Korupsi: Mati Satu Tumbuh Seribu

Oleh: Ignasius Priyono (HI 2010)

Those who fight corruption should be clean themselves. –Vladimir Putin

Pembaca mungkin masih ingat dengan iklan anti-korupsi oleh beberapa kader partai tertentu beberapa tahun silam. Salah satu bintang iklan tersebut kelak menjadi presiden Indonesia dua periode. Apa pesan iklan tersebut? Sangat gamblang para pembaca yang budiman. Bahkan anak Taman Kanak-Kanak paham maksud iklan itu. Pesannya adalah: Partai yang bersangkutan menolak korupsi. “Katakan tidak pada korupsi!”, begitu teriak sang bintang iklan. Selanjutnya satu per satu kader lainnya berseru “Tidak!” sambil menunjukkan gerak badan tertentu tanda tidak setuju dengan korupsi.

Setelah saya nonton ulang iklan itu, rasanya geli saja. Geli sekaligus miris. Geli karena iklannya miskin ide, ditambah akting yang kaku. Miris rasanya, karena dari pertengahan sampai akhir masa partai tersebut berkuasa di pemerintahan, begitu banyak kadernya yang dibabat habis oleh KPK karena kedapatan korupsi. Salut sama iklannya, meskipun miskin ide ternyata iklannya berhasil membangun citra partai anti-korupsi di mata masyarakat (baca: menipu).

Nah, sekarang bagaimana kondisi dunia perkorupsian? Apakah ada kemajuan? Ada yang bilang iya, banyak koruptor akhirnya ditangkap. Wakil rakyat, pejabat eksekutif, hakim culas, polisi korup, semua jadi korban ketajaman penyidik KPK. Tapi, bukankah koruptor itu semacam hydra, mahluk mitologi Yunani berbentuk ular berkepala tiga, kalau dipotong salah satu lehernya, tumbuh dua kepala baru.

Tidak habis-habisnya koruptor-koruptor itu ditangkap. Setidaknya, berkuranglah sedikit. Kapok lah gitu, lihat teman-teman koruptor yang sudah duluan dipenjara. Malah koruptor yang ditangkap ini seakan-akan jadi martir. “Tenang bro, kamu sudah korupsi dengan baik dan benar. Kami akan lanjutkan perjuanganmu dalam dunia perkorupsian. Kami akan ikuti jejakmu, tapi dengan cara yang lebih licin lagi, lebih culas lagi, tentunya dengan hasil yang lebih besar lagi. Jasa-jasamu dalam merintis usaha korup ini tidak akan kami lupakan. Tenanglah di hotel prodeo.” Begitu kira-kira ilustrasinya.

Sejauh ini yang dapat kita amati, ada dua macam motif orang melakukan korupsi. Pertama, corruption by need. Dia korupsi karena dia butuh. Misalnya, Pak guru Joko menilap uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membiayai istrinya yang baru saja bersalin di RS Mencekik Leher Medical (MLM). Dalam kondisi ini, ketuban istrinya yang pecah membuat pak guru Joko mengambil jalan pintas. Dengan gaji kecil, dia harus bisa menyediakan biaya melahirkan istrinya dan segala tetek bengeknya. Jadi, secara terpaksa pak guru Joko menilap uang BOS yang sedianya dipakai untuk bangun laboratorium bahasa sekolahnya.

Beda dengan motif kedua: Corruption by greed. Dia korupsi karena dia rakus. Misalnya pak Jero menilap dana kementrian yang sedianya digunakan untuk keperluan perjalanan dinas namun dialihfungsikan untuk keperluan sewa hotel tempat acara ulang tahun istrinya. Memang kalau dilihat sepintas, pak Jero butuh dana untuk ulang tahun istrinya yang tercinta itu. Tapi, ada suatu kondisi tak wajar. Gaya hidup yang bermewah-mewahan ala pejabat kaget jabatan namun tidak diikuti pemasukan yang seimbang memaksa pak Jero menilap dana perjalanan dinas kementriannya untuk ulang tahun istrinya di hotel. Padahal dengan kondisi keuangan pak Jero yang tidak bisa mengadakan ulang tahun istrinya di hotel, dia masih bisa rayakan ulang tahun istrinya di rumah saja misalnya. Weleh weleh

Namun apapun alasannya, baik kondisi pak guru Joko yang menyedihkan apalagi kondisi pak Jero yang menggemaskan, korupsi tetap merupakan tindakan yang siapa pun secara masuk akal tidak akan memujinya…

Layaknya benih tumbuh gemuk di tanah gembur, demikian juga korupsi di Indonesia. Praktek korupsi langgeng karena didukung banyak faktor. Selain karena ada kesempatan dan niat pelakunya, ada dua faktor yang sangat berpengaruh.

Faktor pertama, si korban korupsi ini tidak jelas rupanya. Ya iyalah. Coba pikir, dana BOS dan dana perjalanan dinas yang ditilap pak guru Joko dan pak Jero itu milik siapa? Milik rakyat? Rakyat itu yang mana? Adakah rakyat itu berwajah sehingga sewaktu pak guru Joko dan pak Jero menilap uang itu, muncul wajah rakyat Indonesia di kepalanya. Tentu tidak. Adakah rakyat yang mau mengklaim itu adalah uangnya? Tentu tidak ada. Uang itu milik negara? Terus negara itu yang mana? Adakah rupanya atau wajahnya? Adakah sewaktu menilap uang itu, muncul bendera merah-putih atau lambang garuda pancasila di kepala pak guru Joko dan pak Jero. Mungkin iya, tapi tidak berpengaruh. Tidak ada rasa bersalah karena kedua mahluk yang jadi korban korupsi, rakyat dan negara, bukan mahluk empiris.

Berbeda dengan dik Bambang yang mencuri ayam kek Aburizal. Karena kek Aburizal ini tetangga atau mungkin rekanan bisnis papa Bambang, sewaktu mencuri ayam, di kepala dik Bambang terbayang wajah kek Aburizal yang rupawan itu. Maka ada perasaan bersalah meskipun dik Bambang tetap mencuri ayam itu. Dan lagian ketika kek Aburizal itu sadar ayamnya dicuri dik Bambang, dia bisa saja mengklaim bahwa sekarang ayam yang ada di kandang ayam dik Bambang itu adalah miliknya beradasarkan buktinya. Nyata bahwa kek Aburizal ini adalah korban pencurian ayam. Kek Aburizal adalah mahluk empiris!

Faktor kedua adalah mudahnya mendapatkan silih atau indulgensi atas kejahatan korupsi. Nah, ini yang paling memilukan. Terkadang, uang yang ditilap sebagian digunakan oleh koruptor untuk menjalankan kewajiban agamanya. Dengan menjalankan kewajiban agamanya, maka berlakulah silih. Si koruptor akan merasa lega secara batiniah meskipun semu. Dan akhirnya siap beraksi lagi.

Misalnya pak guru Joko dan pak Jero sehabis menilap uang kantornya, sebagian dia masukkan ke panti asuhan. Dengan beramal meski dari hasil tak wajar, melihat senyum kebahagiaan di wajah para anak yatim-piatu sudah melegakan hati pak guru Joko dan pak Jero. Atau mereka menyumbangkan sebagian uang korupsinya untuk membangun rumah ibadah. Melihat senyum di wajah jemaat dan beberapa sanjungan dari tokoh masyarakat, legalah hati mereka. Atau kemungkinan yang lebih parah adalah ketika pak guru Joko atau pak Jero menggunakannya untuk perjalanan rohani, umroh/haji atau ke Yerusalem atau ke tempat-tempat suci lainnya. Di sana minta pengampunan, sehingga tiba di tanah air, siap lagi melakukan korupsi. Masih banyak lagi modus ibadah yang bisa dimanfaatkan koruptor. Itulah silih. Mudah sekali untuk mendapatkannya.

Selain dua faktor di atas, korupsi juga membuat ketagihan. Dia semacam candu. Sekali berhasil, pasti akan dicoba untuk kedua kalinya. Dan semakin dicoba, semakin besar hasil yang harus didapat. Sebab korupsi di kalangan birokrat harus melibatkan banyak orang, dari atasan hingga bawahan untuk semakin memuluskan jalan. Oleh karena itulah mengapa korupsi bisa dikatakan sebagai dosa struktural. Saya sarankan, para pejabat kecanduan korupsi ini harus direhabilitasi seperti pengguna narkoba.

Kita menyambut baik dibentuknya lembaga penegak hukum semacam Komisi Pemberantasan Korupsi yang belakangan ini menunjukkan kinerja apiknya dengan menjebloskan banyak koruptor ke dalam penjara. Namun, ini berkaitan dengan kata-kata Putin yang saya kutip di atas. Siapa yang mau berantas korupsi, dia sendiri harus bersih dulu. Begitu kira-kira kalau Putin bisa bahasa Indonesia. Betul juga kata pak Putin.

Masih ingat dulu pak Antasari Ashar, ketua KPK yang kandas gara-gara kasus pembunuhan? Atau pak Abraham Samad juga ketua KPK yang lengser gara-gara kasus pemalsuan dokumen dan paspor? Atau bapak Bambang Widjoyanto wakil ketua KPK yang terkait kasus pilkada? Terlepas dari benar tidaknya kasus tersebut atau ada tidaknya upaya kriminalisasi, hal ini menyiratkan bahwa seseorang yang menanggung beban sebagai penegak hukum harus benar-benar punya latar belakang yang bersih dan independen. Sebab upaya menjegal pejabat pembela kebenaran dengan mengungkit masa lalunya sedang marak di Indonesia. Ibarat jika ingin membersihkan lantai yang kotor, kita perlu sapu yang bersih, bukan sapu yang kotor.

Lembaga terakhir yang menjadi benteng teguh rakyat dalam melawan korupsi adalah KPK. Jangan sampai KPK senasib dengan lembaga penegak hukum lainnya yang sudah korup puluhan tahun sejak The Smiling General berkuasa. Mari kita jaga KPK dan diri kita dari korupsi. Kalau tidak mau, ya kita revolusi saja!

Selamat Hari Anti Korupsi kawan-kawan!

Makassar, 09 Desember 2015

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar