Philantro-Capitalism

Oleh : Muhammad Fajar Nur – HI 2013

(Review Diskusi Kontemporer HIMAHI FISIP UNHAS 24 Februari 2016)

Muncul pada terbitan majalah The Economist edisi 23 Februari 2006, istilah philanthro-capitalism menjadi populer sebagai istilah yang digunakan para orang-orang “berduit-lebih” dalam menyelesaikan permasalah sosial yang ada. Sebelum memasuki apa philanthro-capitalism dan bagaimana philanthro-capitalism bekerja, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa paham dibalik istilah tersebut.

Kapitalisme adalah paham yang menjelaskan bahwa sistem ekonomi berpusat pada capital atau modal dan merupakan sistem ekonomi yang terus populer semenjak revolusi industri. Terdapat tiga karakter yang dapat diambil dari kapitalisme terhadap diskusi lahirnya philanthro-capitalism. Karakter pertama yaitu private ownership yang berarti kapitalisme setuju bahwa setiap individu mempunyai hak dalam memiliki sebuah properti baik material hingga ide. Hak paten merupakan contoh nyata di mana kepemilikan pribadi sangat dijunjung tinggi dalam kapitalisme yang menyebabkan terbatasnya ruang gerak seseorang dalam berkembang akibat adanya hambatan terhadap kepemilikan yang telah diklaim seseorang terlebih dahulu. Karakter kedua yaitu competitive market yang menunjukkan bahwa jika seseorang berhak memiliki properti-nya masing-masing, seseorang juga harus berkompetisi di pasar sebebas-bebasnya tanpa adanya hambatan ataupun pengaruh dari pemerintah. Dan karakter terakhir dari kapitalisme yaitu profit oriented atau bertujuan mendapatkan keuntungan yang berarti aktifitas pasar, harus menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya.

Tiga karakter kapitalisme di atas akan menjadi landasan pembahasan yang diiringi dengan definisi dan karakter philanthropy. Dari segi bahasa, philanthropy berasal dari bahasa latin yaitu philos yang berarti mencinta dan anthropos yang berarti manusia. Philanthropy secara keseluruhan dapat diartikan sebagai cinta manusia atau social-oriented, namun pada definisi modern philanthropy dapat diartikan pula sebagai niat pribadi yang bertujuan untuk kebaikan publik yang memfokuskan pada kualitas kehidupan masyarakat. Singkatnya, philanthropist (istilah seseorang yang melakukan kegiatan philanthropy) adalah orang yang berinisiatif menolong masyarakat banyak. Namun, apa yang membedakan pertolongan philanthropy dengan alternatif lain yang kita punya di status quo? Pertanyaan yang sering muncul ini dijawab dengan singkat oleh philanthropist. Jika ada seorang bapak yang kelaparan, pertolongan digunakan oleh pihak selain philanthropist (seperti badan amal, CSR dan lain sebagainya) yaitu dengan memberikan ikan yang dia bisa makan. Namun philanthropist menolong bapak itu dengan mengajarkannya cara memancing ikan. Philanthropy muncul tidak sebatas “menyembuhkan luka” dari sebuah peristiwa, namun lebih menjurus ke penanganan dari akar permasalahan

Setelah mengetahui apa kapitalisme dan bagaimana philanthropy bekerja, ini saatnya kita mengetahui sejarah terbentuknya philanthro-capitalism. Bermula di Britain pada tahun 1601. Para orang kaya di Britain yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian menolong orang lain dengan kerjasama pemerintah dan badan non-profit lainnya. Hal ini dilakukan di atas kontrak yang diciptakan oleh pemerintah dan disetujui oleh philanthropi. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa kecewa dan kurang puas muncul terhadap metode ini. Pertama, menyadari bahwa kemampuan pemerintah yang kurang, atau bahkan lebih miskin dari philanthropi, membuat posisi pemerintah di depan philanthropi bukanlah hal yang isteimewa dipertahankan. Kedua, akibat persetujuan ini, membuat kecewa para philanthropi yang merasa terlalu bergantung pada kontrak pemerintah yang membatasi aksi menolong mereka yang hanya terbatas sampai lima tahun dan harus diperpanjang jika ingin meolong lagi, pemikiran individu yang bebas dari philanthropi-pun mulai memberontak. Ketiga, ketidak efektifan metode yang digunakan saat itu membuat banyak philanthropi kecewa. Contoh tidak efektifnya adalah terlalu banyaknya diskusi politik dan kepentingan-kepentingan yang muncul yang membuat waktu dan energi yang dihabiskan terlalu banyak dalam metode ini. Atau permasalahan yang diselesaikan oleh metode ini tidak sesuai dengan parameter kepuasan philanthropi yang menganggap beberapa kasus lebih penting untuk diselesaikan dibandingkan menyelesaikan semua masalah yang berdampak pada distribusi modal yang akhirnya tidak sesignifikan jika difokuskan pada beberapa masalah prioritas saja. Akibatnya, kekecewaan ini menciptakan banyaknya badan-badan philanthropy seperti Harlem Children’s Zone yang muncul diakhir 1990 dan masih bertahan hingga sekarang.

Seiring berkembangnya waktu dan berkembangnya ekonomi internasional, abad ke 19 menjadi abad meningkatnya philanthro-capitalism. Dalam the economist, terdapat tiga alasan mengapa philanthro-capitalism menjadi trend sekarang. Pertama, untuk menolong orang, harus ada sesuatu yang bisa kita tanamkan, yang menciptakan label social-oriented. Ketika kita terlahir ataupun berhasil menjadi seorang kapitalis yang dibanjiri oleh harta melimpah, ketenaran ataupun status sosial kita harus mempunyai labe orang baik, karena semua manusia menyukai orang baik. Kedua, jika pasar membutuhkan infrastruktur untuk berjalan, begitu juga pertolongan kemanusiaan. Beranggapan bahwa kita tidak bisa membantu orang miskin keluar dari kemiskinan jika kita sendiri terjebak dengan kemiskinan itu menjadi landasan utama bahwa tidak ada salahnya jika ketika kita menolong orang  dan diwaktu yang sama kita pun tertolong menjadi lebih kaya. Inilah titik terbesar poin justifikasi meningkatnya metode kapitalisme dalam penyelesaian permasalahan sosial. Ketiga, philanthropi harus berpikir seperti investor, karena hadir bukan meringankan beban namun menyelesaikan masalah, philanthropi harus berpikir long-term sollution yang berarti long-term spending harus bisa berjalan dengan lancar. Akhirnya, untuk membuat perubahan yang besar dalam sosial, harus memaksimalkan social return. Ini yang meyebabkan kenapa para philanthropi merambah tidak hanya satu isu sosial saja, bahkan isu-isu yang belum disentuh pemerintah merupakan isu penting untuk diselesaikan bagi philanthropi agar perubahan sosial terjadi seperti pada isu perempuan dan lingkungan yang minim akan bantuan.

Setelah mengetahui karakteristik philanthro-capitalism, saatnya mengetahui bagaimana cara kerjanya. Poin terbesar dari cara kerja philanthro-capitalism adalah independency. Yang membedakan philanthro-capitalism dengan alternatif badan sosial tidak hanya dari cara mereka melihat penyelesaian sebuah masalah, namun cara mereka bekerja. Mengambil contoh XL future leader dan beasiswa djarum merupakan salah satu metode untuk menyelesaikan permasalahan sosial, namun tindakan itu belum dapat dikategorikan philanthropi karena kegiatan itu tidak lepas dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang diwajibkan oleh pemerintah terhadap sebuah perusahaan. Poinnya, kegiatan itu mengatasnamakan bisnis dari perusahaan tersebut, dengan campur tangan pemerintah. Sedangkan philanthropi bekerja independen yang membuatnya lebih bebas memilih metode apa, siapa, bagaimana dan berapa banyak uang yang mereka harus habiskan (walau pada poin terakhir bukan permasalahan bagi philanthropi-capitalism yang terkenal kaya bahkan jika dibandingkan dengan beberapa negara). Dapat dilihat pada contoh Zuckerberg Foundation yang diciptakan oleh Mark dan istrinya, Chan, yang tidak mengatasnamakan Facebook dan tidak membawa label bisnis terhadap badan philanthropinya, atau pada contoh Gates Foundation yang dibuat oleh Bill dan Melinda gates, pasangan yang mendapatkan keuntungan dari Microsoft. Pada poin independen inilah para philanthropi berhasil menghindari pajak. Sama halnya dengan institusi agama yang juga tidak dikenakan (atau setidaknya dikurangi) biaya pajak, philanthropi  mendapatkan keisitimewaan ini juga karena berhasil menolong pemerintah menyelesaikan sesuatu yang pemerintah tidak bisa lakukan (dalam hal ini institusi agama menyediakan nilai-nilai keagamaan dan ajaran keagamaan dan philanthropi menyelesaikan masalah yang belum tersentuh oleh pemerintah).

Prinsip dasar dari Philanthro-capitalism terkesan begitu masuk akal dan tidak terlalu bermasalah. Namun pada studi kasus tertentu, beberapa kejanggalan terjadi yang menyebabkan pro kontra philanthro-capitalism muncul.

Pada isu lingkungan, misalnya Rockefeller Foundation, yang menghabiskan jutaan dollar Amerika untuk green revolution di Afrika yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas tanah dan kondisi hutan, namun beberapa permasalahan muncul ketika kesalahan yang dilakuakn Rockefeller Foundation yang menyebabkan kualitas tanah dan ekosistem terganggu, namun akibat karakter philanthropi yang independen, kasus ini ditutup-tutupi dan menimbulkan banyak perdebatan akan transparansi dari philanthro-capitalism. Satu poin negatif untuk philanthro-capitalism. Namun di lain pihak, satu poin positif untuk philanthro-capitalism di India. Contoh kasus Trinity Foundation yang berhasil meningkatkan kualitas air di salah satu daerah India menjadi bukti kemunculan philanthro-capitalism membantu pemerintah dalam menangani isu yang dikesampingkan oleh pemerintah India yang masih fokus terhadap peningkatan ekonomi dan perlindungan perempuan dari tindak kekerasan.

Pada isu women empowerment. Oprah Winfrey dengan Oprah Foundationnya berhasil mengambil perhatian dengan mendirikan Oprah Winfrey Leadership Academy for Girls di Afrika. Pada isu ini, Oprah berhasil membuktikan bahwa teori globalisasi menjadi salah satu poin plus untuk philanthropi yang populer sekarang menyadarkan orang-orang beruntung di luar sana dengan setumpuk uang mereka dapat dimanfaatkan di sisi dunia yang lain, ini jugalah yang menyebabkan banyaknya para philanthropi berbondong-bondong memasuki benua asia dan afrika yang mayoritas masih terdiri dari negara berkembang dengan banyak permasalahan sosialnya. Walau pada akhirnya oprah juga berhasil menunjukkan rasa pedulinya terhadap amerika sendiri dengan mendonasikan sekitar 10 juta dolar Amerika pada kasus bantuan badai Katrina.

Pada isu kesehatan, pendidikan dan teknologi, philanthro-capitalism menjadi populer akibat dibutuhkannya banyak pengorbanan (baca: uang) untuk meningkatkan kualitas pada dua sektor utama dalam kelangsungan  dan perkembangan hidup seseorang. Contoh kasus kesehatan di Brazil, Abott Laboratory berhasil menemukan obat yang bisa menyembuhkan (atau setidaknya memperlambat) virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia atau yang biasa dikenal dengan HIV yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah Brazil akibat keterbatasan biaya dan juga banyaknya permasalahan lain yang harus diselesaikan (terutama kasus korupsi dalam pemerintahan). Menyadari bahwa obat HIV ini merupakan hal penting bagi manusia, Abott mematenkan obat tersebut yang sejalan dengan karakteristik kapitalisme yaitu private ownership yang “menghargai” pengorbanan seseorang untuk menciptakan sesuatu, alhasil, harga dari obat Abott pun meningkat tajam dan sulit dijangkau. Untuk menanggapi ini, pemerintah Brazil akhirnya bekerja sama dengan Abott untuk memberikan subsidi kepada warganya kurang lebih 5%. Contoh kasus lain dapat dilihat juga pada Bill dan Melinda Gates dengan Gates Foundationnya yang menjadi donatur kedua terbesar di WHO yang akhirnya menciptakan political power berupa pengaruh Gates Foundation terhadap kebijakan WHO. Pengaruh ini juga diciptakan oleh gates foundation di amerika setelah membuat sekolah swasta (yang mengatas namakan individu bukan perusahaan Microsoft) yang membuat Gates mempunyai pengaruh besar terhadap nilai-nilai yang diajarkan di sekolahnya walau tidak sejalan dengan tujuan pemerintah, khususnya mempertimbangkan Gates merupakan orang yang konservatif yang mengakomodasi nilai-nilai yang tidak terlalu pro demokrat.

Pertanyaan berikutnya, apa yang terjadi dengan philanthro-capitalism di masa depan?

Berbicara tentang kapitalisme yang berorientasi ke pasar dan philanthropi yang berorientasi ke moral, menimbulkan pertanyaan bagaimana eksistensi moral dalam pasar? Cukup jelas moral dalam kapitalisme bukan lah hal yang penting, karena moral dalam philanthropi adalah penggerak manusia untuk menolong, sedangkan dalam kapitalisme manusia diliat bergerak jika dia adalah konsumen, distributor atau produsen. Yang menunjukkan tidak pentingnya moral berada di pasar. Namun istilah philanthro-capitalism muncul menjadi istilah kontroversi yang mengkaji irisan sosial dan ekonomi yang membungkus kapitalisme dengan bungkusan yang lebih “populist”. Pertanyaannya, seberapa kuat bungkusan ini menutupi keuntungan yang diraih individu dan kerugian yang diraih publik?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar