Review Diskusi Kontemporer: Kesiapan Negara-Negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos, Vietnam) Dalam Menghadapi ASEAN Economic Community

Fasilitator: Aji Akbar Sulaiman S.IP (HI 2011)

CLMV merupakan negara-negara anggota yang tergabung dalam ASEAN. Dalam mengkaji kesiapan CLMV tersebut terdapat dua konsep yang digunakan. Konsep yang pertama ialah Regionalism, sesederhananya regionalisme dapat diartikan sebagai interaksi antara aktor-aktor negara maupun non negara di wilayah yang sama. Menurut Mansbaach, regionalisme adalah pengelompokkan regional berdasarkan basis kedekatan geografis, budaya, perdagangan dan saling ketergantungan ekonomi yang saling menguntungkan atau interdependensi. Negara-negara yang memiliki kedekatan secara wilayah tersebut melakukan kerjasama sehingga terbentuk organisasi regional seperti ASEAN. Organisasi tersebut bersifat mengikat negara-negara yang ada didalamnya, hal tersebut dikarenakan organisasi tersebut memiliki struktur yang formal. Organisasi tersebut diarapkan dapat meminimalisir konflik atau pergeseran antar negara yang berada dalam wilayah yang sama tersebut. Akan tetapi, pada umumnya kebanyakan organisasi regional hanya mengintegrasikan ekonomi yang kemudian mengasilkan Free Trade.

Konsep yang selanjutnya ialah Liberalisme Ekonomi,  paham tersebut diartikan sebagai paham tentang kebebasan. Jadi setiap individu diberikan kebebasan dalam menentukan kehidupan perekonomiannya masing-masing. Liberalisme ekonomi tersebut muncul sebagai bentuk kritik terhadap merkantilisme. Liberalisme ekonomi tersebut kemudian dibagi kedalam liberalisme klasik dan neoliberalisme. Dalam liberalisme klasik dikenal salah seorang Bapak Liberalisme Ekonomi yaitu Adam Smith yang mengemukakan bahwa pemerintah atau negara tidak boleh ikut campur atau membatasi individu dalam kehidupan ekonominya. Selanjutnya ialah paham neoliberalisme, yang mengemukakan bawa negara harus ikut andil terhadap kebebasan seseorang dalam kegiatan ekonomi. Jadi negara dalam hal tersebut harus membuat regulasi atau peraturan, serta negara juga harus menjamin keamanan negara agar kegiatan ekonomi atau perdagangan dapat dilaksanakan.

Keterkaitan antara konsep yang telah dijelaskan tersebut dengan ASEAN ialah karena adanya kedekatan  atau kesamaan wilayah serta pernah dijajah oleh negara Eropa. ASEAN sendiri  terbentuk pada saat terjadi perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Negara ASEAN pun menjadi ajang persaingan ideologi. Sebelum terbentuknya ASEAN, terdapat organisasi seperti  Sout East Asian Treaty Organization (SEATO) dan Maphilindo. Akan tetapi, organisasi-organisasi tersebut tidak bertahan lama karena berbagai alasan. Melihat kegagalan-kegagalan tersebut, maka para pemimpin di Asia Tenggara terdorong untuk membentuk organisasi yang lebih baik daripada sebelumnya. Pada tanggal 8 Agustus 1967 ASEAN terbentuk. ASEAN sendiri pada awalnya membentuk ASEAN Vision 2020 dan pada KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan ASEAN Community. Komunitas ASEAN tersebut terdiri dari tiga pilar yaitu, ASEAN Political-Security Community/APSC, ASEAN Economic Community/AEC, dan ASEAN Socio-Cultural Community/ASCC.

ASEAN Economic Community sendiri terbagi menjadi 4 pilar yaitu, Single Market dan Production Base, High Competitiveness, Equitable Growth, dan Economic Integration to Globalitation. Kemudian pilar Single Market dan Production Base memiliki pilar ( Free Flow of Goods, Free Flow of Investment, Free Flow of Capital, Free Flow of Services, Free Flow of Skilled Labour). Dari pilar tersebut berisi tentang penghapusan hambatan perdagangan, dimana semua negara ASEAN harus menghapuskan segala bentuk hambatan perdagangannya. Hambatan perdagangan terdiri atas hambatan tarif (pungutan) dan hambatan non tarif ( kuota, embargo, pajak bea cukai). Tarif yang harus diterapkan ialah 0 % atau serendah-rendahnya sedangkan non tarif diupayakan tidak menyulitkan.

CLMV sendiri diberikan pengecualian diantara negara ASEAN lainnya, negara tersebut dapat menghapuskan hambatan tarifnya sampai dengan tahun 2018. Hal tersebut dikarenakan karena CLMV merupakan anggota baru di ASEAN dan kondisi perekonomkian negara tersebut berada dibawah ASEAN Six. Dalam kaitannya dengan hambatan tarif terdapat tiga indikator yang harus dihapuskan yaitu, (pajak bea cukai, persyaratan teknis & karakteristik pajak, dan ketentuan monopoli).

Selanjutnya akan dibahas hambatan tarif dari negara Kamboja. Kamboja saat ini memiliki hambatan tarif 0,72 %. Pajak bea cukai dirahasiakan, hal tersebut dikarenakan negara tersebut memiliki petugas tersendiri dalam memverivikasi barang-barang yang masuk di Kamboja. Sedangkan persyaratan teknis yang digunakan kamboja ialah Asycuda (daftar harga yang ditentukan WTO). Kemudian ketentuan monopoli yaitu BTG 13 artinya terdapat 13 broker yang telah mengikuti uji kelayakan. Selanjutnya Laos, saat ini Laos hambatan tarifnya sebesar 0,47 %. Sedangkan bea cukainya ialah AHTN (mengatur pajak bea cukai untuk negara-negara ASEAN, persyaratan teknis yang digunakan Asycuda dan ketentuan monopolinya bebas.

Adapun hambatan tarif Myanmar sebesar 0,2% dan pajak bea cukainya 0,5 %. Persyaratan teknis bersifat rahasia dikarenakan Myanmar memiliki departemen terkait yang menilai layak atau tidaknya suatu barang produksi. Karakteristik produk negara ini menggunakan standar Eropa dan ketentuan monopoli bersifat bebas. Adapun kebijakan domestik Myanmar ialah pemerintah meluncurkan strategi-strategi berupa (memobilisasi sumber daya alam dan sumber daya manusia secara merata di seluruh wilayah, membangun infrastruktur seperti perbaikan jalan, mendorong sektor pertanian seperti memberikan subsidi terhadap petani. Negara selanjutnya ialah Vietnam, negara ini memiliki tarif sebesar 0,8 %. Sedangkan pajak bea cukai yang diterapkan menggunakan tiga sistem yaitu sistem Prefential (bea cukai khusus dengan mitra dagang), Special Prefential (ASEAN), dan Ordinary. Persyaratan teknis yang digunakan ialah standar tersendiri terhadap produknya melalui kementerian perdagangan. Ketentuan monopoli yang digunakan ialah bebas, semua negara bisa melakukan impor asalkan terdaftar.Adapun strategi ekonomi yang diterapkan Vietnam yaitu mengurangi ekspor mineral mentah (barang mentah harganya lebih rendah daripada barang jadi atau setengah jadi), meningkatkan kualitas produk pertanian, peternakan, dan perikanan, serta meningkatkan industrialisasi.

Oleh: Aprilia Tria Utami

1 comment on “Review Diskusi Kontemporer: Kesiapan Negara-Negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos, Vietnam) Dalam Menghadapi ASEAN Economic Community”

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar