Teologi Pembebasan: Persahabatan Tuhan dan Marx di Amerika Selatan

oleh: Ignasius Priyono (HI 2010)

Judul di atas tentunya sangat provokatif. Sebab di dalam kepala orang-orang yang katanya beragama, Tuhan tidak mungkin bersahabat dengan Marx dan konco-konconya. Wong mereka tidak percaya Tuhan eksis, yang eksis hanyalah “yang mengada”. Marx dan Marxisme nya lebih percaya pada “eksistensi kapitalisme” ketimbang “eksistensi Tuhan”. Sementara Agama, lembaga tempat Tuhan eksis itu tak ubahnya adalah aparatus ideologi yang melanggengkan sistem eksploitatif kapitalisme (ingat nasihat Althusser). Katanya, ini katanya lho! “Wah, kalau begitu Marx dan konco-konconya ini adalah calon penghuni neraka! Mari kita kirim mereka bertemu pencipta!” Begitu kata mereka yang kesal.

Saya mengambil resiko dicap kafir karena menuliskan ini. Tapi tak mengapa. Bukankah penilaian akhir itu datanganya dari Empunya kehidupan ini? Saya hanya mau membagi apa yang saya baca dari pengalaman rakyat Amerika Selatan yang bergumul dengan pemerintahan tangan besi di negara mereka masing-masing. Tentunya, di Asia Tenggara, khususnya kita di Indonesia pernah juga (dan mungkin sedang berlangsung) mengalami (bagi yang sadar) penindasan (dan penina-bobo-an) oleh rezim tangan besi. Moga-moga pengalaman pahit rakyat Amerika Selatan jadi refleksi buat kita.

Kembali ke Marx. Si pembaca tentunya pernah membaca atau paling tidak pernah mendengar bahwa Marx pernah berkata “agama adalah candu”. Sekali lagi ini membikin panas kuping, kok tega-teganya Marx menyamakan lembaga sakral ribuan tahun dengan candu, barang haram itu! Tentang itu Pierre Rousset pernah bertanya: “Apakah agama, sebagaimana yang disaksikan Marx dan Engels pada abad XIX, masih merupakan kubu sikap reaksioner, konservatisme, penentang pencerahan akal dan politik?”[1]

Kalau kita cermati pertanyaan Rousset itu, maka jelas ada dua kesimpulan yang dapat kita tarik. Pertama bahwa pandangan Marx mengenai Agama (dalam konteks ini) dan apapun itu (dalam konteks lain) selalu ditinjau kesahihannya berdasarkan zamannya. Untuk itulah Marx menyediakan metode revolusioner yaitu materialisme historis dalam hal ikhwal melihat masyarakat dan cara-caranya berproduksi. Si penentu sejarah umat adalah faktor-faktor material yaitu cara manusia bekerja dan berproduksinya. Bukan kesadaran yang mempengaruhi cara dan bentuk produksi, malah sebaliknya. Cara kerja dan bentuk produksi yang menempatkan manusia pada kelas dan status sosial tertentu dan kemudian mempengaruhi cara pandangnya terhadap agama, hukum, politik, dan kesenian. Nah, seiring berubahnya cara dan bentuk produksi dari zaman ke zaman, berubah pula kesadaran umat manusia dari sejarah ke sejarah.[2]

Sekarang, mari kita tengok kutipan lengkap pernyataan Marx tentang candu-canduan agama itu:

“Kenestapaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan kesengsaraan nyata dan sekaligus protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya mahluk yang tertindas, jantungnya dunia yang tidak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Ia adalah candu rakyat.”[3]

Kutipan tersebut ada di dalam tulisan Marx yang berjudul “Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right” yang ditulisnya pada tahun 1844 ketika masih merupakan murid Feurbach yang merupakan filsuf aliran Neo-Hegelianisme. Marx melihat adanya pertentangan dalam tubuh agama sendiri: kadang ia muncul sebagai justifikasi kelas berkuasa tetapi juga muncul sebagai alat perjuangan kaum tertindas. Baru pada tahun 1846 dalam German Ideology, Marx melancarkan kritik pedasnya terhadap agama. Marx percaya bahwa agama sama halnya dengan ideologi, merupakan produk dari kesadaran manusia yang ditentukan oleh cara produksinya. Cara produksi feodalisme menentukan pandangan manusia terhadap agamanya begitu juga dengan cara produksi kapitalisme akan menentukan pandangan manusia pada agamanya.[4]

Ragam-rupa agama tersebut dapat dilihat pada dialektika sejarah kekristenan. Awalnya adalah agama para budak dan kaum terpinggirkan, kemudian direkatkan pada ideologi negara Romawi, menjadi agama para kaum feodal dan terakhir menjadi agama para borjuis. Namun, di dalam agama sendiri juga terdapat pertentangan antara teologi kaum penguasa dan teologi kaum tertindas. Misalnya, Martin Luther menggunakan teologi reformasi untuk menentang dominasi teologi kekatolikan yang berselingkuh dengan penguasa pada waktu itu.

Kita balik lagi ke pertanyaan Rousset; Kedua, saya menjawab pertanyaan Rousset tersebut dengan “Ya!”. Setidaknya itu berlaku di Amerika Selatan sesuai judul tulisan ini. Mengapa? Tersebutlah nama-nama semacam João Goulart di Brazil, Anastasio Somoza Garcia di Nikaragua, dan Carlos Humberto Romero di El Salvador yang namanya masyur karena kegemarannya menggunakan senjata dalam mengayomi masyarakatnya. Setidaknya untuk tiga negara ini, rakyatnya pernah merasakan dicabik-cabik oleh junta militer. Sementara Gereja sebagai tiang moral hanya menutup mata melihat kekejaman junta militer.

Amerika Selatan merupakan sebuah kawasan dengan sejarah kolonialisme yang tidak kalah bengisnya dibanding dengan kawasan lainnya. Sejak zaman penjelajahan samudera, koloni-koloni bangsa imperialis macam Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda dibangun untuk mengeruk kekayaan alam benua ini. Yang ditinggalkan para penjajah ini hanya para budak dari Afrika, bahasa, agama, penyakit dan kemiskinan. Suatu hari, seorang pemberani bernama Simon Bolivar membebaskan Amerika Selatan dari penjajahan dan mendirikan negara Gran Colombia. Pengalaman penjajahan inilah yang membuat rakyat Amerika Selatan fasih dalam tradisi perlawanan.

Namun sayangnya, beberapa negara yang baru terbentuk jatuh ke dalam tangan junta militer (seperti Brazil, Nikaragua, dan El Salvador). Namanya militer tentulah suka mengkomandoi. Maka, dibuatlah kebijakan-kebijakan ekonomi yang merugikan (tapi menguntungkan borjuis rente) dan memiskinkan rakyat yang mayoritas petani. Jika ada yang menentang atau melawan, bedil sudah mengarah ke kepala. Kalau tidak percaya, ada pengalaman Wilson Pinheiro dan Chico Mendes yang akhirnya mati ditembak karena tidak sepakat hutan Amazon ditebangi dan dijadikan lahan ternak oleh Borden Corp.

Latar belakang penindasan oleh junta militer ini kemudian yang melahirkan kemiskinan. Persekongkolan pemerintah dengan borjuasi asing menempatkan rakyat Amerika Selatan pada jurang kemiskinan yang dalam. Keran investasi asing dibuka selebar-lebarnya, menyebabkan banyaknya perusahaan asing melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap alam Amerika Selatan. Sementara jaminan sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya akibat subsidi yang ditarik dari rakyat. Tidak heran, Amerika Selatan merupakan tempat lahirnya teori ketergantungan (dependency theory) oleh Andre Gunder Frank dan Anibal Quijano sebagai lawan dari teori pembangunan (developmentalism theory) yang dianut oleh junta militer.

Para pakar teori ketergantungan berpendapat bahwa kediktatoran militer, kemiskinan, dan penindasan di Amerika Selatan bukan merupakan sisa-sisa feodalisme sebagaimana analisis kaum Sosialis Amerika Selatan. Alih-alih merupakan sisa feodalisme, ketergantungan terhadap kapitalisme global-lah penyebab kemiskinan dan penindasan tersebut. Segera pandangan ini menjadi acuan perlawanan rakyat Amerika Selatan.

Ada satu anasir dari perjuangan rakyat Amerika Selatan melawan kapitalisme dan penindasan. Anasir ini merupakan kekuatan terbesar yang bisa mengorganisasi perlawanan rakyat Amerika Selatan. Bukan partai politik, melainkan Agama. Lho? Kok bisa? Begini ceritanya…

Setelah cukup lama berdiam diri dan melihat sendiri pembantaian yang dilakukan oleh rezim junta militer, Gereja Amerika Selatan mulai angkat bicara. Gereja menampilkan diri sebagai Gerejanya orang miskin, orang-orang hina dina yang terpinggirkan dari siklus produksi formal. Namun, sebagai landasan perlawanan Gereja dan rakyat harus menemukan landasan teoritis yang revolusioner.

Melalui beberapa tokohnya yang terkenal seperti Gustavo Gutierres, Frei Betto, dan Boff, Gereja Amerika Selatan menemukan landasan perlawanan, yaitu teologi pembebasan. Teologi pembebasan merupakan gerakan yang menggabungkan pemikiran-pemikiran Marx dengan ajaran-ajaran Kekristenan. Gerakan ini memungkinkan bahwa seorang Kristen dapat menjadi revolusioner dan Sosialis di saat yang bersamaan. Meski di kemudian hari mendapat penentangan dari Vatikan.

Teologi pembebasan menjembatani dua tebing yang selama ini terpisah oleh jurang yang dalam, Marxisme dan Agama. Pertanyaannya adalah Marxisme mana yang mereka adopsi? Tokoh-tokoh teologi pembebasan rata-rata merupakan lulusan perguruan tinggi Eropa. Selama studi mereka mempelajari Marxisme Eropa yang lebih dikenal sebagai Neo-Marxisme. Gutierrez dalam tulisan-tulisannya gemar mengutip Ernst Bloch, Althusser, Lukacs, Marcuse, Lefebvre, Goldman, dan Mandel. Kemudian mereka memperhadapkan temuan tersebut pada keadaan nyata masyarakat Amerika Selatan melalui mazhab dependensia.

Para teolog pembebasan melihat Marxisme sebagai teori yang emansipatif, bertujuan untuk mengangkat martabat manusia tertindas dari penindasan dan ketergantungan. Namun, para teolog pembebasan juga menolak beberapa doktrin Marxisme (seperti filsafat materialisme) dan berusaha membuat sintesis sendiri yang khas Amerika Selatan. Mereka tidak mau menjadi peniru atau penjiplak saja. Seperti kata Mariategui, “Kita harus melahirkan sendiri, melalui kenyataan-kenyataan kita sendiri, dengan bahasa kita sendiri, suatu sosialisme Indo-Amerika.”[5]

Melalui dialektika tersebut, setidaknya ada delapan doktrin teologi pembebasan yang menjadi landasan pelawanan rakyat Amerika Selatan:

Pertama: Gugatan Moral kepada bentuk-bentuk ketergantungan terhadap kapitalisme sebagai suatu dosa struktural. Kedua: Penggunaan analisis Marxisme sebagai alat untuk memahami sebab kemiskinan, pertentangan-pertentangan dalam tubuh kapitalisme, dan bentuk-bentuk perjuangan kelas. Ketiga: Pilihan khusus bagi kaum miskin dan kesetiakawanan terhadap perjuangan mereka menuntut kebebasan. Keempat: Pengembangan kelompok-kelompok basis di kalangan masyarakat miskin sebagai Gereja alternatif dan sebagai kehidupan alternatif dari pemaksaan kehidupan individualistis oleh kapitalisme. Kelima: Pembacaan baru pada Kitab Suci yang menekankan pada sejarah pembebasan umat manusia dari perbudakan. Keenam: Menentang pemberhalaan sebagai musuh utama agama yaitu menentang berhala-berhala baru yang disembah oleh Fir’aun-Fir’aun baru, Caesar-Caesar baru, Herodes-Herodes baru berupa uang, kekuasaan, keamanan nasional, negara, pasukan militer, dan peradaban Kristen Barat. Ketujuh: Pembebasan manusia dari penindasan adalah bentuk antisipasi terhadap terwujudnya Kerajaan Tuhan di dunia. Kedelapan: Menentang teologi tradisional Kristen yang sangat Platonis, yang bermuka ganda. Sejarah ketuhanan dan kemanusiaan memang berbeda, tapi tidak dapat dipisahkan.[6]

Doktrin tersebut tidak banyak mempengaruhi kalangan Gereja di Amerika Selatan. Banyak yang bertahan pada teologi tradisional dan tidak sedikit juga yang menjadi moderat. Namun, dampaknya pada masyarakat sangat besar terutama pada basis-basis komunitas. Teologi ini merangkul demikian banyaknya organisasi-organisasi (Pelajar dan Mahasiswa Katolik, Kaum Buruh Katolik, Pekerja Tambang, Kaum Wanita, Petani, dan beberapa Ordo Biarawan-Biarawati) untuk terlibat dalam gerakan. Tidak hanya itu, gerakan teologi ini mampu merangkul  kaum kiri seperti Sandinista di Nikaragua.

Pencapaian gerakan teologi pembebasan ini memang sangat besar. Membangun dari pinggiran ke pusat. Dari sarang-sarang kemiskinan dibangun basis-basis perlawanan. Mereka dididik untuk menyadari ketertindasan mereka. Di sini nyata peran agama sebagai pembebas, sebagai sebuah gerakan penentang dehumanisasi.

Pertanyaan refleksi bagi kita. Bagaimana dengan kita di Asia Tenggara? Memang Asia Tenggara tidak bisa disamakan dengan Amerika Selatan. Amerika Selatan boleh dikatakan sebagai benua Katolik. Sedangkan Asia Tenggara merupakan kawasan dengan beragam agama dan kepercayaan. Filipina dan Timor-Timur dengan Mayoritas penganut Katolik, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Singapura dan Vietnam dengan mayoritas penganut Buddha, Indonesia, Malaysia dan Brunei dengan mayoritas penganut Muslim. Dengan keberagaman tersebut, rasa-rasanya sulit untuk melahirkan teologi pembebasan yang khas untuk kawasan Asia Tenggara.

Contohnya, di Indonesia yang multikultural dan multireligi ini, isu agama masih menyerempet ke hal-hal yang tidak produktif malah mengarah ke kontraproduktif. Padahal penindasan sudah ada di depan mata. Masalah sektarian dan perbedaan agama masih menjadi hal utama yang diperbincangkan dan diperdebatkan. Posisi agama hanya jadi penghibur bagi mereka yang tertindas dan alat justifikasi bagi penguasa. Apalagi sebagian besar penganut agama sangat alergi terhadap Marxisme karena masih terjebak romantisisme masa lalu. Nyaris tidak ada pilihan bagi orang yang berhaluan kiri untuk beragama. Sekali sosialis, pasti tak beragama dan karena tak beragama berarti tak ber-Tuhan. Itulah hukumnya.

Amerika Selatan merupakan contoh perlawanan kaum Agamis-Sosialis melawan kapitalisme. Tentunya bukan tanpa tantangan yang berat. Perjuangannya melahirkan banyak martir dan penentangan keras dari Vatikan. Kita di Indonesia tidak perlu mencaplok gaya perlawanan rakyat Amerika Selatan, tapi perlunya melihat bahwa perlawanan tidak akan pernah terwujud tanpa teori yang revolusioner. Salam perjuangan!

***

[1] Pierre Rousset, Marxisme dan Teologi Pembebasan: Kata Pengantar, dalam  Michael Lowy. 2013. Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Insist Press, Yogyakarta. Hal. iii.

[2]  Lihat Frans Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003) hlm. 135-147.

[3]  Karl Marx. 1884. Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right dalam Louis S. Feuer (ed.) 1969. Marx and Engels: Basic Writings on Politics and Philosophy dalam Michael Lowy. 2013. Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Insist Press, Yogyakarta. Hal. 2.

[4]  Michael Lowy. 2013. Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Insist Press, Yogyakarta Hal. 2-3.

[5] Gustavo Gutierres, Theologie de la Liberation: Perspectives, hal. 102 dalam Michael Lowy. 2013. Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis. Insist Press, Yogyakarta. Hal. 119.

[6]  Michael Lowy. 2013. Op. Cit. Hal. 22-23

2 comments on “Teologi Pembebasan: Persahabatan Tuhan dan Marx di Amerika Selatan”

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar