Menyejarahkan Fenomena “Publikasi Privasi” Media Sosial

Oleh: Rial Ashari (HI 2012)

Tidak mungkin tidak, semua dari kita pernah menulis status atau membuat postingan di satu atau beberapa media sosial. Pekerjaan semacam itu sama sekali bukan sebuah hal yang eksklusif. Tidak perlu menjadi pejabat atau konglomerat untuk dikatakan pantas melakukan tindakan yang kini semakin gencar dilakukan pegiat-pegiat media sosial seperti Facebook, Twitter sampai LINE.

Di media sosial, kita dengan mudah menemukan konten-konten privat dari mulai foto-foto menu makan siang, ekspresi kejengkelan karena lama mengantri di kantor BPJS, girangnya punya kucing peliharaan, kata-kata mutiara, atau sampai akhir-akhir ini, foto-foto sarjana (kebanyakan teman-teman SMA saya) yang baru lulus lengkap dengan toganya. Disadari atau tidak, yang demikian adalah hal-hal personal yang sifatnya remeh. Saya mengatakan ini remeh karena memang tidak berefek pada terjadinya perubahan sosial apapun, seperti cita-cita para tokoh dan ilmuwan revolusioner kritis. Postingan menu makanan tradisional di FB seberapapun keterlaluan seringnya, tidak akan menurunkan pamor restoran cepat saji yang telah lama jadi simbol ekonomi kapitalistik dalam masyarakat yang konsumtif. Sama halnya dengan postingan lamanya mengantri di kantor BPJS tidak akan memicu terjadinya pembaharuan total dalam manajemen birokrasi kantor-kantor pemerintahan. Dan juga postingan kata-kata mutiara seberapapun maknawi dan ngeh­-nya tidak bakal sampai menginspirasi para pembacanya jadi filsuf atau sastrawan keesokan harinya. Sebaik-baik postingan yang inspiring, adalah yang ketika membacanya kita dibuat berujar “iyo tawwa”, atau “hmm ya ya ya” dan seburuk-buruk penulisan status adalah yang responnya kira-kira adalah “epen kah?!”.

Semua orang suka mengetahui hal-hal yang unik dan indah, menyukai cerita tentang kebahagiaan ataupun tentang peristiwa yang menyedihkan. Mengobrol dengan anggota keluarga atau teman terdekat adalah hal yang diperlukan tiap orang. Namun membuat cerita-cerita tersebut tersebar segamblang-gamblangnya di depan publik adalah sesuatu yang lain. Kebiasaan tersebut biasa dijustifikasi sebagai mukjizat dari kemajuan teknologi dan kebebasan berekspresi yang jadi salah satu aspek hak asasi. Dan hal yang demikian adalah penemuan abad 21. Orang-orang yang hidup dua atau tiga dekade lalu sama sekali asing dengan habitus seperti itu. Mungkin saja kebiasaan tersebut akan dianggap penyimpangan sosial oleh “orang-orang dulu” yang tidak punya media baru seperti yang kita punya hari ini.

Maksud dari kata menyejarahkan pada judul di atas adalah melihat fenomena kebebasan berekspresi (yang mewujud dalam publikasi-publikasi privasi) pada konteks sosial yang lebih luas, pada pertautannya dengan sistem sosial, ekonomi dan politik yang berlangsung (pendekatan diakronik dalam ilmu sejarah). Perlu tersampaikan bahwa tulisan berikut adalah usaha mengartikulasikan ulang beberapa (tidak semua) gagasan pokok yang saya temui dalam tulisan Hizkia Polimpung dan Priska Luvita dalam salah satu laman indoprogress. Judul tulisan ini pun saya kutip dari kalimat dalam tulisan tersebut.

Subjek Pelaku Dramatisasi dan Panggungnya

Sebelum ke penjelasan teoritis seputar kondisi psikis para pemilik akun di media sosial dan apa yang mengkondisikannya, mari coba perhatikan postingan berikut. Saya mengambil salah satu status dan postingan yang dibuat oleh mantan orang nomor satu di negeri ini, Pak SBY. Kebetulan saya berteman dengan beliau di FB (tidak benar-benar berteman, karena beliau tidak/belum mengenal saya seperti saya tahu beberapa hal tentang beliau).

Nah, dengan melihat postingan di atas, saya menemukan informasi bahwa ternyata salah satu kegiatan Pak SBY dan Bu Ani sekarang adalah bermain dengan cucu-cucunya. Tentu kita sepakat bahwa hal ini cuma hal yang remeh. Sebab mengetahui hal tersebut paling-paling hanya membuat iri karena saya belum punya cucu, apalagi liburan bareng cucu. Saya tidak bisa tahu kesuksesan masa kepemimpinan Pak SBY hanya dengan melihat postingan tersebut. Kalau postingan Pak SBY saja dinilai remeh, bagaimana pula kadar remehnya status-status maupun postingan remaja-remaja alay yang hobinya membeberkan tiap detil aktifitasnya (untuk sekedar diingat, postingan Pak SBY tadi disukai oleh 134 ribu lebih akun). Faktanya, kedatangan postingan-postingan seperti itu ke laman Facebook kita tidak bisa ditolak, alih-alih mungkin kita tetap akan membacanya.

Baik, untuk mendekati fenomena publikasi privasi ini, pendekatan dramaturgi Erving Goffman dan psikoanalisis Jacques Lacan menyediakan penjelasan tentang posisi subjek sebagai pemain drama dalam kehidupan sosial yang merupakan panggungnya. Sebagaimana sebuah drama, yang menyajikan cerita dengan alur tertentu sehingga dapat dimaknai sesuai nilai dan norma yang terkandung dalam masyarakat, si pemanggung berharap mendapat pengakuan sosial dari penontonnya. Semakin menarik suatu drama, maka akan semakin ia mendapat perhatian dari penonton dan potensi pengaruh yang ia berikan juga akan semakin luas. Dalam hal ini, aktifitas mengumbar hal-hal privat ke publik disebut sebagai suatu dramatisasi. Media sosial adalah panggung itu. Menurut Lacan ekspresi-ekspresi ini masuk ke ruang publik dengan membawa nilai sosial yang terkandung di masyarakat supaya ia dapat diterima. Ruang publik betul-betul menjadi panggung atas individu-individu yang boleh dikata narsistik memerankan lakonnya sendiri. Subjek-subjek ini dalam perspektif Goffman, dalam panggung sosial sedang memerankan suatu identitas. Tanpa drama yang dimainkan maka identitas tidak akan muncul. Ia eksis hanya di atas panggung. Namun tidak berarti tujuan dari dramatisasi ini adalah identitas, akan tetapi pada hasrat narsistik untuk dikenal, diterima dan dicintai ketika sedang menemukan identitas dalam perannya.

Karena identitas hanya diperoleh di atas panggung, artinya identitas tersebut muncul dalam relasi-relasi sosial, antara subjek dramatis (yang melakukan dramatisasi) dan penonton, dalam medium panggung, relasi spasio-temporal. Di luar relasi ini, subjek tak mampu dikenali. Relasi ini adalah syarat mutlak identitas. Siapakah penonton yang mana subjek berelasi dengannya? Bukan keberadaan penonton yang fundamental dalam kebermaknaan identitas subjek, namun perhatian penonton. Menurut Lacan, penonton drama tadi adalah subjek yang dibayangkan atau dengan kata lain hanya perlu hadir sebagai fantasi. Artinya penonton tidak perlu benar-benar eksis/riil, sepanjang subjek dramatis merasa ditonton, maka hasrat subjek dramatis menemukan objeknya..

Dalam fenomena publikasi privasi ini, akun-akun di media sosial tak lain adalah para subjek dramatis, para pemanggung yang identitasnya ditemukan hanya dalam relasinya dengan penonton. Perbuatan memposting adalah lakon di panggung, disertai keyakinan bahwa ia disaksikan oleh penonton. Semakin menarik postingan maka semakin terasa eksis lah sang subjek. Bagaimana kira-kira ukuran keterpenuhan hasrat subjek dramatis terhadap objek ? Kita dapat terjemahkan ini dalam fitur utama media-media sosial : Like, comment, share, reply atau retweet. Jadi, bisa dikatakan hasrat pada objek drama akun Pak SBY sudah tersalurkan karena statusnya sudah dapat ratusan ribu Likes dan sekian banyak Comments. Ia merasa dikenal, diperhatikan dan dicintai banyak orang.

Demokratisasi ke Dramatisasi

Kita harus mulai dari asumsi dasar bahwa sistem kapitalisme neoliberal tidak hanya berkutat pada persoalan ekonomi; produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Dalam ranah politik, kapitalisme neoliberal selalu berdampingan dengan ide tentang demokrasi. Dalam ekonomi, jaminan ruang gerak individu untuk berkompetisi diyakini akan membawa pada kesejahteraan bersama, sekaligus meniadakan dominasi negara yang dianggap mengekang. Di ranah poitik, janji-janji utama yang ditawarkan dalam kehidupan demokrasi adalah kebebasan dan partisipasi.

Michel Foucoult berbicara tentang konsep homo economicus sebagai sebuah tipe subjektifitas yang tercipta dalam masyarakat demokrasi neoliberal. Logika pasar tentang kompetisi terinternalisasi dalam diri homo economicus, ia adalah mahluk rasional yang mempertimbangkan untung-rugi dalam bertindak sama seperti praktik berinvestasi dalam kapitalisme neoliberal. Lalu apa yang diinvestasikan oleh homo economicus dalam masyarakat demokrasi? jawabannya adalah diri mereka sendiri. Kapital adalah kedirian, kepemilikan atas diri sendiri dan pilihan bebas yang terjamin dalam demokrasi.

Hubungannya dengan dramatisasi, adalah perspektif ini membawa kita memahami tindakan-tindakan bebas sang subjek homo economicus untuk merasakan sensasi partisipasi sebagai cara untuk aktualisasi diri, aktualisasi kapital dalam hal-hal yang bahkan sangat remeh. Kebebasan bertindak (misalnya bebas berjejaring dengan siapa saja, bebas membeberkan privasi kapan saja) adalah sesuatu yang akan rugi ketika tidak disalurkan. Karena kepentingan bertindak adalah untuk peningkatan diri, investasi diri dan partisipasi diri maka hal ini menjadi privatisasi atau dalam arti lain segala sesuatunya dianggap urusan pribadi. Ruang publik menemukan signifikansinya dalam rangka berperan seolah-olah pasar dalam ekonomi neoliberal. Ruang publik termasuk media sosial harus dimanfaatkan untuk kepentingan investasi diri (dengan ini kapital akan aktual dan tidak tersia-siakan). Hasil dari investasi dimana aktualisasi diri di media sosial adalah kerja, adalah respons afektif berupa perhatian, popularitas, pujian atau simpati.

Penutup

Bentuk media baru yang hadir di tengah-tengah kita sekarang, dalam logika kapitalisme, tetap harus dicurigai sebagai sumber penciptaan nilai yang akan terserap ke golongan tertentu. Darimana nilai tersebut mengada? Yakni dari potensi afektif subjek dramatis sebagai manusia. Adalah kemampuan berekspresi dalam setiap hal sepanjang hidupnya yang dikemas via media sosial sebagai suatu arena aktualisasi diri. Keuntungan finansial perusahaan Facebook dan Twitter bukan rahasia merupakan perolehan materil dari pemanfaatan nilai afektif para pengguna media sosial melalui keberadaan perusahaan iklan yang menganggap media sosial sebagai pasar potensial. Di saat bersamaan kelangsungan drama yang dimainkan para pengguna media sosial sebagai subjek dilestarikan melalui upah berupa efek-efek afektif yang ia damba-dambakan.

Akhirnya, yang diharapkan mula-mula adalah timbulnya kesadaran kelas, yang menurut pembahasan kita, “kelas dramatis” yang dirampas nilai lebihnya berupa potensi afeksi. Lebih jauh, mereduksi kendali rezim neoliberal yang sudah hadir di setiap aspek kehidupan, penting agar perlahan-lahan tercipta masyarakat yang bebas dari perampasan terhadap hakikat hidup kita sehari-hari yang seharusnya otonom dan penuh makna.

Bacaan :

Hizkia Polimpung dan Priska Luvita. 2015. “Bangkitnya Kelas Dramatis: Tentang kehidupan psikis homo economicus neoliberal di era media baru (studi kasus: pengguna Facebook dan Twitter Indonesia)” diakses dari http://indoprogress.com/2015/04/bangkitnya-kelas-dramatis-tentang-kehidupan-psikis-homo-economicus-neoliberal-di-era-media-baru-studi-kasus-pengguna-facebook-dan-twitter-indonesia/ pada 30 Desember 2015 pukul 03.12 WITA.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar