Mahasiswa Baru, Selamat Mencari!

Oleh: Mohammad Nur Fiqri (HI 2015)
Email: mohammadnurfiqri@gmail.com

Penulis baru saja membaca tulisan Mas Eko Prasetyo yang bertajuk Selamat Datang Mahasiswa Baru dalam rubrik Harian Indoprogress[1]. Bagi penulis pribadi, tulisan Mas Eko Prasetyo jelas kebenarannya merupakan refleksi dunia kemahasiswaan hari ini. Setelah membaca tulisan beliau, terbesit suatu kesadaran penulis untuk juga menulis opini dan semoga cukup radikal. Tanpa maksud untuk menggurui pembaca, tulisan ini bercerita mengenai hal-hal yang sangat dekat dengan kemahasiswaan dan pendidikan. Saking dekatnya, untuk memahami opini ini, tidak perlu harus menjadi salah seorang empu-nya kampus terlebih dahulu atau orang organisatoris garis keras. Bahkan menjadi seorang mahasiswa baru yang berhasrat belajar dan menjadi kritis, itu sudah lebih dari cukup untuk menulusuri gagasan dalam tulisan ini.

Memperbincangkan kampus dan seisinya, mesti menjadi hal menarik bagi mahasiswa. Selain dikarenakan mahasiswa sebagai pelaku di dalamnya, perbincangan kerap kali menjadi bergelora, karena ramai dengan perdebatan ragam realitas yang nisbi. Ruang-ruang bertutur kata antar mahasiswa pun beragam, mulai dari diskusi politis yang begitu berat hingga sekedar diskusi ringan saling tukar lelucon cerdas. Mulai dari diskusi yang paling substansial hingga yang paling ‘kosong’ telah menjadi kisah kasih di dunia kampus. Pertanyaannya, kita ngampus itu sebenarnya ngapain?

Satu hal yang benar menurut penulis, bahwa sebenarnya kampus bukan hanya seperangkat gedung dengan luas sepersekian hektar atau koleksi pujian yang diformalkan dan tetek bengek akreditasi pembangunan citra. Bahwa sebenarnya, belajar bukan berarti memburu perhatian dosen demi IP selangit ataupun untuk sekedar ber-selfie dengan toga, lengkap dengan bucket bunga warna-warni. Bahwa terlepas dari hal-hal tersebut terdapat esensi pendidikan dan kemanusiaan yang melekat di kampus, yang seumpama diamalkan, revolusi bangsa untuk keluar dari jerat-jerat keterpurukan bukan lagi janji pejabat politik semata dan mahasiswa dalam artian sebenar-benarnya menghidupi semboyan agent of change, yang seringkali dijadikan slogan simbolik seminar-seminar nasional. Namun, sekali lagi banyak yang linglung ataupun tidak sadar akan hal ini, atau bahkan menolak sadar barangkali. Ketidaksaran kolektif ini tidak datang tanpa sebab, bahkan sebabnya terdapat di sistem pendidikan itu sendiri, sebuah sistem yang adik-adik dan juga penulis secara bersama-sama ikuti sejak dini.

Selama kurang lebih dua belas tahun, adik-adik sibuk dijejali model pendidikan keseragaman, lengkap dengan atribut hingga isi kepala, yang telah menciptakan konstruksi yang bersifat candu nan sempit. Sedari umur muda, adik-adik dan juga penulis sendiri diharapkan ikut dalam model pendidikan sistematis, sebuah skema pendidikan yang telah diatur sedemikian rupa oleh rational calculation(kalkulasi rasional) milik pemerintah yang maha mengetahui, yang katanya menjanjikan sebuah kesuksesan di ujung jalannya, dengan catatan, ikuti prosedur dan aturan mainnya. Begitu baik dan superior institusi menciptakan wacana besar yang dipenuhi dengan seperangkat alat, jalan, skema, literatur bahkan kepercayaan menuju kesuksesan.

Namun, adik-adik sudah seharusnya skeptis mengapa arti sukses dan jalan menuju kesuksesan itu makin sempit dan deterministik terhadap angka-angka alias hitung-hitungan materiil. Nilai dan gelar sejak dini telah menjadi majikan yang menjanjikan pujian dan upah, tapi tidak sebuah kemerdekaan berpikir. Jangan heran kalau kita (baca:manusia) dalam sekolah hari ini menuhankan uang sebagai fundamentalisme segala-segalanya mengalahkan Tuhan itu sendiri. Proses pendidikan dianggap lawan atau hambatan yang harus dikalahkan setangguh dan secepat mungkin, atas nama akselerasi kapital (percepatan kebutuhan pasar) dan hasrat gaji-menggaji. Alhasil, pendidikan yang seharusnya mulia malah membawa petaka bagi bangsa sendiri. Para lulusan tadi malah kesulitan di lingkar pengangguran atau kalau lebih ‘pengecut’ malah memilih diam dalam sebuah penindasan sehingga menjadi lebih buruk nasibnya, yakni menjadi pejabat sekaligus penjahat.

Padahal sejatinya, kehadiran pendidikan ditujukan untuk menghimpun nilai-nilai kemanusiaan, guna menjauhkan diri untuk tidak jatuh tak terkendali dalam ketamakan materiil tadi. Pendek kata, Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kita, yang mencoba menjelaskan roh dari pendidikan. Dengan berlebihan, penulis bahkan merasa kalimat ini juga merupakan sebuah petuah dari peristiwa masa lalu agar terbebaskan dari penjajahan fisik hingga gagasan, sebuah wejangan untuk tidak menyurutkan sisi kemanusiaan demi persekongkolan dengan kaum feodal penjajah yang bisa jadi candu.

Surutnya sense of humanity pada masyarakat mengindikasikan bahwa masyarakat sedang berada dalam babak dehumanisasi. Sebut saja Paulo Freire (wajib, dicari tahu!) mengartikan dehumanisasi sebagai hegemoni pendidikan yang terjadi antara yang menindas terhadap yang ditindas. Dengan begitu instansi pendidikan sudah seharusnya ‘mengilhami’ masyarakat yang sedang terjebak dalam hegemoni ketidaktahuan, dengan bertindak melakukan tranformasi sosial. Singkat cerita, semangat pendidikan progresif Freire berarti sebuah pendidikan yang membebaskan dari antek-antek yang menjajah gagasan kritis.[2]

Mirisnya, hal ini jauh dari kenyataan mahasiswa hari ini. Keilmuan yang diperoleh tidak lagi dibumikan sebagaimana mestinya. Apa gunanya menghafalkan banyak formula scientific, mengetahui selak-beluk teori pangan, kelautan, dan kebumian kalau tidak digunakan untuk para petani dan nelayan yang hingga hari ini masih melarat dan teraniaya? Buat apa sekolah setinggi langit, hanya untuk menjadi para dokter, arsitektur, politisi, ahli hukum ataupun ahli ekonomi yang sekedar ikut-ikutan mempertahankan kuasa satu kelas yang sudah jelas inheren dengan ketidakadilan.

Dalam beberapa titik, realitas saat ini mempertegas bahwa pendidikan di jenjang perguruan tinggi memang sangat bersifat eksklusif dan elitis. Kampus dibuat seolah-olah sebuah ruang hampa dimana terpisah dengan realitas kemasyarakatan, sebuah persemayaman para akademisi yang mengasingkan bangsanya sendiri. Pendidikan dianggap sebagai sebuah sistem yang bebas nilai, sebuah kesatuan yang serba positivistik yang membuang bias-bias kemanusiaan. Suatu model pendidikan yang tidak lagi mengabdi pada masyarakat.

Adik-adik mahasiswa baru dan saya serta kawan-kawan lainnya yang juga beruntung dapat berkuliah, berarti punya power berupa akses yang dari tadi sudah kita kritik, akses pendidikan yang terbatas. Oleh karena itu, sebagai pemilik sentrum akses keilmuan, para akademisi memiliki tanggung jawab sosial, moral maupun intelektual yang maha penting. Sosial berarti bertanggungjawab untuk melakukan transformasi sosial kerakyatan, moral berarti bahwa mahasiswa tidak melepaskan moralitas kemanusiaannya, bahwa tujuannya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Serta, tanggung jawab intelektual  yang berarti berkewajiban atas sebuah keberpihakan keilmuan untuk lalu mengamalkannya, dalam sebuah pergerakan reformasi mendobrak kebudayaan tirani kapital yang secara terus-menerus menghegemoni pemikiran massa.

Mungkin kalau dari tadi sistem pendidikan yang sedang kita ikuti, sedari ide sudah krisis identitas, pertanyaan besarnya adalah lantas bagaimana mewujudkan esensi pendidikan yang sejati? Apa medium yang bisa menjadi rumah untuk merawat imajinasi perlawanan, sembari menghidupi kampus dan seisinya? Dimana Pendidikan yang Memanusiakan manusiaitu? Dengan sikap yang selalu saja apatis dan mempertiadakan peran kemahasiswaan tadi, mungkin adik-adik akan putus asa dan kesulitan untuk mendapati jawaban-jawaban pertanyaan di atas. Padahal, ruang tersebut selalu saja berlipat-ganda memenuhi kekosongan fungsi-fungsi pendidikan. Ruang tadi yang lalu disebut organisasi kemahasiswaan.

Melalui pendekatan kebahasaan, mudah saja kita pahami bahwa organisasi berarti kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiriatasbagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu (lihat KBBI). Bahwa sejauh ini, organisasi mahasiswa bisa diartikan sebagai sebuah kesatuan mahasiswa yang berproses bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama, sebuah transformasi realitas lewat realisasi identitas kemahasiswaan.

Adik-adik mungkin sudah familiar dengan organisasi kemahasiswaan lewatberbagai macam headline surat kabar. Belum lagi, potretnya seringkali melebihi sensasi, bahkan terlewat menarik. Organisasi kampus pun menuai kesan buruk yang berhasil merembes memperparah prasangka negatif. Penulis secara pribadi juga sempat khilaf perihal stereotip yang lagi-lagi menghegemoni. Setelah menelusuri dunia kemahasiswaan kurang lebih setahun, dengan berat hati, bahwa benar adanya, ini tidak lebih dari sekedar jual-beli sensasi. Bahwa sebenarnya organisasi kemahasiswaan malah menduduki fungsi yang mendidik masyarakat, sebuah proses memanusiakan manusia.

Banyak yang berasumsi bahwa organisasi kemahasiswaan Indonesia hari ini hanya berdiri di atas akumulasi dongeng-dongeng heroik mahasiswa masa lalu, tanpa analisis historik yang jelas. Satu hal yang perlu diketahui, bahwa pergerakan mahasiswa Indonesia (terkhusus pergerakan Mahasiswa Makassar) bukan sebuah unit spesifik dan terpisah secara sendirinya. Malahan, pergerakan organisasi kemahasiswaan ini merupakan anasir dari sebuah riwayat perlawanan seantero dunia.

Simak saja perlawanan mahasiswa Amerika Latin yang diawali Manifesto Cordoba di Argentina pada tahun 1918.[3] Manifesto Cordoba sendiri adalah deklarasi hak-hak istimewa mahasiswa dalam terjun langsung, mengambil peran perubahan serba-serbi universitas (cogobierno). Pendobrakan kala itu sekaligus mengkritik konsep otoritas dalam kampus, yang menjadikan kampus sebagai benteng pertahanan tirani yang tidak tahan kritik. Atau sejarah pergerakan para mahasiswa universitas-universitas Cekoslovakia yang turun aksi menentang fasis Nazi pada 28 Oktober 1939.[4] Walaupun berujung penculikan dan penjatuhan hukuman mati di tangan Hitler yang maha fasis, gagasan mereka tidak mati, justru sebaliknya berlipat ganda. Intinya dari sebuah organisasi kemahasiswaan, yakni melakukan pendidikan yang membebaskan, yang ditarik dari abstraksi problematika hari ini.

Sekali lagi, penulis coba membumikan konsep organisasi dan pendidikan di atas menuju pernyataan bahwa kampus adalah tamannya ilmu pengetahuan, dimana manusianya haruslah bijak sejak dalam pikiran. Tanggung jawab yang dari tadi sudah dibahas panjang lebar, sudah seharusnya terinjeksi kepada seluruh mahasiswa, tanpa memandang dikotomi-dikotomi tipe mahasiswa yang memang sejak awal sudah absurd. Perihal kemahasiswaan dan kesadaran akan realitas organisasi sebagai medium pergerakan, adalah panggilan hati nurani kemanusiaan.

Mengemban tugas besar pendidikan kemanusiaan oleh organisasi kemahasiswaan yang hanya ditempatkan di pojok-pojok kampus, memang sebuah tugas yang berat. Belum lagi, pergerakan mahasiswa yang semakin hari, makin terjepit lantaran kampus menjelma jadi perusahaan. Oleh karenanya, organisasi kemahasiswaan juga tidak bebas dari koreksi. Membenahi diri, memperkaya siasat metodologis yang kontekstual dan mem-branding diri sendiri sebagai gerakan tandingan dalam perebutan ruang-ruang ideologis hingga fisik, merupakan perkara yang mesti dilakukan. Tentunya, tanpa melewatkan nikmat-nikmat di setiap prosesnya. Proses-proses yang akan mendewasakan diri masing-masing individu dalam suka maupun duka, memupuk kembali nurani yang telah lama layu.

Sampai disini, tulisan ini terasa meluap kemana-mana, fokusnya beragam dan sulit diterima sebagai pengantar dunia kampus yang maha luas. Memang tidak mudah untuk berbagi kepercayaan ini, oleh sebab itu, selepas dari membaca ini, adik-adiklah yang harus terjun langsung, berpetualang kesana kemari, mencari kebenaran dunia kampus. Selepas dari sini, semoga saja timbul banyak pertanyaan, biarpun dari yang dekat-dekat dahulu. PTN-BH  (Privatisasi dan Komersialisasi Kampus), kenaikan harga mace-mace di kantin-kantin kampus, pelarangan jam malam, naiknya UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan maraknya beasiswa swasta, reklamasi laut pinggir kota, penggusuran rumah dan lahan rakyat kecil, perlawanan buruh tani mempertahankan lahan, penghilangan paksa mahasiswa dan aktivis, dan masih banyak isu lain untuk dipertanyakan.Pendek cerita, kesadaran terhadap realitas inilah merupakan harapan penulis terhadap adik-adik, walaupun amat disayangkan, bahwa kesadaran adalah selemah-lemahnya perlawanan. Mahasiswa baru, selamat mencari!***

[1]Eko Prasetyo. Selamat Datang Mahasiswa Baru. (Dapat diakses dihttp://indoprogress.com/2016/08/selamat-datang-mahasiswa-baru-2/). Diakses pada tanggal 13 September 2016, pukul 23:45 WITA.

[2]Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, Jakarta, 2008, hlm. 12.

[3]Hendra Sunandar, Mahasiswa Sebagai Kekuatan Politik; Telaah atas Gerakan Mahasiswa Menentang Mundur Jean-Bertrand Aristide di Negara Haiti tahun 2004. (Dapat diakses pada https://www.academia.edu/4969975/Mahasiswa_Sebagai_Kekuatan_Politik_Telaah_Atas_Gerakan_Mahasiswa_Menentang_Mundur_Jean-Bertrand_Aristide_di_Negara_Haiti_tahun_2004). Diakses pada tanggal 14 September 2016, pukul 23:00 Wita.

[4]Bumi Rakyat, PERINGATI 76TH INTERNATIONAL STUDENTS’ DAY DENGAN BANGUN GERAKAN MAHASISWA KERAKYATAN. (Dapat diakses pada https://bumirakyat.wordpress.com/2015/11/17/peringati-76th-international-students-day-dengan-bangun-gerakan-mahasiswa-kerakyatan/). Diakses pada tanggal 15 September pukul 02:00 Wita.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar