Oleh: Ignasius Priyono (HI 2010)
Email: priyonoignasius@gmail.com

 Menyia-nyiakan makanan sama dengan mencuri dari meja orang miskin.

Pope Francis

Ketika saya kembali mengunjungi kantin kampus, pemandangan sama yang masih terlihat sejak saya menuntut ilmu di tempat ini. Piring-piring yang masih dipenuhi dengan sisa sisa makanan—terutama nasi yang masih layak konsumsi—begitu saja dibiarkan tergeletak di atas meja, dihinggapi lalat. Sekilas makanan itu terlihat seperti biasa saja, nampak remeh.

Kita teringat kemudian akan nasihat orang tua semasa kita masih kanak-kanak, “jangan menyisakan nasi, nanti nasinya menangis!” Ketika dewasa, mungkin nasihat itu terlupa seiring semakin logisnya pemikiran kita. Tetapi kebiasaan membuang makanan tersebut terus berlangsung dengan pembelaan pembelaan seperti “saya sudah kenyang” atau “makanannya terlalu banyak, saya tidak mampu habiskan”. Menurut saya ini lebih dari sekedar perkara dongeng nasi yang menangis atau perkara kenyang.

Perkaranya lebih luas dan lebih rumit lagi, menyangkut ekonomi politik. Ini karena di bawah kapitalisme semua telah dikomodifikasi termasuk makanan. Dalam kondisi apa sebuah barang (dalam hal ini makanan) dikatakan menjadi komoditas? Kita harus melihat ini lewat kritik terhadap relasi yang terbentuk di bawah corak produksi kapitalis. Karena di bawah corak produksi demikianlah, komoditas nampak sebagai sesuatu yang remeh sekaligus asing.[1]

Untuk memenuhi kebutuhannya manusia bisa mendapatkannya langsung dari alam, selama kebutuhannya tersebut secara langsung dapat dipenuhi alam. Misalnya, manusia butuh udara untuk bernafas, alam menyediakannya langsung. Tapi bagaimana jika manusia berkebutuhan namun sarana pemenuhannya tidak disediakan langsung oleh alam. Di sinilah peran kerja sebagai penghubung antara manusia dan alam. Melalui kerja manusia mengubah alam menjadi pemenuh kebutuhannya. Misalnya pakaian manusia dibuat dari kain yang ditenun dari benang yang dipintal dari bulu domba atau kapas.

Dalam cara produksi kapitalis, manusia tidak lagi pertama-tama menghasilkan produk untuk dirinya sendiri, melainkan juga menghasilkan produk untuk memenuhi kebutuhan manusia lainnya. Ini dikarenakan, kapitalisme meniscayakan akumulasi kapital melalui proses enclosure, pemisahan manusia dari alat-alat produksinya.

Sewaktu revolusi industri Eropa, banyak tanah pertanian beralih fungsi menjadi pabrik-pabrik. Karena tidak memiliki tanah lagi untuk diolah, para petani beralih profesi menjadi buruh industri.  Sebagai manusia yang dipisahkan dari alat-alat produksinya (yaitu tanah) akhirnya mereka menjual tenaganya pada industri-industri yang memproduksi barang dagang atau komoditas.

“Siapapun yang secara langsung memenuhi kebutuhannya dengan hasil kerja sendiri, memang menciptakan nilai guna, bukan komoditas. Dalam rangka untuk menghasilkan yang terakhir itu, ia harus tidak hanya menghasilkan nilai guna, tetapi juga menghasilkan nilai guna bagi orang lain, atau nilai guna sosial (Dan tidak hanya untuk orang lain semata. Petani abad pertengahan menghasilkan upeti jagung untuk tuan tanahnya dan persepuluhan untuk pendetanya. Tapi baik upeti jagung maupun persepuluhan tidak menjadi komoditas dengan alasan bahwa faktanya mereka telah diproduksi untuk orang lain. Untuk menjadi komoditas produk harus dialihkan ke orang lain, yang akan berfungsi sebagai nilai guna, dengan cara pertukaran).”[2] (Capital: 5)

Dikatakan bahwa kerja menghasilkan barang yang memiliki nilai guna. Tetapi dalam kapitalisme, nilai guna saja tidak cukup. Supaya menjadi barang yang dapat diperdagangkan dia juga harus diproduksi untuk orang lain dan dapat dipertukarkan. Dalam bagian lain Das Kapital, Marx menjelaskan panjang lebar sebuah alat penyetara yang memfasilitasi pertukaran itu, yaitu uang, yang sebenarnya juga adalah komoditas.

Makanan yang kita santap setiap hari, bukanlah makanan yang kita produksi secara pribadi, tetapi makanan yang diproduksi dari kerja para petani, nelayan, peternak, dan buruh. Mereka tidak menghasilkan produk yang hanya bernilai guna dan mendesak untuk diri mereka sendiri, tetapi juga bernilai guna sosial, berguna bagi orang lain, dan dialihkan melalui pertukaran.

Komoditas yang tersaji sebagai menu makan siang anda, terdapat jalinan hubungan produksi dalam bentuk curahan kerja petani/peternak, tengkulak, produsen pupuk dan obat-obatan hama, pedagang, buruh pabrik, dan sebagainya. Curahan kerja itu merupakan pelibatan aktivitas tubuh untuk menghasilkan komoditas makanan. Jadi dalam piring saji anda, terkumpul semua curahan kerja para petani dan buruh, bukan saja buruh-petani nasional, tetapi juga buruh-petani dari berbagai negara. (Sehingga anda tidak perlu menurunkan tingkat IQ anda hanya untuk sekedar bertanya apa HI-nya isu ini).

Selama ribuan tahun manusia didesak oleh kebutuhan akan pakaian tanpa seseorang pun harus menjadi penjahit.[3] (Capital: 133). Demikian pula dalam hal makanan, ribuan tahun lampau manusia memerlukan makanan sebagai pemenuhan kebutuhan metabolismenya, tetapi tanpa seorang pun menjadi petani. Mereka memproduksi sendiri kebutuhan mendesaknya. Dengan adanya pembagian kerja (division of labour) yang semakin spesifik dalam corak produksi kapitalis, manusia semakin jauh dari proses pemenuhan kebutuhan mendesaknya.

Manusia tidak memproduksi lagi kebutuhannya secara langsung, tetapi melalui hasil kerja orang lain yang ditukarkannya menggunakan uang. Dengan demikian, dalam kapitalisme, manusia terpisah dari hasil produksinya. Jangan heran bahwa banyak orang dengan enteng membuang-buang makanannya. Karena mereka terpisah jauh dari proses kerja konkret yang menghasilkan makanan itu. Mereka berpikir bahwa makanan dengan mudah diperoleh lagi, tinggal menukarkannya dengan uang.

Dengan menyia-nyiakan makanan anda telah terlibat dalam proses kesenjangan. Jangan berpikir bahwa tindakan tersebut tidak memiliki konsekuensi. Saya mengutip tulisan Hizkia Yosie Polimpung; “Dalam materialitas kapitalisme-neoliberal misalnya, Burger King yang lezat adalah sepaket dengan nasi aking yang dimakan orang di Yahukimo; pembangunan Disneyland di California sepaket dengan perampasan tanah di India, Nepal, Cina, Papua, dan seterusnya.” (Marxisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa: 34). Nah, jika demikian bukankah makanan yang anda sia-siakan sepaket dengan bayi-bayi gizi buruk di berbagai daerah Indonesia?

Makassar, 26 September 2016

Daftar Bacaan:

Marx, Karl. 1976. Capital A Critique of Political Economy: Volume One. Penguin Books in  association with New Left Review. Great Britain.

Yosie Polimpung, Hizkia. 2016. Tuhan Di Bumi; Artikel dalam Jurnal IndoProgress: Marxisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa. IndoProgress.

 

[1] Lihat Marx dalam Capital. Di sana tertulis, “A commodity appears at first sight an extremely obvious, trivial thing. But its analysis brings out that it is a very strange thing, abounding in metaphysical subtleties and theological niceties.”

[2] Teks aslinya berbunyi, “Whoever directly satisfies his wants with the produce of his own labour, creates, indeed, use values, but not commodities. In order to produce the latter, he must not only produce use values, but use values for others, social use values. (And not only for others, without more. The mediaeval peasant produced quit-rent-corn for his feudal lord and tithe-corn for his parson. But neither the quit-rent-corn nor the tithe-corn became commodities by reason of the fact that they had been produced for others. To become a commodity a product must be transferred to another, whom it will serve as a use value, by means of an exchange).”

[3] Lihat Marx dalam Capital. Teks aslinya berbunyi, “Men made clothes for thousands of years, under the compulsion of the need for clothing, without a single man ever becoming a tailor.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *