Oleh: Zulmi Zuliansyah (HI 2014)

Kemarin, sehabis ketuk palu tanda skorsing sidang rapat triwulan I cepat-cepat saya meninggalkan ruangan, maklum saja matinya AC ruang rapat A menjadikan ruangan tersebut sepanas sauna. Sekeluarnya dari ruangan tersebut seketika itu pula saya melihat suasana sekretariat lembaga mahasiswa (lema) FISIP UNHAS,  yang beberapa hari terakhir sedang tidak kondusif akibat korsletnya listrik yang mengakibatkan gelapnya sekretariat lembaga mahasiswa fisip tersebut. Melihat suasana LEMA yang gelap gulita, saya jadi teringat dengan suasana warung remang-remang yang kerap kali saya lewati tatkala masih menimba ilmu di Jawa Timur tepatnya Kabupaten Ponorogo dulu. Disebut warung remang-remang karena pencahayaannya yang tidak hampir gelap gulita ditambah suasana dimana hanya sesekali terlihat orang yang berlalu lalang dan lebih banyak yang mendekam didalam ruang-ruang  yang gelap gulita yang mana hanya dia, tuhan, dan setan yang tahu apa yang mereka lakuan. Ya, kondisi tersebut tidak jauh beda dengan kondisi  Sekretariat LEMA FISIP UNHAS sejak beberapa hari lalu. Sentrum kegiatan lembaga kemahasiswaan FISIP UNHAS tersebut  mngalami mati listrik sebahagian (karena hanya ruang rapat A dan B yang menyala, hal ini disebabkan sumber listrik kedua ruangan tersebut berbeda dari ruangan BEM, DEMA, HMJ, dan UKM).

Tentu saja kondisi tersebut membuat para penggiat lembaga ataupun mereka yang menggantungkan kehidupannya (tidur, makan, dan ganti baju) selama berkuliah di sekretariat LEMA mejadi ketar ketir. Untuk para pengurus lembaga, hal tersebut pastinya mengganggu gerak-gerak kelembagaan mereka. Sekretariat LEMA yang biasanya diperuntukkan untuk membuat hajatan organisasi ataupun sebagai ruang berdialektika membahas berbagai permasalahan harus gigit jari dan mencari tempat lain. Hal tersebut berlaku pula bagi mereka yang menjadikan sekretariat LEMA tidak hanya sekedar berlembaga tapi juga sebagai rumah sekaligus tempat nongkrong. Gelapnya sekretariat ditambah panas dan serangan nyamuk yang semakin merajalela memaksa mereka harus mengikhlaskan diri untuk mencari tempat ‘’mengungsi’’. Untuk mengatasi permasalah mati lampu ini, para pengurus lembaga baik BEM dan HMJ telah mencoba mengadukan permasalahan tersebut baik kepada mereka yang berada di fakultas maupun rektorat, tapi tanggapan pihak birokrat dari fakultas dan rektorat tidak pernah memuaskan sehingga berlarut-larut.

Mati lampu yang terjadi di Sekretariat LEMA FISIP UNHAS seakan menjadi potret ‘’mati lampunya’’ gerakan dan lembaga mahasiswa kini. Lembaga mahasiswa seakan terseok-seok dan terjebak di tengah kegelapan tanpa ujung. Sumber kekuatan lembaga mahasiswa yang utama yaitu mahasiswa itu sendiri seakan gelagapan menghadapi globalisasi yang terus menghadang dari berbagai penjuru. Disisi lain prestasi dan penghargaan pribadi menjadi tolak ukur dan pencapaian utama. Sebagai bekal mencari kerja katanya. Ditambah lagi nongkrong di tempat-tempat keren dan pusat perbelanjaan yang jauh dari kesulitan rakyat kecil menjadi kebanggaan pribadi, tak lupa dengan mengabadikannya di sosmed masing-masing. Tak lupa sesekali mencibir jika ada demo yang memacetkan jalan.

Kondisi tersebut diperparah oleh mereka yang menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan. Para penggiat lembaga mahasiswa seakan nyaman dengan apa yang mereka miliki di internalnya. Belum lagi kurangnya daya imajinasi dan kreatifitas mahasiswa dalam lembaga yang tidak bisa move-on dari rutinitas kegiatan yang lalu-lalu.  Para organisatoris lembaga merasa lebih nyaman menghardik mahasiswa baru yang lalu lalang di depan mereka dibanding resah dengan realitas sosial masyarakat yang semakin hari semakin kejam terhadap mereka yang tergolong masyarakat miskin kota. Merasa bangga dan superior sebagai pengurus lembaga tapi ketika diajak untuk diskusi dan menghadiri kajian malah lebih memilih main catur dan tebar pesona didepan adik-adik mahasiswa baru. Hal tersebut menjadikan lembaga mahasiswa ibarat singa berani kandang. Lantang mengaum di kandangya dan mencicit ketika menghadapi dunia luar.

Padahal sejatinya, lembaga mahasiswa sebagai lembaga yang mewadahi dan menghimpun mahasiswa dan merupakan garda terdepan dalam gerakan mahasiswa dapat membentuk jiwa kritis dalam diri anggotanya. Membentuk diri mahasiswa yang tegas dan memiliki keberpihakan dalam melihat fenomena. Tidak hanya dalam dunia maya, tetapai juga bergerak dalam aksi nyata. Artinya selain berkutat dengan teori, mahasiswa juga harus turun ke masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab intelektualnya demi menciptakan kesadaran akan kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Membuka ruang-ruang produksi gagasan dan ide alternatif serta membentuk media propaganda juga menjadi penting dilakukan guna memperkuat argumen dan memperluas kesadaran masyarakat.

Tentu saja opini penulis ini hanyalah bentuk keresahan dari dalam diri penulis terkait mati lampu yang berlarut-larut dan juga penulis sedang menjabat sebagai fungsionaris lembaga sehingga sedikit banyak tau kondisi lembaga kemahasiswaan. Paling tidak tulisan ini dapat menjadi bahan refleksi diri untuk lembaga penulis agar menjadi lembaga yang tidak hanya mapan dalam internal lembaga tapi juga cadas di dunia luar.

Alhamdulillah sampai detik terkahir tulisan ini diketik, permasalahan mati lampu di sekretariat LEMA  akhirnya menemukan titik cerah dengan menyalanya lampu di sekretariat LEMA, sehingga tidak berlarut-larut dan menyebabkan mereka yang frustasi menjadi beringas dan melakukan pengrusakan. Semoga ‘’mati lampu’’ yang lainnya juga dapat segera mendapatkan solusinya. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *