Manusia dan Moralitasnya

(oleh: Ignasius Priyono-2010)

Dalam kehidupan manusia, terlalu banyak pertanyaan yang mengemuka terkait identitas manusia itu sendiri. Kita ambil contoh, pertanyaan yang sering ditanyakan dalam diskusi diskusi filsafat, “apa yang membedakan manusia dengan binatang?” Terkesan pertanyaan ini ingin menegaskan bahwa manusia memang bukan binatang, tetapi bisa juga bahwa tendensi pertanyaan ini adalah mencari-cari hal yang sebenarnya tidak ada. Maka dalam bahasa Latin, sering kita mendengar pepatah ini; homo ratio animale est. Manusia adalah binatang yang berpikir. Pembeda antara manusia dan binatang adalah ratio. Manusia itu berpikir, dan karena berpikir dia (mestinya) rasional. Tidak hanya itu, manusia (juga hewan) memiliki pengalaman indera yang melengkapi rasionya. Tidak seperti binatang yang hanya punya insting plus pengalaman indera.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang membedakan manusia dari binatang adalah bahwa manusia itu punya kehendak bebas (free will). Doktrin ini mengarahkan kita pada karya para teolog Kristen abad pertengahan seperti St. Agustinus dari Hippo dan St. Ireneus. Dalam perlawanannya terhadap kaum bidaah Heresies, St. Ireneus menuliskan tentang kehendak bebas, “manusia itu berakal budi dan karena ia citra Tuhan, diciptakan dalam kebebasan, ia tuan atas tingkah lakunya.” Selanjutnya bahwa kehendak bebas ini banyak disalahartikan dan menjadi polemik tersendiri, apalagi jika dikaitkan dengan perintah Tuhan, “…replete terram et subicite eam et dominamini piscibus maris et volatilibus caeli et universis animantibus quae moventur super terram…”

Jika memang itu yang membedakan manusia dengan binatang, lalu apakah yang membuatnya sama? Morgenthau menggunakan istilah animus dominandi, bahwa dalam diri manusia ada hasrat ingin menguasai, seperti yang ditemukan pada diri binatang. Sepanjang sejarah, manusia berusaha menguasai alam sekeliling untuk kepentingannya. Menanam benih untuk persediaan makanan, berburu hewan kemudian menjinakkannya, dan segala tindakan yang menunjukkan kehendak untuk menguasai lainnya. Hasrat menguasai ini timbul semata-mata untuk mempertahankan spesies manusia dari kepunahan.

Bukan alam dan hewan saja yang berusaha dijinakkan, tetapi juga manusia-manusia lainnya. Bangsa-bangsa besar seperti Mesir, Persia, dan Yunani pernah berusaha memperluas dominasi imperiumnya. Menaklukkan bangsa-bangsa lain dengan peperangan dan kekerasan. Bangsa-bangsa tersebut didomestikasi kemudian dijadikan sebagai budak demi kepentingan imperium-imperium besar tersebut.

Pertanyaan bagi kita adalah; apakah upaya “domestikasi” manusia itu masih berlangsung hingga saat ini?

Jawabannya ya. Hasrat animus dominandi itu masih terus tersalurkan. Namun, bukan lewat cara-cara barbar seperti penaklukan dengan kekerasan. Masyarakat moderen menggunakan moralitas untuk menunjukkan will to power-nya terhadap manusia dan mahluk lainnya. Dosa masyarakat moderen inilah yang berusaha dibongkar oleh Nietzsche. Melalui genealogi moral nya, Nietzsche berusaha menjungkirbalikkan tatanan nilai lama yang sebenarnya sudah usang dan tidak berguna lagi bagi manusia. Ketidakbergunaan itu terindikasi dari semakin lemah dan dekadennya manusia moderen, manusia yang butuh nilai fix untuk membuat dirinya sendiri utuh.

Nietzsche adalah filsuf pemberontak. Dia memberontak dari tradisi filsafat pada masanya, di mana para filsuf hanya berkutat pada tema hakikat benar-salah atau baik-jahat. Para filsuf inilah yang menjadi sasaran kritik Nietzsche. Menurutnya, filsafat seharusnya sudah harus melampaui itu, beyond good and evil. Benar, salah, baik, jahat merupakan nilai yang dihasilkan dari tindakan. Tetapi, yang terpenting dari itu semua adalah apa yang dimaksud kata “baik, jahat, benar, dan salah” itu.

Manusia adalah mahluk yang selalu ingin mengutuhkan dirinya. Selalu ada kekurangan yang menggelisahkannya, sehingga manusia perlu sesuatu untuk membuat dirinya utuh. Oleh karena itu, dalam hal ini Nietzsche memandang moralitas dan nilai sebagai seluruh persoalan yang memiliki kaitan dengan keberdayaan dan ketidakberdayaan subjek untuk mengutuhkan dan mendominasi hidupnya sendiri. Jadi, bukan hanya sekedar persoalan benar-salah, baik-jahat semata.

Kehadiran manusia selalu meniscayakan adanya kelompok manusia. Biasanya dalam kelompok tersebut terdapat pemimpin yang jumlahnya sedikit diikuti dengan massa rakyat yang jumlahnya lebih banyak. Untuk menyatukan masyarakat ini maka diciptakanlah moralitas. Moralitas adalah hasil konstruk sosial untuk mempertahankan spesies masyarakat itu dari kepunahan, oleh karena itu moralitas selalu bersifat kawanan.

Asal-usul moralitas itu sendiri dapat ditelusuri. Menurut Nietzsche, moralitas berasal dari “tradisi”. Biasanya tradisi dilekatkan dengan nilai yang berasal dari nenek moyang, leluhur, atau wahyu Tuhan. Dengan begitu, moralitas kemudian dibuat menjadi semacam produk tahyul yang tidak bisa lagi dipertanyakan kebergunaannya dan harus dipatuhi. Jika tidak dipatuhi, maka akan mendatangkan konsekuensi. Jadi, dapat dikatakan bahwa imoralitas (sebagai lawan dari moralitas) adalah tindakan atau pemikiran yang tidak berada dalam jalur tradisi.

Moralitas akhirnya meniscayakan kepatuhan. Karena barangsiapa yang bertindak di luar tradisi dan moralitas adalah subjek yang melawan atau menegasikan kelompok. Manusia lemah, menerima begitu saja moralitas tersebut. Karena kebutuhan manusia adalah aktualisasi dan penerimaan, maka itu dia harus menerima moralitas itu tanpa mempertanyakannya lagi supaya dia terhitung sebagai anggota kelompok itu. Demikian bahwa kepatuhan menjadi hal yang alamiah bagi manusia yang diintroduksi ke dalam dirinya semenjak dia lahir.

Kepatuhan sebagai hasil dari moralitas kawanan adalah berguna untuk menjaga kelompok dari musuh yang berasal dari luar kelompok. Tetapi, jika musuh dari luar tidak ada lagi, maka yang dicari adalah musuh yang berada di dalam kelompok, yaitu mereka yang kuat yang kehidupannya tidak mau mengikuti tradisi. Eksistensi subjek macam ini dianggap sebagai musuh dan akan menggoyahkan moralitas yang sudah mapan sehingga harus dibatasi dengan moralitas tersebut. Dengan demikian, moralitas adalah “pagar yang mengelilingi sebuah peternakan manusia-patuh”.

Misalnya, adalah sebuah kebiasaan yang lumrah dalam budaya Timur bagi orang tua untuk menjodohkan anak gadisnya dengan lelaki pilihan mereka. Ada nilai yang terkandung dalam perjodohan tersebut dan dipandang sebagai moralitas dalam kelompok kebudayaan Timur (misalnya nilai hormat pada orang tua). Tidak dimungkinkan adanya gadis yang menolak moralitas ini, sebab jika dia berlaku demikian maka dia dinilai menodai moralitas yang sudah mapan dan dicap sebagai wanita pembangkang yang tidak hormat orang tua. Apalagi, moralitas tersebut dianggap sebagai “menjalankan perintah” pihak lain (misalnya Tuhan), sehingga tidak melakukannya berarti melawan pihak lain tersebut dan akan mendatangkan konsekuensi.

Dalam masyarakat patuh macam ini, terdapat kesamaan, yaitu penilaian terhadap tindakan sebagai konsekuensi dari berlakunya moralitas. Standar penilaian orang adalah moralitas yang berlaku pada kelompok masing-masing. Sehingga tindakan yang dinilai baik atau benar adalah tindakan yang berguna, yang dapat melestarikan kehidupan kelompok mereka. Sementara tindakan yang jahat atau salah adalah tindakan yang menghancurkan kelompok.

Dari genealogi moral di atas, Nietzsche kemudian mempertanyakan kesahihan penilaian moral tersebut. Under what conditions did man invent the value judgements good and evil? Di sinilah letak permasalahan yang dimaksudkan Nietzsche. Kealpaan manusia yang paling fatal adalah mengidentikkan tindakan dengan konsekuensinya dan menukar akibat sebagai sebab.

Misalnya kita gunakan premis, “Patuh pada pemerintah, maka akan sejahtera.” Makna dari premis tersebut adalah: jika rakyat patuh terhadap pemerintah (penyebab) akan mendatangkan kesejahteraan (konsekuensi/akibat). Berarti bahwa tindakan patuh tersebut jika dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Permasalahannya adalah jika kita mengidentikkan tindakan dengan konsekuensi maka premisnya akan berubah seperti ini: “karena kesejahteraan itu bagus, maka rakyat harus patuh pada pemerintah”. Pada premis ini, setiap perbuatan patuh kepada pemerintah adalah perbuatan yang baik karena kesejahteraan diartikan sebagai penyebab dari tindakan patuh. Karena sejahtera, maka harus patuh, bukan malah sebaliknya; patuh akan mendatangkan sejahtera.

Penalaran semcam inilah yang telah menjangkiti masyarakat. Bahwa ternyata, penilaian kita terhadap moralitas itu hanya berdasarkan prasangka saja. Kita berprasangka bahwa segala tindakan itu baik ataukah buruk berdasarkan akibat yang mendahuluinya (penukaran akibat menjadi sebab).

Pertanyaannya adalah, sebagai mahluk rasional, apakah manusia hanya mendasari penilaian moralnya berdasarkan prasangka saja? Jawabannya menarik, bahwa prasangka moral tersebut ternyata didasari pada hasrat instingtual manusia saja, alih-alih pertimbangan rasional. Sudah dikatakan di awal, bahwa moralitas itu digunakan manusia sebagai sarana pengutuhan dirinya yang dekaden, lemah, loyo, dan lesu. Bahwa manusia selalu ingin mengutuhkan dirinya dari sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang tidak fix.

Misalnya jika manusia dihadapkan pada pilihan “surga atau neraka”, maka manusia akan memilih surga. Tapi apakah rasio itu adalah surga? Apakah segala yang baik itu adalah rasio? Ini hanyalah dorongan insting manusia, hanya memilih moralitas yang baik karena dirinya sendiri lemah dan butuh dilengkapi oleh moralitas tersebut. Oleh karena itu, penilaian moral baik dan jahat itu adalah mekanisme psikologis manusia akibat dorongan insting untuk selalu menyatukan dirinya yang chaotic.

Pada fitrahnya memang manusia adalah mahluk yang lemah. Tetapi, apa yang membuat manusia itu dekaden adalah tergantung pada sikapnya terhadap kehidupan ini. Manusia lemah senantiasa mencari sesuatu di luar dirinya untuk melengkapi dan mengutuhkan dirinya. Tindakan ini adalah tindakan yang melawan kehidupan, mengharapkan sesuatu dari luar kehidupan untuk menghidupkan kehidupan itu sendiri. Tetapi Ubermensch, manusia yang kuat, tidak perlu sesuatu dari luar dirinya untuk menyatukan dan mengutuhkan dirinya. Motivasi dan tindakannya selalu berasal dari dirinya sendiri tanpa paksaan pihak lain.

Jadi, apakah kita adalah manusia hasil dari domestikasi?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar