Emsinumok dan Pekai

Oleh : Rezki Ameliyah Arief (HI 2015)
E-mail: ameliyaharief@gmail.com

Ada hal yang menarik setiap memasuki bulan September. Bukan hujan yang turun dan melepas rindu akan keteduhan dan bunyi rintik setelah berpanas-panas ria di musim kemarau, tapi di bulan September terdapat tanggal penuh sejarah. 30 September 1965, telah 51 tahun peristiwa tersebut terjadi dan menjadi pengaruh kehidupan bangsa Indonesia hingga saat ini. Mungkin yang banyak dibenak masyarakat ketika mendengar tanggal tersebut adalah G30S/PKI? Pemberontakan? Pembunuhan tujuh jendral? atau mungkin tidak peduli dan tidak tahu apa yang terjadi pada tanggal itu.

Banyak masyarakat yang sudah tidak asing dengan istilah-istilah seperti komunis, PKI, ataupun gerwani. Istilah-istilah tersebut sudah tertanam dalam banyak pikiran masyarakat bahwa komunis atau PKI merupakan penjagal, atheis, bengis, kejam, pembunuh, dan segala macam penamaan yang berbau pada perbuatan keji. Namun kebanyakan dari mereka tidak dapat menjelaskan mengapa menyebut PKI jahat secara meyakinkan, dan buruknya lagi banyak yang mengesampingkan fakta pembantaian habis-habisan orang-orang PKI oleh para militer. Mulai ditayangkannya film “Penghianatan G30S/PKI” sejak tahun 1984 di setiap tanggal 30 September di stasiun televisi nasional semakin mengobarkan semangat anti-komunisme di Indonesia. Bagaimana tidak orang yang awalnya tidak tahu mengenai komunis atau PKI setelah menonton film tersebut akan langsung menjustifikasi bahwa PKI dan komunis itu bengis sejati. Namun apakah pandangan banyak orang mengenai PKI atau komunis itu benar sesuai dengan hakikatnya? Atau hanya merupakan praktek pencekokan pengetahuan?

Sebelumnya, PKI atau Partai Komunis Indonesia merupakan partai politik pertama yang menggunakan nama Indonesia secara resmi dan didirikan pada tanggal 23 Mei 1920. Sejak saat itu PKI terlibat dalam perjuangan nasional melawan kolonialisme Belanda. Terdapat banyak pergerakan yang dilakukan oleh PKI untuk melawan penjajahan Belanda yang kejam, akibat perlawanannya banyak anggota PKI yang diasingkan ke Digul, Pulau Buru, ataupun Papua. Sejak saat itu PKI melakukan gerakan bawah tanah dalam perjuangan pembebasan nasional yang berpuncak pada proklamasi. Anggota PKI banyak berperan dalam mencapai kemerdekaan Indoenesia misalnya saja Amir Sjarifuddin,Trimurti, ataupun Wikana. Melihat hal ini PKI sejatinya merupakan partai yang mewakili hak-hak rakyat dan disahkan oleh undang-undang serta berperan terhadap pencapaian kemerdekaan di Indonesia.

Peralihan rezim dari Orde Lama yang dipimpin oleh Ir.Soekarno kemudian dikudeta oleh Soeharto atau dikenal dengan nama Orde Baru. Di rezim orde baru sukses mengindoktrinasi banyak masyarakat di Indonesia bahwa PKI adalah orang-orang tak berperikemanusiaan. Pada rezim ini, orang-orang yang terlibat dalam PKI ataupun mengarah ke komunis akan diburu, dipenjara, diasingkan ke pulau-pulau, dibunuh, disiksa, dan dibantai secara massal di berbagai wilayah di Indonesia. Bukan hanya militer yang melakukan pembantaian tersebut, tapi juga aktivis, agamawan, ataupun penduduk biasa yang membunuh atas dasar bahwa PKI adalah iblis yang mesti diberantas dan telah menjadi pemerkarsa dari setiap kebobrokan bangsa. Namun anehnya peristiwa pembunuhan massal yang terpuruk dalam sejarah bangsa Indonesia itu tidak membuat masyarakat bersimpati pada mereka yang dibunuh dan dibantai ataupun bagi keluarga-keluarga mereka yang ditinggalkan. Yang menjadi ironi adalah mereka malah bangga telah menjadi pelaku dalam pemberantasan PKI dan telah mencap dirinya sebagai pahlawan, bahan sampai saat ini masih banyak yang mengutuki PKI bahwa “PKI Harus Mati!”, “PKI anj*ng!” dan masih banyak lagi bahasa mengumpat yang dikeluarkan orang-orang yang mengaku dirinya anti-komunis (nonton jagal : the act of killing).

Pembentukan rasa benci dan anti terhadap komunisme dilakukan orde baru (Soeharto) berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi politik pada masa itu. Melimpahnya kekayaan alam Indonesia pada saat itu menjadi perhatian negara berdaulat, terutama terutama negara kapitalis (Amerika Serikat). Tumbuhnya paham komunis di Indonesia yang merupakan partai terbesar setelah China merupakan ancaman besar bagi negara kapitalis (Amerika Serikat), terlebih karena Ir. Soekarno cenderung dekat terhadap blok timur (Uni Soviet) dan elemen-elemen kiri lainnya yang anti-imprelis (misalnya Kuba) termasuk PKI. Orde Baru dibawah pengaruh Amerika Serikat yang berideologi kapitalis menggencarkan perang terhadap komunisme, yang sampai sekarang masih melekat dalam banyak masyarakat Indonesia.

Salah satu hal yang paling berpengaruh dalam penyemaian benih-benih anti-komunisme adalah melalui budaya khususnya basis sastra. Misalnya dalam film, kebanyakan menampilkan mengenai kekejian PKI dalam membunuh para jendral dan masyarakat yang tak bersalah. “40 Hari Kegagalan G30S” yang terbit tahun 1965 (baca : A Preliminary Analysis of October 1, 1965 Coup in Indonesia- karya Ben Anderson dan Fredrick Bunnel), “Penghianatan G30S/PKI” yang disutradarai oleh Arifin C. Noer yang diputar sejak 1984-1997 (nonton jagal : The Act of Killing), yang berperan dalam pencekokan pengetahuan mengenai PKI. Dalam buku, misalnya produk dari Majalah sastra (1965) dan buku-buku lain yang menentang komunis dan sekarang buku-buku yang berbau kiri diberhentikan peredarannya di toko-toko buku terkemuka. Adanya juga bangunan simbolik seperti monumen pancasila sakti dan monumen lubang buaya semakin memupuk benih kebencian terhadap komunis. Alhasil, sekarang produk buku pendidikan jika berbicara mengenai PKI akan menjelaskan mengenai kekejian PKI dan diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah akhir, yang memberikan dogma bahwa PKI memang seperti itu. Maka semakin langgenglah paham anti-komunisme di Indonesia.

Pembentukan ideologi anti-komunis yang ditujukan untuk melanggengkan kepentingan ekonomi-politik orde baru, nyatanya juga ditujukan untuk memberi legitimasi atas kekerasan yang menimpa orang-orang komunis. Melalui berbagai produk budaya dan narasi sejarah, kekerasan termasuk pembunuhan terhadap orang-orang komunis dilegitimasi sehingga dianggap sah dan sesuatu hal yang normal. Padahal sejatinya komunisme merupakan paham yang ingin menghapuskan kelas-kelas, sehingga tidak ada lagi produksi yang dominan agar terciptanya masyarakat yang tentram.  Tapi akibat melanggengkan kekuasaan komunisme disalahartikan dan akhirnya menjadi sesuatu yang harus diperangi. Ini merupakan sejarah yang digelapkan oleh suatu rezim, banyak yang melupakan ataupun tidak tahu bahwa PKI adalah salah satu yang berpengaruh terhadap pemproklamasian kemerdekaan Indonesia dari imperialisme Belanda dan Jepang. Untuk itu, tulisan yang singkat ini menghimbau kepada masyarakat (termasuk penulis) untuk mencari jawaban yang sebenarnya mengapa harus memerangi komunis, sebelum menyatakan diri anti-komunis (PKI). Bukan untuk terus-menerus dicekoki pengetahuan ataupun dogmatisme mengenai peristiwa 1965. Kerena kebenaran harus ditegakkan bukan digelapkan (mari berpikir kritis).

*Emsinumok : Komunisme

**Pekai : PKI

Referensi :

  1. Buku :

Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya Pasca 1965 : Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Tangerang Selatan : Marjin Kiri.

Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Prasetyo, Eko. 2015. Bangkitlah Gerakan Mahasiswa. Malang : Intrans Publishing.

2. Website :

http://indoprogress.com/2010/05/partai-komunis-indonesia-pki/ diakses pada 29 September 2016, pukul 08:06 WITA

http://indoprogress.com/2014/08/orde-baru-dan-kebencian-terhadap-komunisme-yang-tak-kunjung-usai/ diakses pada tanggal 29 September 2016 pukul 08:21 WITA.

http://indoprogress.com/2013/12/kiri-sebagai-ancaman/ diakses pada tanggal 29 September 2016 pukul 08:23 WITA.

http://indoprogress.com/2016/06/kepentingan-melawan-histeria-anti-komunis diakses pada tanggal 29 September 2016 pukul 08:26 WITA.


 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar