Dualisme Plato dan Dongeng Tentang Akhirat

Oleh : Ignasius Priyono (HI-2010)

Pernah suatu ketika saya masih mengeram di himpunan, saya ditanyai oleh seorang junior tentang dualisme. Saya memilih untuk menjawabnya lewat tulisan ini.

Sudah sejak lama manusia mengenal yang namanya dualisme. Nenek moyang orang Mesir mengenal dualisme lewat kisah pertarungan abadi Ra dan Set. Ra menguasai siang yang berarti “terang” yang mewakili kebaikan, penciptaan, pemeliharaan, sedangkan Set sang penguasa malam yang berarti “kegelapan” yang melambangkan kejahatan, penghancuran, kebinasaan, dan kematian. Dengan begini, orang Mesir kuno sudah melakukan kategorisasi terhadap realitas dunia ini, yang baik-baik dikonotasikan pada sosok Ra sedangkan yang jahat-jahat direduksi kedalam sosok Set.

Maju ke perdaban Yunani Kuno, di mana para filsuf berusaha memikirkan dan memahami dunia. Muncul Pythagoras dan para pengikutnya yang mengkategorikan dunia ke dalam dua gejala; yang terbatas (limited) dan yang tak-terbatas (unlimited)…

Tapi, ada seorang filsuf terkenal yang dualismenya sangat berpengaruh besar hingga sekarang. Dialah Plato yang membagi dunia menjadi dua; dunia forma dan dunia idea. Pembagian dunia menjadi dua ini sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran dunia. Bahkan beberapa filsuf yang akan datang kemudian mengkritik internalisasi dualisme Plato ini ke dalam agama-agama.

Dunia Forma dan Idea

Sebagai filsuf dan bapak rasionalisme, Plato percaya bahwa sumber utama pengetahuan kita tentang dunia ini adalah rasio. Mengapa rasio? Sebab rasio manusia tidak punya batas. Jika manusia hanya mengandalkan panca indera sebagai sumber pengetahuan, maka pengetahuan itu tidak akan sejati. Sebab indera adalah penipu yang ulung. Misalnya anda mencium bau durian. Indera penciuman anda menangkap bau durian dan langsung memastikan bahwa di sekeliling anda pasti ada durian. Tapi betapa kecewanya anda ternyata itu bukan durian, melainkan pasta kue beraroma durian yang tumpah. Lain halnya jika anda mengandalkan rasio, pasti anda akan berfikir kalau kecil kemungkinan ada durian yang berbuah bukan pada musimnya dan anda sedang berada di pabrik roti rasa durian.

Lanjut ke Plato, lantas dari mana rasio itu muncul? Dan bagaimana rasio itu bekerja pada diri kita? Plato punya jawabannya. Makanya dia membagi dunia menjadi dua. Dunia Forma dan dunia Idea. Apa pula itu dunia Forma? Dunia Forma adalah tempat di mana segala sesuatu mendapatkan wujud dan substansinya. Atau dengan kata lainnya adalah dunia bentuk, benda yang mewujud tepat seperti dunia di mana Plato hidup dan kita hidup ini. Ada pepohonan, batu, kuda, kanal, sungai, yang bisa ditangkap dengan panca indera kita.

Nah, dari mana kita mendapat pengetahuan tentang pepohonan, batu, kuda, kanal, sungai itu? Konon katanya Plato, sebelum berada di dunia material ini, semua materi yang ada di dunia ini (pepohonan, batu, kuda, kanal, sungai )—termasuk kita, berada dalam dunia Idea. Roh kita atau idea kita (manusia) melanglang buana dalam dunia idea itu melihat-lihat kesana kemari idea pepohonan, idea batu, idea kuda, idea kanal, idea sungai itu. Idea kita memahami bahwa ada yang namanya demikian.

Nah, ketika terlahir ke dalam dunia ini (beralih dari dunia idea ke dunia forma), kita dan benda-benda tersebut mendapatkan bentuk (forma) sebagaimana di dunia idea. Proses peralihan itu membuat kita melupakan pengetahuan yang sudah kita dapat di dunia idea tadi. Sebab, kita ketika lahir memiliki keterbatasan alat pikir (otak). Alat pikir kita harus menjalani proses alami hingga menjadi alat pikir yang sempurna. Dalam proses alamiah itu, kita memperoleh pengetahuan-pengetahuan tentang dunia ini, tentang batu, kuda, sungai, kanal, dan pepohonan tadi. Menurut Plato, kita tidak memperoleh pengetahuan tersebut, kita hanya berusaha mengingat kembali pengetahuan yang kita dapat dari dunia idea tersebut.[1]

Dunia sejati menurut Plato adalah dunia Idea itu. Sedangkan dunia Forma adalah dunia yang fana, sebab forma akan hancur. Misalnya, coba hancurkan seluruh bentuk alat tukar dan penimbun kekayaan di dunia ini dan kita tunggu sampai seluruh generasi yang pernah mengenal alat tukar dan penimbun kekayaan itu musnah dari muka bumi (meskipun mustahil, berandai saja) dan generasi yang tidak mengenal alat tukar dan penimbun kekayaan muncul. Alat tukar dan penimbun kekayaan itu pasti akan muncul lagi di generasi selanjutnya karena idea-nya tetap ada, yang hancur hanyalah formanya saja, bentuknya saja.[2]

Dualisme inilah yang di kemudian hari menjangkiti agama-agama di dunia, terutama Kristianitas (melalui akulturasi budaya Yunani dan Romawi). Kaum beragama percaya bahwa dunia tempat saat ini dia hidup (dunia forma/materil) adalah dunia yang fana, penuh dengan penderitaan dan cobaan, tempatnya dia sebagai hamba Tuhan diuji habis-habisan. Penderitaan dan cobaan itu datang baik dari alam, mahluk lain, atau bahkan dari sesama manusia. Tetapi, dunia lain akhirnya akan menunggu. Dunia itu, yang dinamakan akhirat (dunia idea) akan muncul di mana roh-roh manusia (yang formanya sudah hancur) akan dipisahkan menurut kelakuannya di dunia. Yang baik dan tahan uji ke surga (indah, bahagia, tenang), dan yang jahat dan mudah tergoda ke neraka (siksaan kejam tiada akhir).

Beratus-ratus tahun kemudian muncullah filsuf-filsuf revolusioner dan pemberontak yang melihat adanya ketidakberesan dalam pemahaman manusia tentang dunia ini terutama bagi mereka yang terjangkiti dualisme Plato. Di antara filsuf-filsuf tersebut yang paling terkenal adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Nietzsche dan Perulangan Abadi

Nietzsche melalui dua karyanya yaitu The Gay Science dan Thus Spoke Zarathustra melancarkan kritiknya terhadap dualisme Plato tersebut. Meskipun tidak semua bagian dalam kedua karyanya  membahas tentang tema tersebut. Kritik Nietzsche ini terwujud dalam salah satu tema filsafatnya, yatiu perulangan abadi. Dalam The Gay Science, Nietzsche mengemukakan dengan pengandaian “bagaimana jika?”

Bagaimana jika setan datang kepada kita pada suatu malam ketika kita sedang sendirian dan merasa kesepian serta mengatakan bahwa hidup yang telah kita jalani dan terus kita jalani adalah kehidupan yang sama yang akan kita jalani lagi tanpa ada batasnya. Kehidupan itu akan persis sama; tak kurang tak lebih, setiap rasa sakit, tiap rasa bahagia, peristiwa besar maupun kecil. Jika memang demikian, apakah kita akan menangis dalam keputusasaan atas gambaran semacam ini, ataukah itu menurut anda akan menjadi pemandangan yang paling luar biasa?[3]

Tema perulangan abadi dalam filsafat Nietzsche bukan merupakan hipotesis yang harus dibuktikan. Dia berusaha mengajak kita untuk membayangkan bahwa jika perulangan abadi tersebut benar-benar terjadi, bagaimanakah reaksi kita. Kita akan hidup berulang-ulang, segala peristiwa kehidupan kita akan terjadi lagi dan lagi. Apakah kita akan mencintai hidup ini ataukah kita akan bersedih sejadi-jadinya?

Dualisme Plato telah mengajarkan kita bahwa ada dua dunia, yang fana dan abadi. Ketika pandangan tersebut masuk ke dalam agama, maka dualisme Plato tersebut semakin ditegaskan. Agama membagi dunia menjadi dua juga, dunia sekarang kita hidup yang penuh penderitaan dan cobaan dan dunia akhirat tempat segalanya akan dibalaskan. Pandangan ini menurut Nietzsche mengurangi kualitas hidup dan kehidupan spesies manusia. Mengapa? Karena pandangan ini menempatkan kehidupan akhirat lebih tinggi dari kehidupan dunia.

Bagi si kuat, kehidupan akhirat tidak ada bedanya dengan kehidupan dunia. Yang paling penting adalah penegasan akan kehidupan. Si kuat bukan hidup untuk akhirat, tetapi hidup untuk kehidupannya di dunia ini. Maka dari itu, dia tidak akan membiarkan siapapun dan apapun untuk merenggut kebebasannya atau membiarkannya ditindas. Si kuat akan mencintai kehidupannya.

Sedangkan si lemah akan memandang kehidupan ini sebagai penderitaan. Sehingga pada suatu hari nanti, dia mengharapkan kehidupan akhirat yang bebas dari penderitaan, sebab di dunia dia sudah menderita. Si lemah tidak mencintai hidupnya. Dia hidup di dunia ini hanya karena penghiburan akan dunia yang lebih baik nanti di akhirat. Makanya dia membiarkan kebebasannya direnggut dan ditindas. Tidak ada perlawanan, sebab segala bentuk perlawanan bagi si lemah akan mengurangi pahalanya di akhirat.

Letak perbedaan antara si kuat dan si lemah ini adalah pandangan mereka mengenai kehidupan. Si kuat mencintai hidupnya karena dia tidak hidup untuk akhirat dan si lemah tidak mencintai hidupnya karena terhibur oleh kehidupan tenang di akhirat nanti. Sekali lagi perulangan abadi ini tidak perlu dibuktikan. Perulangan abadi membantu kita dalam memaknai dan menjalani kehidupan ini.

Jika kita sebagai si kuat akhirnya menerima perulangan abadi itu dengan suka cita, berarti kita telah mencintai kehidupan ini dan menjalankan kehendak untuk berkuasa secara positif.[4]

Signifikansi

Dualisme Plato merupakan pandangan yang sudah usang dan perlu diganti dengan nilai-nilai baru yang lebih berguna. Sebab nilai-nilai yang sudah usang awalnya memang menghindarkan manusia dari kepunahan, tetapi lama kelamaan menghambat perkembangan spesies itu sendiri.

Kita yang hidup di zaman ini telah menyaksikan dan merasakan atau terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang merendahkan bahkan meyebabkan dekadensi bagi hidup dan kehidupan manusia. Penindasan manusia atas manusia lain, yang mewujud dalam pebudakan, perburuhan, penjajahan, kapitalisme, pengekangan, pembasmian suku, perdagangan manusia, pekerja anak dan tentara anak, penggusuran dan pemisahan manusia dari penghidupannya, dan segala perbuatan yang merendahkan kemanusia. Bahkan di era modern ini, penindasan itu kadang-kadang tidak berwujud dan orang-orang tidak sadar bahwa mereka sedang ditindas.

Untuk para cendekia dan kaum terpelajar mungkin dualisme Plato ini tidak mengganggu pandangan mereka terhadap realitas dunia yang chaotic ini. Mungkin saja mereka masih mencintai hidup mereka, menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka sudah mencapai taraf tertentu dalam memaknai kehidupan ini.

Namun, bagaimana dengan mereka yang hina dina, yang hidupnya lugu, polos, dan sederhana dalam memandang dunia ini. Mereka yang tidak memiliki pilihan sama sekali, tersisih, dan kemudian dengan tulus, lugu, dan polosnya mempercayai doktrin akhirat? Justru mereka ini adalah sasaran empuk penindasan. Mereka menyandarkan diri sepenuhnya pada kuasa langit, sementara mereka memasrahkan tubuh mereka pada cambuk penindas.

Kita, si lemah, orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas memandang peristiwa-peristiwa tersebut sebagai tabiat dunia yang fana. Jadilah penindasan itu awet di dunia ini. Pandangan seperti ini tidak berguna sama sekali, membuat kita tumpul dan tidak berani untuk bangkit melawan penindasan. Kita dibuai bukan hanya oleh penindasan itu sendiri, tetapi juga oleh dongeng tentang akhirat itu.

Dunia ini cuma satu, tidak terbagi dua dan kita harus menegaskan kehidupan kita di dunia yang satu-satunya ini. Hanya mahluk berakal dan berpikir yang mampu menegaskan kehidupannya. Dan penegasan kehidupan itu adalah perbuatan. Seperti kata Syahrul Rauf, teman saya, perbuatan tidak seperti bahasa, dia tidak terbatas. Hanya perbuatan yang mampu menghidupkan kembali Tuhan yang telah dimatikan oleh bahasa.

Sumber bacaan:

Adrian Del Caro and Robert Pippin (ed.), Friedrich Nietzsche: Thus Spoke Zarathustra, Cambridge University Press.

Bernard Williams (ed.), Friedrich Nietzsche: The Gay Science, Cambridge University Press.

Bagus Takwin, Akar-Akar Ideologi, Jalasutra.

Roy Jackson, Friedrich Nietzsche, Narasi.

Stephen Palmquist, Pohon Filsafat, Pustaka Pelajar.

[1] Muncullah ungkapan, “tidak ada yang baru di bawah matahari.” Sebab semuanya sebenarnya sudah kita alami dan pahami di dunia idea, cuma kita lupakan pada saat kelahiran ke dunia forma. Matahari mendapat tempat spesial dalam filsafat Plato, sebab Matahari-lah forma paling sempurna yang mewakili “kebaikan”. Dalam bahasa personifikasinya Plato, Matahari adalah Tuhan.

[2] Tapi, pemikiran Plato ini suatu saat ditentang oleh muridnya sendiri, Aristoteles yang memilih mengembangkan filsafat substansi-nya sendiri.

[3] Roy Jackson. 2001. Friedrich Nietzsche. Narasi, Jakarta. Hal. 64.

[4] Kehendak untuk berkuasa adalah salah satu tema filsafat Nietzsche. Nietzsche memandang gejala-gejala interaksi di dunia ini sebagai kehendak untuk berkuasa. Dia memberikan sebuah contoh; ketika seorang Tuan memberi uang kepada si miskin, maka si Tuan ini menegaskan eksistensinya sebagai yang berkuasa atas si miskin ini. Si miskin akan merasakan kuasa si Tuan akibat pemberian tersebut. Tapi, sebaliknya si Miskin juga melaksanakan kehendak berkuasanya atas Tuan itu melalui rasa iba. Melalui rasa iba itu, si Tuan paling tidak merasakan penderitaan si Miskin sehingga si Tuan memberikan uang kepada si Miskin.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar