Menengok Kembali Eksistensi Uni Eropa dalam menghadapi Krisis Moneter di Yunani

Oleh : Abdul Rauf Rahmansyah (HI 2013)

Uni Eropa adalah perwujudan regionalisme yang menjadi sebuah panutan dalam perkembangan kerjasama regional. Pendirian kerjasama regional ini secara sempurna mulai disusun dalam Perjanjian Maastricht pada tanggal 7 Februari 1992 dan mulai terlaksana pada tanggal 1 November 1993. Salah satu pilar kerjasama Uni Eropa adalah pilar ekonomi yang berorientasi pada kesatuan ekonomi dan moneter. Pilar ini pun dilembagakan secara supranasional di Uni Eropa yang bernama Bank Sentral Eropa (European Central Bank). Lembaga ini bertanggung jawab atas kebijakan moneter Uni Eropa yang salah satu implementasinya adalah Zona Euro (Eurozone). Eurozone adalah istilah untuk negara-negara anggota Uni Eropa yang telah mengadopsi Euro sebagai satu-satunya mata uang resmi. Penerapan konsep Eurozone ini pertama kali dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 1999 dan kini telah diikuti oleh 19 Negara anggota Uni Eropa.

Uni Eropa mengalami berbagai tantangan di dalam kawasannya selama beberapa tahun silam. Salah satunya adalah tantangan ekonomi khususnya pada  krisis moneter yang terjadi di Yunani sejak tahun 2009 dan adanya wacana tentang keinginan Yunani untuk keluar dari Eurozone, Greek Exit (Grexit). Krisis tersebut pun mempengaruhi para negara anggota Uni Eropa lainnya. Penyebab dari krisis moneter Yunani adalah ketidakmampuan pemerintah Yunani dalam melakukan pembayaran utang yang menumpuk sehingga membuat keuangan negara mengalami defisit yang sudah tidak wajar dari batas yang ditentukan (defisit 4 kali lipat) menurut sistem Eurozone. Masalah ini pun berefek-domino karena setelah mempengaruhi perekonomian Uni Eropa, gejala ini juga berimbas pada pasar saham global mengingat Uni Eropa adalah salah satu key-player dalam roda ekonomi global.

Uni Eropa bersama negara-negara anggotanya berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengatasi gejolak krisis yang tengah dihadapi. Pengaruh perpolitikan turut pula mewarnai penyelesaian masalah krisis keuangan ini. Kucuran dana pinjaman menjadi salah satu opsi yang ditawarkan Uni Eropa untuk mengatasi permasalahan ini. Namun, pinjaman atau bail out untuk Yunani ini masih menuai sejumlah kontroversi dan perdebatan di antara negara-negara Uni Eropa tersebut. Hal ini
berkaitan dengan kemampuan Yunani untuk mengembalikan pinjaman ini dan melakukan pengetatan anggaran di dalam negerinya. Pada Juli 2015, akhirnya melalui referendum 51% rakyat Yunani menyatakan untuk tidak menerima tawaran bail out dari pihak kreditor (Uni Eropa, IMF, dan Bank Sentral Eropa) yang mengisyaratkan adanya austerity (pengetatan anggaran) di Yunani karena hal itu dinilai semakin menyengsarakan perekonomian domestik bagi rakyat Yunani. Tetapi, tidak berarti bahwa rakyat Yunani ingin keluar dari Eurozone seperti yang diprediksikan pihak kreditor. Alasannya adalah Jika Yunani keluar dari zona Eropa, dengan tingkat pengangguran saat ini mencapai 21,7%, maka Yunani akan jauh lebih menderita, mata uang Yunani, Drachma, akan jatuh hingga 50 % lebih terhadap Euro yang membuat rakyat Yunani akan mencoba menarik uang Euro di akun bank sebelum mengonversikan ke Drachma yang nilainya jauh di bawah Euro, para pemegang saham di Yunani juga akan menjual saham mereka dengan alasan yang sama karena ketika pasar keuangan jatuh dan deposito hilang, bank pasti akan kolaps, dan perusahaan-perusahaan Yunani yang mempunyai utang dalam Euro dari peminjam luar negeri, misalnya, akan menyaksikan utang mereka akan naik berlipat ganda.

Jika dinilai dalam Drachma serta tidak ada kemungkinan lain bagi Yunani kecuali bangkrut. Jika bangkrut, akan mendatangkan kerugian besar bagi 17 Negara pengguna mata uang Euro karena sebagian negara di kawasan itu, terutama Prancis dan Jerman, merupakan kreditor atau pemegang obligasi pemerintah Yunani (DW, 2011). Hal ini membuktikan bahwa meskipun belum terlalu optimal dalam menyelesaikan masalah krisis yang terjadi di Yunani dan berpengaruh secara regional maupun internasional, Uni Eropa tetap berusaha meredam agresivitas nasionalisme ataupun sensitivitas kedaulatan Yunani yang disebabkan oleh masih ada kesediaan rakyatnya dalam menyerahkan sebagian kedaulatannya, khususnya di bidang moneter (ekonomi) ke dalam Uni Eropa sebagai badan supranasional.

Referensi :

Habibie, Ergy Ghulam. 2013. Hambatan dan Tantangan Uni Eropa dalam
Penyelesaian Krisis Yunani.
http://ergy-g-h-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-82048-MBP%20Eropa-Hambatan,%20dan%20Tantangan%20Uni%20Eropa%20dalam%20Penyelesaian%20Krisis%20Yunani%20.html#.
31 Maret 2016 (21:23 WITA).

DW. 2011. Apa yang Terjadi bila Yunani Keluar dari Zona Eropa.
http://www.juruscuan.com/market-focus/134-apa-yang-terjadi-bila-yunani-keluar-dari-zona-eropa.
31 Maret 2016 (22:41 WITA).

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar