Selamat(kan) Hari Buku

Oleh: Rial Ashari (HI 2012)

Ada suatu penyakit yang menyebar di kalangan pemuda masa kini. Manusia-manusia yang lahir dari rahim era teknologi informasi ini, mengidap penyakit alergi terhadap teks panjang. Mereka memang bisa liar menjelajah dunia maya yang penuh dengan informasi. Tapi bukan soal informasi apa yang dapat dicerna di internet, media sosial atau blog, melainkan informasi mana yang lebih menarik, lebih eye-catching. Tanpa kecuali, peselancar dunia maya menyukai humor. Buktinya siapa yang tidak pernah membuka/mendengar akun 9GAG, 1CAK dan teman-teman sejenisnya. Tidak cukup dibaca, humor-humor segar tersebut biasanya menyediakan gambar-gambar yang kocak (kita sebut saja ia meme). Dan, inilah yang banyak menghiasi timeline akun-akun media sosial anak-anak muda. Kalau “sesuatu” itu tidak mengandung unsur-unsur kelucuan, maka ia tak akan dibaca lama-lama. Jangankan sebuah buku, status facebook yang kepanjangan saja orang akan bisa malas membacanya sampai habis.

Padahal di internet sudah sangat banyak sumber-sumber informasi, portal-portal yang menyediakan ruang berdiskusi tentang banyak hal terutama fenomena sosial politik (semoga kita juga tidak alergi yang satu ini). Namun sayangnya kondisi ini tidak menjamin orang-orang menjadi pembaca yang telaten, malah keberlimpahan informasi membuat semakin sulit membedakan mana teks yang “berguna” dan mana yang sekedar membuat tertawa tanpa muatan ilmiah. Inilah yang saya maksud sebagai alergi teks.

Tanggal 23 April kemarin diperingati sebagai hari buku sedunia. Tidak perlu dijelaskan lagi arti penting buku dan arti penting membaca, terutama bagi pelajar, mahasiswa, dosen bahkan untuk seorang ibu rumah tangga. Kata guru saya, buku adalah jendela dunia. Dan memang seperti itulah adanya. Membaca buku (bukan meme ataupun antologi puisi), menjadi syarat aktifitas keilmuan lainnya yakni menulis dan berdiskusi. Mustahil bisa menulis skripsi kalau tidak membaca buku dulu, dan adalah konyol memperdebatkan marxisme sebelum membaca tulisan-tulisan Marx sendiri. Kira-kira seperti itulah. Untuk menjadi seorang pembaca yang baik, uniknya, seseorang harus menjadi semi-asosial. Bagaimana tidak, membaca buku adalah susah, kalau bukan tidak mungkin, sambil mengobrol dengan teman. Ditambah lagi ketika membaca buku, seseorang harus mengasingkan diri dari lingkungan untuk menghindari hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi. Namun dengan membaca buku, di saat bersamaan seseorang akan dapat berjumpa dengan orang-orang dan melihat peristiwa yang diceritakan dalam buku. Pengalaman ini bukan pengalaman aktual langsung, namun tetap bisa digolongkan sebagai bersosialisasi (baca: pengalaman literasi).

Kemampuan membaca, bila kita tahu sedikit sejarah abad pertengahan eropa, bisa jadi adalah kemampuan yang paling kita syukuri saat ini. Serangan kaum barbar dari utara dan kehancuran kerajaan Roma, mengubur kebudayaan klasik (termasuk menghilangkan literasi) dan mengantar eropa ke abad kegelapan. Pada masa itu, secara misterius penggunaan aksara Roma menyusut sedmikian rupa sampai penduduk pada umumnya berhenti membaca dan menulis. Literasi yang sebelumnya tersebar luas, perlahan hanya dikuasai segelintir orang yang membentuk “kelas penulis”, dan karenanya ia kelas istimewa. Satu dugaan yang diajukan atas lanskap fenomena ini, adalah selama abad pertengahan, gaya penulisan huruf dan aksara yang berlipat ganda, bentuk- bentuknya makin rumit dan samar. Kaligrafi yang ada pada saat itu menarik karena bentuknya, lantas menghilangkan kemampuan masyarakat luas untuk membaca. Hal ini karena membaca adalah praktik yang harus berlangsung secara cepat dan otomatis, serta huruf-huruf yang dibaca harus mudah diingat sebagai syaratnya. Keahlian kaligrafi inilah yang kontradiktif dengan praktik membaca secara luas. Masyarakat eropa saat itu dilanda ketidakmampuan menginterpretasikan aksara dan hal ini berlangsung ribuan tahun. Bersamaan dengan itu, di jaman ini segala interaksi sosial yang penting dilakukan secara lisan, tatap muka. Aktifitas seperti khotbah, drama dan penyampaian puisi, balada dan dongeng lah yang memasyarakat.

Selain itu, faktor yang menyebabkan punahnya literasi sosial juga adalah langkanya papirus dan lembaran kulit sebagai bahan yang memuat teks. Barulah setelah ditemukannya kertas muncul pula universitas-universitas besar. Satu hal lagi, cara membaca orang abad pertengahan kira-kira sama dengan anak kelas satu sekolah dasar hari ini. Kata demi kata, bergumam, jari menunjuk teks dan tidak yakin yang dibacanya masuk akal. Dan, yang melakukan ini adalah para cendekia. Sungguh, orang jaman itu susah membaca. Bersyukurlah kita hari ini yang melek huruf.

Kondisi manusia jaman ini bertolak belakang dengan jaman pertengahan eropa. Hampir semua orang melek huruf. Hampir tiap orang setiap beberapa menit melihat ke smartphone di tangannya. Pertanyaannya, teks atau konten apakah yang ia baca paling sering? “Kaligrafi” jaman ini (mungkin) adalah meme, lirik lagu, pornografi, drama korea, kartun-kartun anime dan semua hal yang tidak mengandung pelajaran tentang situasi ekonomi dan sosial-politik aktual umat manusia hari ini. Akhirnya, saya mengaku juga sedang terdiagnosa penyakit alergi teks ini, buku setipis Manifesto tidak mampu saya selesaikan berbulan-bulan. Opini di atas sekiranya dikritik dan/atau dibantah sekeras-kerasnya. Selamat hari buku, mari membaca lagi.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar