BREXIT : Ancaman atau Peluang Ekonomi bagi Inggris ?

Oleh : Abdul Rauf Rahmansyah (HI – 2013)

Uni Eropa adalah kemitraan regional dari 28 Negara di benua Eropa dalam hal ekonomi, politik, dan keamanan. Namun, kerjasama ini lebih ditekankan pada dorongan kerjasama ekonomi agar Negara – Negara di kawasan Eropa tak terlibat lagi dalam perang mengingat betapa hancurnya lingkungan mereka akibat dari Perang Dunia II. Perkembangannya pun menjadi pasar tunggal yang membebaskan perpindahan barang maupun orang secara bebas dari satu Negara ke Negara lainnya di lingkup Uni Eropa. Namun, hal ini tak sepenuhnya dianggap bermanfaat bagi sebagian orang – orang yang berada di Inggris. Maka dari itu, timbullah keraguan dalam persekutuan Negara mereka dengan Uni Eropa terkait hal tersebut yang sangat melekat pada sektor ekonomi. Dari situ tercipta istilah Brexit (British Exit). Keraguan dari para warga Inggris akan ditentukan pada referendum 23 Juni 2016. Fenomena ini adalah salah satu sorotan tertajam dunia internasional yang kini dihadapi Uni Eropa. Namun, isu ini bukanlah sesuatu yang baru karena Inggris pernah melakukan referendum terkait nasib keanggotannya di Komunitas Ekonomi Eropa (ECC) pada 1975 yang mana hasilnya adalah 67,2% suara menyatakan bahwa Inggris harus tetap menjadi anggota dari EEC itu sendiri. Referendum ini pun akan kembali digelar karena itu adalah janji kampanye dari Perdana Menteri Inggris, David Cameroon, jika ia memenangkan pemilu 2015, sebagai respon terhadap seruan anggota parlemen dari partainya, yaitu Partai Konservatif dan United Kingdom Independence Party (UKIP) yang menilai buruk pengaruh terkini Uni Eropa sejak Inggris menetapkan untuk bertahan di EEC pada 1975 karena hasil dari referendum. Namun, Uni Eropa kini memiliki banyak perubahan, yaitu kontrolnya yang sangat besar atas kehidupan sehari – hari masyarakat Inggris. Cameroon menyatakan bahwa ini adalah waktu bagi rakyat Inggris untuk mempertanyakan posisi Uni Eropa dalam politik Inggris (Wheeler dan Hunt, 2016).

Seperti yang dilansir BBC pada 12 Mei 2016, setelah kemenangan diraih oleh David Cameroon dalam pemilu 2015 di Inggris, terdapat berita besar pada bulan Januari dan Februari karena Cameroon mengupayakan sebuah persetujuan dengan pemimpin Uni Eropa lainnya untuk mengubah ketentuan keanggotaan Inggris. Beliau menawarkan kesepakatan yang mana dapat membuat orang Inggris memilih untuk tetap berada di Uni Eropa, memberikan status khusus kepada Inggris dalam mengelola urusan yang orang Inggris tidak sukai dari Uni Eropa, seperti tingkat tinggi dari imigrasi dan menyerahkan kemampuan mandiri untuk menjalankan urusan dalam negeri Inggris. Cameron telah menentukan empat sektor yang ingin dia reformasi, yaitu keuntungan para migran, perlindungan terhadap lebih banyaknya integrasi politik di Uni Eropa, perlindungan terhadap negara yang tidak menggunakan mata uang Euro seperti Inggris serta meningkatkan daya saing ekonomi (Jurnal Asia, 2016).

Berdasarkan uraian di atas, terdapat kesan bahwa referendum yang akan dijalankan di Inggris pada 23 Juni 2016 didorong oleh motif ekonomi. Menurut Muttaqiena (2016), mengutip dari The Economist, potensi dampak pada ekonomi Inggris terkait pelaksanaan referendum dapat berpengaruh pada :

  • Perdagangan Luar Negeri

Jika keluar dari Uni Eropa, Inggris dapat menegosiasikan hubungan dagang baru dengan Uni Eropa tanpa ikatan keanggotaan Uni Eropa, dan juga bias membuat kesepakatan dagang baru dengan Negara – Negara penting lain seperti Amerika Serikat, China, dan India. Jika tetap di Uni Eropa, Ekspor Inggris terhadap Negara – Negara lainnya di Uni Eropa dapat bebas dari tarif ekspor, hambatan non – tarif, dan kemudahan lainnya yang didapatkan dari Uni Eropa.

  • Iuran Keanggotaan Uni Eropa

Jika keluar dari Uni Eropa, Inggris dapat berhenti mengirim total 350 juta pounds tiap pekannya ke Uni Eropa dan mengalihkan penggunannya ke riset ilmiah dan pengembangan industri baru. Jika tetap di Uni Eropa, Ingris masih untung besar karena hanya membayar 340 pounds per rumah tangga per tahunnya ke Uni Eropa dan mendapatkan manfaat sekitar 3.000 pounds per tahun.

  • Regulasi Terpusat Uni Eropa

Jika keluar dari Uni Eropa, Inggris dapat mengambil alih regulasi tentang ketenagakerjaan, kesehatan, dan keamanan yang mana cenderung lebih disukai perusahaan – perusahaan Inggris (riset dari lembaga Business for Britain). Jika tetap di Uni Eropa, terdapat banyak regulasi Uni Eropa yang mengubah standar Inggris menjadi standar Eropa sehinnga mengurangi hambatan non – tarif dan menguntungkan bisnis Inggris. Inggris juga dapat memperjuangkan regulasi yang lebih baik di ranah Uni Eropa.

  • Imigrasi

Jika keluar dari Uni eropa, Maka Inggris dapat menyingkirkan sistem imigrasi Uni Eropa yang telah memaksa Inggris untuk membuka pintu bagi imigran dari sesama Negara Uni Eropa yang terindikasi memiliki kualitas SDM yang meragukan serta menyambut imigran non – Uni Eropa yang memungkinkan untuk berkontribusi lebih besar. Di sisi lain, meninggalkan Uni Eropa tak lantas membuat arus imigrasi akan berkurang.

  • Peran Internasional

Jika keluar dari Uni Eropa, Inggris dapat mengambil alih sendri kursi – kursi di lembaga internasional dan memposisikan diri sebagai Negara berpengaruh dalam perdagangan bebas dan kerjasama internasional. Jika tetap di Uni Eropa, Inggris hanya dapat diwakili oleh dua orang yang terdiri dari perwakilan dari Inggris sendiri dan perwakilan dari Uni Eropa.

Pada akhirnya dapat kita simpulkan bahwa fenomena referendum Inggris terhadap status keanggotannya di Uni Eropa menuai banyak paradoks.Mulai dari inkonsistensi pemimpinnya dalam membuat dan menjalankan kebijakannya serta masing – masing dampak ekonomi yang akan terjadi memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Kita juga dapat menyatakan bahwa corak dari keinginan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa ialah merkantilis dimana kepentingan nasional dari Inggris seharusnya lebih diperjuangkan daripada pengaruh Uni Eropa yang tertancap di Inggris terlihat dari keinginan untuk mandiri dalam membuat regulasi bagi tenaga kerja dari luar Inggris, pemberian ruang yang lebih bagi perusahaan – perusahan Inggris dalam bidang jasa seperti kesehatan dan keamanan serta berperan lebih independen bagi Inggris dalam memperluas pengaruhnya di politik internasional terkait dengan perekonomian.

 

Referensi :
Jurnal Asia. 2016. Terkait Rencana Brexit | PM Inggris Cameroon Temui Presiden Uni Eropa. http://www.jurnalasia.com/2016/02/01/terkait-rencana-brexit-pm-inggris-cameron-temui-presiden-uni-eropa/. 15 Mei 2016 (23:06 WITA).

Muttaqiena, A. 2016. Seluk Beluk Brexit: Potensi Dampak Pada Ekonomi Inggris Dan Poundsterling. http://www.seputarforex.com/berita/forex/editorial/detail.php?id=260579&title=seluk_beluk_brexit_potensi_dampak_pada_ekonomi_inggris_dan_poundsterling. 15 Mei 2016 (23:46 WITA).

Wheeler, Brian dan Alex Hunt. 2016. The UK’s EU referendum: All you need to know. http://www.bbc.com/news/uk-politics-32810887. 15 Mei 2016 (20:27 WITA).

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar