TRANSFORMASI AKTOR POLITIK INTERNASIONAL: Studi Kasus Peranan Greenpeace Terhadap Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Abdul Rauf Rahmansyah (HI 2013)

Lingkungan hidup dilihat dari hakikatnya merupakan suatu ruang yang menggambarkan dimana makhluk hidup berada dan apa yang melingkupi makhluk hidup itu sendiri. Kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini secara sadar mengetahui bahwa kita tak hidup sendirian. Manusia yang hidup di muka bumi ini menjalankan kehidupan bersama makhluk lain seperti tumbuhan, hewan, dan jasad renik. Organisme – organisme tersebut bukanlah sekedar mendampingi manusia untuk hidup yang terkesan netral maupun pasif terhadap manusia. Kesemuanya itu sebenarnya saling bergantung dan tak dapat dipisahkan. Contohnya seperti manusia yang membutuhkan oksigen dari tumbuhan dan sebaliknya, tumbuhan memerlukan karbondioksida yang berasal dari manusia. Jadi, anggapan terhadap manusia sebagai makhluk yang paling berkuasa di muka bumi ini adalah tak benar.

            Isu lingkungan hidup menjadi salah satu agenda global pada abad ke – 21 yang melibatkan banyak pihak seperti pemimpin politik, pejabat pemerintah, ilmuwan, industrialis, LSM, dan warga Negara. Ada pergeseran tingkatan pada isu lingkungan yang pada awalnya hanya berada di level Soft Politic menjadi salah satu isu sentral pada perpolitikan dunia (World Politics). Pembahasan lingkungan telah menjadi hal yang dirundingkan secara global karena sangat penting setelah agenda klasik dalam politik internasional, yaitu isu keamanan dan isu ekonomi. Kemunculan dari isu lingkungan itu sendiri disebabkan oleh beberapa faktor seperti berakhirnya rivalitas Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam bidang ideologi dan militer yang menjadi peluang munculnya masalah lingkungan yang diperbincangkan Negara – Negara Barat, Timbulnya kesadaran publik dan media terhadap lingkungan global yang mulai terdegradasi, dan Kaum intelektual yang mempublikasi hasil penelitian mereka tentang kondisi lingkungan kepada para pembuat kebijakan.

            Perkembangan terhadap isu lingkungan yang menjadi perbincangan global, menurut Winarno (2014), disebabkan oleh beberapa masalah lingkungan hidup secara inheren bersifat global seperti emisi Karbondioksida yang menjadi contributor dalam perubahan iklim, beberapa masalah dikaitkan dengan eksploitasi The Global Commons, yaitu : sumber – sumber yang menjadi milik bersama dari seluruh anggota masyarakat internasional seperti samudera, atmosfer, dasar laut, dan ruang angkasa yang harus dipelihara dan dipertahankan untuk kepentingan bersama, banyak masalah lingkungan hidup yang secara intrinsik transnasional dimana telah melewati batas – batas Negara bahkan sekalipun masalah – masalah itu tidak seluruhnya bersifat global seperti emisi Sulphur dioxide yang mengandung hujan asam berasal dari satu Negara akan terbawa angin dan memasuki wilayah Negara lainnya yang melibatkan aktor Negara dan non – Negara untuk bisa menyumbang terhadap berbagai masalah atau berbagai upaya untuk menanggulanginya, dan banyak proses eksploitasi yang berlebihan atau degradasi lingkungan hidup yang secara relative dalam skala lokal atau nasional yang terjadi di sejumlah tempat di seluruh dunia kemudian dipandang sebagai masalah – masalah global seperti polusi sungai dan deforestasi karena adanya pengaruh politik dan ekonomi.

            Greenpeace adalah salah satu organisasi internasional yang memperhatikan masalah lingkungan di seluruh dunia Organisasi ini tersebar di berbagai belahan negara, salah satunya Indonesia. Greenpeace Indonesia telah banyak berkontribusi dalam berbagai macam kasus yang terkait dengan permasalahan yang ada di Indonesia. Sebagian besar kasus yang ditangani di Indonesia mengarah pada kerusakan hutan yang disebabkan oleh perlakuan aktivitas destruktif dan efek dari produk – produk konsumsi masyarakat.

Jackson dan Sorensen (1999 :326) menyebutkan bahwa kemunculan Politik Hijau dilatarbelakangi oleh protes kaum eko-radikal terhadap kaum modernis yang dianggap telah memperburuk keadaan lingkungan global yang ditunjukkan dengan adanya degradasi lingkungan yang menyebabkan krisis ekologi, seperti menipisnya hutan di dunia. Politik Hijau juga menolak eksistensi Negara sebagai fokus hubungan internasional. Hal ini dikarenakan negara dianggap sebagai bagian dari masyarakat modern yang menjadi pelaku perusak lingkungan yang mendukung antroposentrisme.

Beberapa contoh kasus yang pernah ditangani oleh Greenpeace di Indonesia dalam tulisan dari Handayani dkk (2013) adalah sebagai berikut :

Kasus Penyelundupan Kayu Merbau dari Indonesia ke RRC

            Kasus kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia yaitu kebakaran hutan. Indonesia dianggap tidak mampu mengelola hutan dengan baik karena masih terus  berlangsungnya pembalakan liar (illegal loging ) dan perdagangan hasil hutan secara ilegal. Adanya illegal loging terkait dengan sindikat regional dan internasional yang ikut terlibat dalam penyelundupan kayu dari Indonesia. Pengawasan pemerintah yang semakin berkurang karena keterbatasan perlengkapan pendukung dan kurangnya diplomasi dengan negara tetangga dalam pemberantasan illegal loging membuat  persentase penyelundupan kayu dari Indonesia ke luar negeri semakin meningkat.

            Kayu yang diselundupkan dari Indonesia diputihkan di Malaysia, Singapura, dan RRC. Indonesia kehilangan kayu yang ditebang secara liar, khususnya kayu Merbau yang merupakan jenis kayu yang memiliki harga jual tinggi di pasar internasional. Salah satu impotir kayu merbau adalah RRC, yang juga merupakan konsumen sekaligus pasar terbesar kayu merbau di dunia. Penyelundupan kayu merbau dari Papua ke RRC setiap bulannya mencapai 300.000 m3.

Merbau merupakan jenis kayu yang menghadapai resiko kepunahan tinggi di alam bebas karena mengalami eksploitasi yang besar. Untuk itu lah Greenpeace berupaya untuk mencegah terjadinya kepunahan serta melakukan tindakan dengan menekan pemerintah Indonesia untuk melakukan peningkatan sistem kontrol pengelolaan hutan. Greenpeace berupaya dengan aksi nyata untuk menghentikan  pembalakan liar dan perdagangan tidak sah dengan cara berkampanye menyelamatkan lingkungan hidup dan berbagai hutan di dunia.

            Kerjasama yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia dengan Greenpeace RRC antara lain :

  1. Melakukan kampanye dan melobby
  2. Melakukan investigasi langsung di pulau Papua
  3. Melakukan pemetaan terhadap wilayah – wilayah yang menjadi tempat pembalakan liar
  4. Mencari informasi tentang pihak – pihak mana saja yang terlibat dalam pembalakan liar kayu merbau di pulau Papua
  5. Menggunakan satelit terhadap hutan Papua

Dengan upaya – upaya tersebut, peran Greenpeace cukup signigfikan dan membuat kasus penyelundupan kayu merbau ke RRC mengalami penurunan. Greenpeace juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan penegakan hukum terhadap pembalakan liar. Peran Greenpeace juga mendapatkan hasil yang baik terhadap perusahaan – perusahaan besar yang mengeksploitasi kayu merbau di Papua, karena pemerintah menindaklanjuti tindakannya dengan menutup jalur transportasi  pengiriman kayu dan memberlakukan perundang – undangan guna menghentikan  pembuatan distribusi atau penjualan kayu yang digunakan dan dinyatakan legal oleh  badan FSC (Forest Stewardship Council).

Kasus Penggunaan Kemasan Barbie yang Dapat Merusak Hutan Indonesia

Produsen boneka Barbie yang terkenal dikecam karena telah menggunakan kemasan yang bahan bakunya berasal dari hutan Indonesia. Kelompok peduli lingkungan Greenpeace melakukan investigasi sejak tahun 2009 pada semua kemasan mainan dunia. Dari investigasi itu mereka menemukan produsen Barbie (Mattel), mainan merk Disney, Hasbro, dan Lego menggunakan kemasan dari produsen yang sama.

Sejumlah produsen kemasan mainan merk terkenal tersebut menggunakan  bahan baku yang berasal dari hutan rimba Indonesia yang menjadi rumah harimau Sumatera. Investigasi dilakukan dengan mengambil sampel setiap kemasan mainan. Dari hasil uji lab ditemukan kemasan mainan mengandung Mixed Tropical Hardwood (MTH) atau kayu rimba campuran yang berasal dari penghancuran hutan alam yang hanya diproduksi di hutan tropis Indonesia.

Dengan adanya hasil investigasi ini, Greenpeace meminta agar perusahaan mainan dunia seperti Mattel, Disney, Hasbro, dan Lego untuk menghentikan menggunakan kemasan yang berbahan baku MTH karena dapat merusak hutan Indonesia.

Perusakan Habitat Spesies Orangutan di Hutan Kalimantan yang Merupakan Akibat dari Perusahaan Minyak Sawit

            Greenpeace menangkap basah kegiatan perusahaan minyak sawit, Bumitama Agri Ltd, saat mereka membabat hutan gambut yang merupakan habitat kritis orangutan. Konsesi Bumitama Agri Ltd bersebelahan dengan taman nasional yang terkenal di seluruh dunia. Selama lebih dari enam bulan, beberapa Organisasi Lingkungan global telah mendesak perusahan ini untuk menghentikan praktek mereka yang merusak, tapi di lapangan pembukaan lahan terus berlangsung dan orangutan yang hidup dalam konsesi mereka sangat menderita.

Greenpeace menginginkan konfirmasi segera dari Bumitama Agri Ltd bahwa semua pembukaan lahan telah dihentikan dan mereka berkomitmen untuk melindungi hutan dan lahan gambut di seluruh konsesinya. Bumitama Agri Ltd anggota dari RSPO (Rountable Sustainable Palm Oil ) telah berjanji sebelumnya, mengklaim akan menghentikan pengembangan di sebuah konsesi mereka awal tahun 2013 setelah  penemuan beberapa orangutan yang terpojok di kawasan hutan yang tersisa. Namun, analisa pemetaan Greenpeace mengungkapkan bahwa perusahaan ini telah merusak 1.150 hektar hutan di wilayah konsesinya sepanjang tahun 2013. Ancaman pada orangutan dan hutan Indonesia masih akan terus terjadi sampai sekarang hingga Bumitama Agri Ltd berkomitmen pada kebijakan Nol Deforestasi.

Wilmar International adalah pedagang minyak sawit terbesar di dunia dan investor utama Bumitama Agri dan sumber dari separuh produksi Bumitama. Konsumen memiliki hak penuh untuk menuntut jaminan dari Wilmar agar menghentikan pencucian minyak sawit yang berasal dari pengrusakan hutan ke tengah  pasar global. Konsumen tidak ingin dijadikan bagian dari pengrusakan hutan dan mendesak agar segera diambil tindakan. Beberapa pelanggan Wilmar termasuk Ferrero, Mondelez, Nestle dan Unilever telah berkomitmen untuk menghapuskan deforestasi dari rantai pasokan minyak sawit mereka.

Greenpeace, didukung gerakan pendukungnya yang terus bertambah  jumlahnya menuntut minyak sawit bersih, dan akan terus mendokumentasi dan mengungkapkan aksi kotor pengrusakan hutan yang diperdagangkan ke pasar global.

            Isu – isu lingkungan internasional memberikan tantangan terhadap berbagai pendekatan dominan dalam hubungan internasional. Winarno (2014: 142) menuturkan bahwa satu contoh berkaitan dengan signifikansi dan peran Negara. Tradisi dominan di dalam hubungan internasional adalah state – centric, yang menekankan pada konsep kedaulatan rakyat dan keyakinan bahwa Negara adalah aktor utama dalam hubungan internasional, dan bahwa politik internasional secara luas digerakkan oleh Negara yang mengejar kepentingannya. Namun, lingkungan internasional memberikan masalah – masalah yang riil bagi pemikiran yang telah mapan tentang sifat dan keterbatasan kedaulatan Negara. Lebih dari itu, masalah – masalah jarang disebabkan oleh tindakan secara hati – hati dari kebijakan nasional, namun merupakan efek samping yang tidak diinginkan dari proses sosial ekonomi yang luas. Sejumlah aktor non – Negara; termasuk perusahaan, otoritas lokal, lembaga – lembaga keuangan, kelompok sosial, dan individu paling tidak sama pentingnya dalam proses – proses ini.

            Hal tersebut tergambarkan pada kasus yang ditangani oleh Greenpeace di atas bahwa Indonesia sebagai Negara meskipun telah memiliki regulasi yang jelas terhadap lingkungan hidup masih belum mampu menyelesaikan masalah – masalah lingkungan yang terjadi karena implementasinya secara teknis kemungkinan tidak menunjang dan tidak merata. Lalu, adanya bargaining power terhadap komoditi di hutan Nusantara serta pemberian konsesi dari Indonesia terhadap aktor non – Negara lainnya menjadi titik api dalam terjadinya eksploitasi lingkungan yang brutal. Hal inilah yang menjadi titik penting bagi Greenpeace sebagai salah satu kelompok yang menyuarakan pelestarian lingkungan dapat menangkal sedikit demi sedikit dampak dari kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia di mana upaya yang dilakukan telah menembus batas – batas aktor hubungan internasional dan melampaui batas Negara (International Collaboration).

Referensi :

Greenpeace Indonesia. 2008. Sejarah Greenpeace. http://www.greenpeace.org/seasia/id/about/sejarah-greenpeace/. 05 Desember 2015 (02:56 WITA).

Handayani, wuri, dkk. 2013. Peranan Greenpeace dalam Menyelesaikan Beberapa Kasus Perusakan Lingkungan di Indonesia. http://www.academia.edu/9684222/MAKALAH_PERANAN_GREENPEACE_INDONESIA_DALAM_MENYELESAIKAN_BEBERAPA_KASUS_PERUSAKAN_LINGKUNGAN_DI_INDONESIA. 05 Desember 2015 (01:34 WITA).

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press Inc. New York. Terjemahan Dadan Suryadipura. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Cetakan II. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Winarno, Budi. 2014. DInamika Isu – Isu Global Kontemporer. Cetakan pertama. CAPS ( Center of Academic Publishing). Yogyakarta.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar