja lain atau buruh industri karena banyaknya industri baru yang dibangun.

Tetapi, apakah hal ini pula lah yang menjadi penyebab dari krisis pangan yang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat? Pada tahun 2003, NTB dianugerahi penghargaan nasional sebagai ‘Provinsi Swasembada Pangan’. Hal ini menunjukkan bahwa produksi beras yang cukup, atau bahkan berlebih, hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada tahun 2014 ini di NTB, terjadi perubahan yang signifikan. Pada tahun 2014 ini, sejumlah desa di Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, NTB sedang ditimpa krisis pangan, khususnya di 4 desa yaitu Desa Wadu Ruka, Sarae Ruma, Pusu, dan Desa Karampi. Masing-masing desa itu memiliki 2 dusun dan semuanya terletak di seberang laut teluk Waworada.  Krisis pangan yang terjadi di beberapa desa ini dikatakan merupakan akibat dari kemarau berkepanjangan, yang terjadi berbulan-bulan. Hal ini menyebabkan petani tidak bisa bertani akibat tidak adanya sumber air yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian mereka. Nah, akibat yang ditimbulkan dari ketidakmampuan petani untuk memproses padi mereka dan mengairi lahan pertanian mereka, yaitu mereka pun harus mencari alternatif lain yang dapat mengganti beras sebagai makanan pokok. Dan apa yang terjadi di Desa Karampi, Kabupaten Bima? Di Desa Karampi, warganya terpaksa mengganti makanan pokok mereka dari beras menjadi umbi-umbian yang disana disebut dengan umbian lede (gadung) karena hanya inilah yang at least, available di dekat desa mereka. Untuk mendapat umbi gadung ini pun tidak mudah. Warga harus berjalan puluhan kilometer di gunung untuk medapatkannya, tanaman ini pun bukan merupakan tanaman budidaya melainkan tanaman liar yang tumbuhnya pun di daerah terjal. Setelah gadung diperoleh pun, warga tidak boleh mengonsumsinya secara langsung karena umbian itu mengandung racun. Gadung tersebut harus diolah melalui beberapa tahapan seperti dikupas kemudian diiris kecil-kecil hingga menyerupai keripik, kemudian direndam dengan air laut higga 4 jam agar kandungan racunnya hilang. See, how pathetic and ironic they are.

Menurut penulis, kasus ini tidak semata-mata terjadi akibat musim kemarau yang berkepanjangan, tetapi juga terdapat peran masyarakat itu sendiri yang masih kurang siap untuk menghadapi musim kemarau yang setiap tahunnya terjadi pada daerah ini. Maksud penulis di sini adalah musim kemarau memang tidak bisa kita hindari, tetapi penulis yakin bahwa jika memang ada usaha dari berbagai pihak untuk menanggulangi masalah ini, maka musim kemarau bukanlah merupakan masalah besar. Menurut penulis, pemerintah seharusnya disini bisa berperan banyak dalam menanggulangi masalah krisis pangan yang terjadi. Misalnya, pemerintah dapat memberikan bantuan beras di desa-desa yang mambutuhkan jika memang keadaan sudah sangat urgency ketika warga desa tersebut sudah tidak memiliki beras, atau makanan pokok lainnya. Kemudian yang menjadi solusi lebih baik lagi adalah jika pemerintah dapat membantu warga desa ini dalam membangun sebuah sistem irigasi yang mampu memberikan suplai air yang cukup walaupun pada musim kemarau. Hal ini lah yang menurut penulis dapat efektif mengatasi masalah kekeringan saat musim kemarau. Namun, kita tidak boleh hanya mengandalkan peran pemerintah saja. Peran, partisipasi, serta inovasi dari warga sendiri itu juga sangat dibutuhkan dalam hal ini. Misalnya, jika sulit untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun sistem irigasi, maka seharusnya warga desa tersebut memiliki inisiatif untuk membuat sistem irigasi mereka sendiri atau setidaknya mereka bisa membuat sebuah wadah penampungan air yang besar sebagai cadangan saat musim kemarau, warga desa yang berprofesi sebagai petani juga bisa meningkatkan produksi mereka sebelum kemarau sehingga stok beras bisa lebih banyak saat kekeringan menimpa.

Berdasarkan analisis masalah serta fakta dan data yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan yaitu bahwa melimpahnya sumber daya alam yang ada ternyata tidak dapat menjamin bahwa daerah tersebut tidak akan tertimpa masalah krisis pangan, sebab terdapat beberapa faktor yang bisa menimbulkan krisis pangan ini yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, adanya pengalihan fungsi lahan dan profesi petani di lingkungan masyarakat, serta dalam kondisi khusus krisis pangan dapat disebabkan oleh kekeringan pada musim kemarau yang terjadi dalam kurun waktu cukup lama. Dalam menangani permasalahan ini, dibutuhkan peran serta dari semua pihak, baik itu pemerintah ataupun warganya, agar dapat saling mendukung dalam mengatasi masalah tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *