Liberalisme : ASEAN Community

Oleh : Abdul Rauf Rahmansyah (HI-2013)

Hubungan Internasional adalah suatu elemen penting dalam pelaksanaan kebijakan dan politik luar negeri serta kerjasama internasional suatu Negara. Di dalam hubungan internasional inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu kerjasama antara negara yang satu dengan yang lainnya sehingga akan dapat memanfaatkan peluang-peluang untuk menunjang dan melaksanakan pembangunan nasionalnya.

Hubungan ASEAN ini diawali dengan komitmen para pemimpin ASEAN dengan yang mencita-citakan ASEAN sebagai suatu hubungan yang memiliki pandangan yang maju, hidup dalam lingkungan yang damai, stabil dan makmur, dipersatukan oleh hubungan kemitraan dalam pembangunan yang dinamis dan masyarakat yang saling peduli. Adapun tujuan dari organisasi ASEAN adalah untuk memenuhi kebutuhan negara anggotanya  dalam menciptakan integrasi dan dalam menghadapi perkembangan dunia internasional. ASEAN menyadari sepenuhnya bahwa ASEAN perlu menyesuaikan cara pandangnya agar dapat lebih terbuka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal. Bentuk kerjasama ASEAN secara kontemporer telah mengalami perluasan yang tidak hanya memandang kerjasama ekonomi, sosial, dan budaya. Tetapi, telah menyentuh pada titik persoalan politik, hukum, dan keamanan. Pada akhir 1997, ASEAN membangun suatu identitas kolektif di antara sesama warga ASEAN yang rencananya akan dicanangkan dan direalisasikan pada tahun 2020 melalui program “ASEAN Vision 2020” yang bertujuan untuk membentuk sebuah komunitas di wilayah Asia Tenggara yang saling peduli dan berbagi. Pada 7 Oktober 2003, diadakan KTT ke-9 ASEAN yang diselenggarakan di Bali dan mempertemukan para pemimpin negara ASEAN yang mengeluarkan kesepakatan yang dikenal dengan Bali Concord II dalam pembentukan ASEAN Community yang terdiri atas tiga pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN, dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN. Lalu, pada KTT ke-12 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada 11-14 Januari 2007, pembentukan ASEAN Community yang awalnya direncanakan akan berjalan pada tahun 2020 dipercepat menjadi 2015 di penghujung tahunnya dengan alasan agar seluruh elemen-elemen pendukung ASEAN Community seperti pasar barang, jasa, dan tenaga kerja di seluruh negara ASEAN menjadi optimal pada tahun 2020.

Liberalisme

Kata liberal berasal dari bahasa Latin liber yang artinya adalah bebas, merdeka atau bukan hamba. Dalam kajian Hubungan Internasional, asumsi-asumsi dasar liberalisme  terdiri atas pandangan positif tentang sifat manusia, keyakinan hubungan internasional dapat bersifat kooperatif daripada konfliktual, dan percaya terhadap kemajuan. Pemikir Liberal memiliki keyakinan besar terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip-prinsip rasional dapat dipakai pada masalah-masalah internasional. Pemikir Liberal mengakui bahwa individu-individu selalu mementingkan diri sendiri dan bersaing terhadap suatu hal. Tetapi, mereka juga percaya bahwa individu-individu memiliki banyak kepentingan dan dengan demikian dapat terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif, baik domestik maupun internasional, yang menghasilkan manfaat besar bagi setiap orang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Selanjutnya, kemajuan bagi pemikir Liberal selalu merupakan kemajuan bagi individu. Perhatian dasar Liberalisme adalah kebahagiaan dan kesenangan individu. John Locke berpendapat bahwa negara muncul untuk menjamin kebebasan warga negaranya dan kemudian mengijinkan mereka menghidupi kehidupannya dan menggapai kebahagiaannya tanpa campur tangan tak semestinya dari orang lain (Jackson dan Sorensen, 1999: 141-142). Perspektif Liberalisme dalam konsepnya tentang kerjasama memiliki beberapa bentuk politik dunia yang berbeda. Kaum Liberal Institusional menekankan pentingnya kerjasama yang terorganisir di antar-negara. Kaum Liberal Interdependensi memperhatikan secara khusus pada hubungan ekonomi dalam pertukaran dan ketergantungan yang menguntungkan antara rakyat dan pemerintah. Kaum Liberal Sosiologis menekankan hubungan transnasional non-pemerintah di antara lingkungan masyarakat, seperti komunikasi antar-individu maupun antar-kelompok.

 

ASEAN Community

 ASEAN Community merupakan sebuah kesepakatan dalam organisasi ASEAN yang akan berintegrasi menjadi sebuah organisasi kawasan yang lebih solid dan maju, membangun kebersamaan untuk satu tujuan (satu visi, satu identitas, satu komunitas), mendorong terciptanya kekompakan, kesejahteraan bersama, dan saling peduli diantara negara-negara di Kawasan Asia Tenggara. Terbentuknya ASEAN Community itu sendiri akan ditopang oleh tiga pilar utama yaitu:

  • ASEAN Political – Security Community / Komunitas Keamanan ASEAN

Sejak berdirinya ASEAN, organisasi ini telah memutuskan untuk bekerjasama secara komprehensif di bidang keamanan, ekonomi, dan sosial budaya. Dalam perkembangannya, kerjasama ASEAN lebih banyak dilakukan di bidang ekonomi, sementara kerjasama di bidang politik-keamanan masih belum maksimal akibat adanya persepsi ancaman yang berbeda-beda dan penerapan prinsip- prinsip non-interference (tidak adanya intervensi antar negara dalam urusan internal) serta sovereign equality oleh negara- negara anggota ASEAN.

Komunitas Keamanan ASEAN merupakan sebuah pilar yang fundamental dari komitmen ASEAN dalam mewujudkan Komunitas ASEAN. Pembentukan Komunitas Keamanan ASEAN akan memperkuat ketahanan kawasan dan mendukung penyelesaian konflik secara damai. Terciptanya perdamaian dan stabilitas di kawasan akan menjadi modal bagi proses pembangunan ekonomi dan sosial budaya masyarakat ASEAN.

Komunitas Keamanan ASEAN menganut prinsip keamanan komprehensif yang mengakui saling keterkaitan antar aspek-aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya. Komunitas Keamanan ASEAN memberikan mekanisme pencegahan dan penanganan konflik secara damai. Hal ini dilakukan antara lain melalui konsultasi bersama untuk membahas masalah- masalah politik-keamanan kawasan seperti keamanan maritim, perluasan kerjasama pertahanan, serta masalah- masalah keamanan non- tradisional (kejahatan lintas negara, kerusakan lingkungan hidup dan lain-lain). Dengan derajat kematangan yang ada, ASEAN diharapkan tidak lagi menyembunyikan masalah-masalah dalam negeri yang berdampak pada stabilitas kawasan dengan berlindung pada prinsip- prinsip non- interference.

  • ASEAN Economic Community / Komunitas Ekonomi ASEAN

Kerjasama ekonomi ASEAN dimulai dengan disahkannya Deklarasi Bangkok tahun 1967 yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pengembangan budaya. Dalam perkembangannya, kerjasama ekonomi ASEAN mengarah kepada pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN yang pelaksanaannya berjalan relatif lebih cepat dibandingkan dengan kerjasama di bidang politik-keamanan dan sosial budaya.

KTT ke- 9 ASEAN di Bali tahun 2003 menghasilkan Bali Concord II yang menegaskan bahwa Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC – Asean Economic Community) akan diarahkan kepada pembentukan sebuah integrasi ekonomi kawasan. Pembentukan biaya transaksi perdagangan, memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis, serta meningkatkan daya saing sektor UKM. Disamping itu, pembentukan AEC juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar intra- ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian peraturan- peraturan dan standarisasi domestik.

Pembentukan Komunitas Ekonomi Asean akan memberikan peluang bagi negara – negara anggota ASEAN untuk memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan dan memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Disamping itu, pembentukan Komunitas Ekonomi Asean juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar intra-ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian peraturan- peraturan dan standarisasi domestik.

  • ASEAN Socio – Cultural Community / Komunitas Sosial Budaya ASEAN

Kerjasama di bidang sosial – budaya menjadi salah satu titik utama untuk meningkatkan integrasi ASEAN melalui terciptanya “caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi. Kerjasama sosial – budaya mencakup kerjasama di bidang kepemudaan, wanita, kepegawaian, penerangan, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, penanggulangan bencana alam, kesehatan, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan, dan ketenagakerjaan serta Yayasan ASEAN.

ASEAN Community merupakan salah satu penggambaran bahwa adanya integrasi antar-negara yang berada di Kawasan Asia Tenggara yang memiliki tujuan untuk membangun kebersamaan untuk satu tujuan (satu visi, satu identitas, serta satu komunitas), pembangunan kekompakan, kesamaan visi, setaranya kesejahteraan, dan saling peduli antar- negara anggota sangat terkait coraknya dengan apa yang telah disebutkan oleh perspektif Liberalisme yang sangat optimis terhadap kemajuan individu-individu yang harus berkompetisi secara sehat melalui tingkat kualitas daya pikir mereka di dalam negara yang dilihat sebagai entitas konstitusional yang hanya membentuk dan menjalankan aturan hukum yang menghormati hak warga negaranya untuk hidup bebas dan sejahtera. Negara- negara yang tergabung dalam ASEAN pun akan menghargai satu sama lain dan akan berinteraksi sesuai dengan norma-norma saling percaya yang telah disepakati dalam perumusan ASEAN Community sebelumnya. Hal ini cukup jelas membuat kita melihat kemunculan komunitas regional tersebut sangat bersifat kooperatif daripada konfliktual. Hal ini juga membuat adanya modernisasi dalam organisasi ASEAN karena melalui komunitas ini akan dijalankan proses yang menimbulkan kemajuan dalam banyak bidang kehidupan dengan ruang lingkup kerjasama lintas batas negara di Asia Tenggara.

Dalam perspektif Liberalisme terdapat suatu aliran yang disebut dengan Liberalisme Institusional yang berpendapat bahwa institusi internasional dapat membuat kerjasama lebih mudah dan membantu mengurangi ketidakpercayaan dan ketakutan antar-negara. Jika dikaitkan dengan ASEAN Community, maka ASEAN muncul sebagai institusi internasional kompleks dengan komitmen pembentukan ASEAN Community 2015. Kompleks dalam hal ini menggambarkan bahwa institusi regional ini memutuskan untuk integrasi tiga bidang, yaitu kemanan, ekonomi, dan sosial – budaya. Jadi, pada dasarnya ASEAN Community merupakan gabungan tiga komunitas spesifik di antara para negara anggotanya (Hosang, 2011: 2). Di sisi lain, terdapat institusi-institusi internasional lainnya dalam masing-masing komunitas seperti Asean Political – Security Community yang memiliki badan-badan forum tertentu seperti ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR), ASEAN Foreign Ministers’ Meeting (AMM), ASEAN Regional Forum (ARF), ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM), ASEAN Law Ministers Meeting (ALAWMM), dan ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC);

ASEAN Economic Community yang memiliki badan forum ASEAN Economic Ministers (AEM), ASEAN Free Trade Area (AFTA Council), ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM), ASEAN Ministerial Meeting on Agriculture and Forestry (AMAF), ASEAN Finance Ministers Meeting (AFMM), ASEAN Investment Area (AIA) Council, ASEAN Ministerial Meeting on Minerals (AMMin), ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (AMMST), ASEAN Mekong Basin Development Cooperation (AMBDC), ASEAN Transport Ministers Meeting (ATM), ASEAN Telecommunications and IT Ministers Meeting (TELMIN), ASEAN Tourism Ministers Meeting (M-ATM), Initiative for ASEAN Integration (IAI) and Narrowing the Development Gap (NDG), dan Sectoral Bodies under the Purview of AEM; dan

ASEAN Socio –  Cultural Community yang memiliki badan-badan forum seperti ASEAN Ministers Responsible for Culture & Arts (AMCA), ASEAN Ministerial Meeting on Sports (AMMS), ASEAN Ministerial Meeting on Disaster Management (AMMDM), ASEAN Education Ministers Meeting (ASED), ASEAN Ministerial Meeting on Environment (AMME), COP to AATHP (Conference of the Parties to the ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution), ASEAN Health Ministers Meeting (AHMM), ASEAN Ministers Responsible for Information (AMRI), ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM), ASEAN Ministers Meeting on Rural Development and Poverty Eradication (AMRDPE), ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (AMMST), ASEAN Ministerial Meeting on Social Welfare and Development (AMMSWD), ASEAN Ministerial Meeting on Women (AMMW), dan ASEAN Ministerial Meeting on Youth (AMMY).

Selanjutnya adalah Liberalisme interdependensi. Interdependensi di sini memiliki pengertian ketergantungan timbal balik; rakyat dan pemerintah suatu negara dipengaruhi oleh tindakan rekan kerjasamanya di negara lain. Aliran ini berpendapat bahwa pembagian tenaga kerja yang tinggi dalam perekonomian internasional meningkatkan interdependensi antar negara, dan hal itu mengurangi konflik kekerasan antar negara. David Mitrany (1966), seorang fungsionalis yang mengajukan teori integrasi, berpendapat bahwa interdependensi yang lebih besar dalam bentuk hubungan transnasional antar-negara dapat mewujudkan perdamaian (Jackson dan Sorensen, 2009: 147 – 149). Terkait dengan ASEAN Community menurut Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN – Kementerian Luar Negeri Indonesia (2014),  ASEAN Economic Community bertujuan untuk :

-Menuju single market dan production base (arus perdagangan bebas untuk sektor barang,  jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal);

-Menuju penciptaaan kawasan regional ekonomi yang berdaya saing tinggi (regional competition policy, IPRs action plan, infrastructure development, ICT, energy cooperation, taxation, dan pengembangan UKM);

-Menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata (region of equitable economic development) melalui pengembangan UKM dan program-program Initiative for ASEAN Integration (IAI); dan

-Menuju integrasi penuh pada ekonomi global (pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi eksternal serta mendorong keikutsertaan dalam global supply network).

Kita dapat melihat bahwa ketika warga ASEAN melihat peningkatan kesejahteraan sebagai akibat dari tujuan di atas yang dianggap efisien, maka mereka akan mengubah kesetiaan mereka dari negara kepada ASEAN Community tersebut. Maksudnya adalah interdependensi ekonomi dari ASEAN Economic Community akan mengakibatkan integrasi yang akan mewujudkan perdamaian.

Aliran perspektif Liberalisme selanjutnya yang terkait dengan ASEAN Community adalah Liberalisme Sosiologis. Aliran ini berpendapat bahwa Hubungan Internasional juga bukan hanya tentang hubungan antar – negara, tetapi juga tentang hubungan transnasional, yaitu hubungan antar – masyarakat, kelompok – kelompok, dan organisasi –  organisasi yang berbeda. Menurut Karl Deutsch, derajat hubungan transnasional yang tinggi antara berbagai masyarakat mengakibatkan hubungan damai yang memuncak lebih dari sekadar ketiadaan perang. Keadaan tersebut menuju pada komunitas keamanan dimana sekelompok masyarakat telah menjadi terintegrasi. Integrasi berarti bahwa “Rasa Komunitas” telah dicapai; masyarakat bersepakat bahwa konflik dan masalah mereka dapat diselesaikan tanpa mengarah pada kekuatan skala fisik besar (Jackson dan Sorensen, 2009: 141). 3 pilar utama yang dimiliki ASEAN Community sudah membuktikan hal tersebut dalam rumusan pembentukannya terhadap penataan suatu kondisi yang kondusif  bagi munculnya komunitas keamanan, komunikasi sosial yang akan meningkat, mobilitas warga ASEAN akan lebih besar, hubungan ekonomi yang akan lebih kuat, dan jangkauan interaksi manusia yang lebih luas dalam Kawasan Asia Tenggara. Terlebih pentingnya lagi telah disinggung dalam tujuan pembentukan ASEAN Socio – Cultural Community yang berbunyi : “ meningkatkan integrasi ASEAN melalui terciptanya “caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi”. Hal ini ditujukan untuk pemberian kontribusi dalam penguatan integrasi ASEAN yang berpusat pada masyarakat (People – Centred) serta memperkokoh kesadaran, solidaritas, kemitraan, dan rasa kebersamaan masyarakat terhadap ASEAN (Fabrian, 2014).

Referensi

 

Association of Southeast Asian Nations. 2014. ASEAN Community. http://www.asean.org/communities. 28 Desember 2015 (02:30 WITA).

Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN – Kementrian Luar Negeri Indonesia. 2014. Komunitas Ekonomi ASEAN. Seminar Menuju Komunitas ASEAN 2015. 01 Oktober.

Fabrian, Dicky. 2014. Perwujudan Komunitas Sosial Budaya ASEAN 2015. Seminar Menuju Komunitas ASEAN 2015. 01 Oktober.

Hosang, L. G. Christian. 2011. Pandangan Paradigma Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme Terhadap ASEAN Political Security Community 2015 sebagai Kerjasama Keamanan di Kawasan Asia Tenggara. Skripsi. Departemen Ilmu Hubungan Internasional – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Depok.

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press Inc. New York. Terjemahan Dadan Suryadipura. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Cetakan II. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Wikipedia. 2014. Wawasan 2020 ASEAN. http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_2020_ASEAN. 27 Desember 2015 (21:53 WITA).

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar