Oleh : Rial Ashari (HI 2012)
Email: asharirial@gmail.com

Pertanyaan sepele seperti “mengapa belajar penting jika diutarakan?” pada banyak mahasiswa tingkat akhir bakal jadi pertanyaan yang sia-sia, tidak substansial, meremehkan, comberan. Mahasiswa tingkat akhir ini mungkin lebih berpikir praktis bahwa belajar berguna untuk menguasai teori-teori sehingga bisa mudah menyelesaikan tugas akhir. Sama halnya juga jika ditanyakan pada mahasiswa-mahasiswi baru HI yang berbahagia, bakal mudah dijawab dengan rasa percaya diri. Bagi mahasiswa tahun pertama, jawabannya mungkin akan lebih beragam; supaya banyak tahu, supaya jadi orang berguna, supaya bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dan sebagainya. Atau kalau dia kebetulan sudah pernah kuliah sebelumnya ditambah pernah membaca Marx atau Tan Malaka, jawabannya bisa lebih rock n’ roll misalnya supaya bisa membangun kritik moral dan struktural pada kapitalisme lanjut, atau bahkan supaya bisa menyusun strategi revolusi proletar. Masya Allah.

Persamaan yang bisa dan seharusnya ditarik dari beragamnya jawaban yang mungkin timbul, adalah belajar berguna untuk menguasai teori-teori ilmu pengetahuan sekaligus menguasai penggunaannya dalam membaca realitas. Dalam disiplin-disiplin ilmu sosial termasuk disiplin HI, realitas yang jadi objek studi tentu adalah masyarakat manusia dan hubungan-hubungan sosial.

Persoalan yang jarang disadari, realitas sosial itu tidak sesederhana tampakannya. Jika kita berhenti pada asumsi bahwa realitas adalah sejauh apa yang dapat kita indrai, maka kita akan jatuh pada prasangka belaka. Manusia selalu punya prasangka terhadap apapun. Kehidupan sosial itu sifatnya praktis, tidak kontemplatif. Hal-hal terjadi di sekitar kita dan kita tak selalu merasa harus membuka buku panduan atau textbook untuk tahu mengapa hal tersebut terjadi.

Memang apa yang empirik tampil sebagai sebuah fenomena aktual, namun untuk membacanya diperlukan perangkat-perangkat analisa yang kompatibel dengan fenomena tersebut. Inilah yang kita sebut kemudian sebagai ilmu sosial. Realitas sosial sering menyembunyikan hubungan-hubungan sosial yang ada sehingga diperlukan abstraksi atas realitas itu. Karena jika realitas sosial yang tampak adalah realitas sosial itu sendiri, maka ilmu sosial tidak lagi diperlukan. Menghabiskan waktu puluhan jam perkuliahan di kelas, ikut diskusi-diskusi yang diselenggarakan pengurus himpunan dan membaca buku-buku teoritik bakal jadi mubazir. Perbedaan pelajar ilmu sosial dan orang awam ketika membaca berita fenomena sosial di smartphone-nya adalah kemampuan menjelaskan fenomena tersebut dalam kerangka teoritik.

Anjuran yang terkandung dalam tulisan teramat singkat ini, adalah untuk mempelajari teori-teori, ilmu sosial lengkap dengan konteks kemunculannya dalam sejarah, lalu menggunakannya untuk membaca kondisi sosial sehari-hari. Jangan menganggap remeh aktivitas membaca terus-menerus sebagai kekurangan kreatifitas berkegiatan. Justru membaca (dan berdiskusi) adalah prasyarat bagi kegiatan-kegiatan berkualitas di lembaga kemahasiswaan dan dimanapun, bahkan dalam politik praktis. Soekarno dan Hatta sang proklamator, Mao Tse Tung dan Lenin pemimpin revolusi komunis di Cina dan Soviet, bahkan Hitler sekalipun, semuanya pembaca buku yang tekun dan mereka juga menulis buku berisi pandangan-pandangan filsafat dan atau politiknya. Terakhir, tak ada perjuangan yang revolusioner tanpa teori yang revolusioner. Mari belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *