Menjumpai Masyarakat Satu Dimensi Buatan Kapitalisme

source: http://hursthistory.com/american.cfm?subpage=1614605

source: http://hursthistory.com/american.cfm?subpage=1614605

Oleh: Rial Ashari Bahtiar (HI-2012)

Cukup sering saya dan beberapa kawan mendengar diskusi dengan Kapitalisme sebagai topik pembahasannya. Sebagai anak HI, memahami seperti apa wujud rupa kapitalisme tentu sebuah keharusan. Di era pesatnya teknologi produksi dan komunikasi global, semua orang seakan-akan punya tempatnya masing-masing dalam menikmati hasil ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan Kapitalisme sebagai sebuah mode produksi, biasa juga disebut sistem ekonomi plus aspeknya pada ranah politik dan sosiokultural, adalah faktor determinan yang mempengaruhi aspek-aspek keseharian hidup kita.

Setelah membaca “Taman Keberagaman : Mengenal Kapitalisme” yang ditulis Ignasius Priyono beberapa hari lalu, sontak saya teringat perbincangan yang pernah terjadi dengan beberapa kawan. Kami yang kerap membuka indoprogress.com kagum dengan cara para penulisnya bersahut-sahutan gagasan dalam tulisannya, baik itu afirmasi, kritikan ataupun sindiran. Kami membayangkan bisa melakukan hal sama dengan ide seadanya yang ada di kepala. Bisa membuat ide-ide tersebut mengudara bebas dan terbaca via perangkat elektronik masing-masing adalah hal yang cukup menyenangkan. Oleh karena itu, mengingat banyak sekali mendengar Kapitalisme dalam topik diskusi, saya ingin mengutarakan sepintas gagasan Herbert Marcuse tentang Kapitalisme. Tentu tulisan ini bukan review keseluruhan pemikiran Marcuse namun hanya hasil pembacaan yang terbatas namun berusaha kritis dan bisa menjelaskan satu-dua kondisi keseharian kita yang sekali lagi, didominasi kapitalisme sebagai suatu sistem.

Herbert Marcuse, lahir di Berlin 19 Juli 1898, adalah tokoh sentral dalam pendirian Frankfurt School yang terkenal dalam tradisi ilmu sosial kontemporer. Bersama Max Horkheimer dan Theodor Adorno, mengembangkan suatu aliran pemikiran yang dikenal sebagai teori kritis. Pemikiran Herbert Marcuse yang mungkin paling signifikan tertuang dalam karyanya One Dimensional Man.

Pasca revolusi industri perkembangan zaman berikut masyarakat yang menghidupinya seakan-akan menandakan kemajuan peradaban. Bagaimana tidak, produksi besar-besaran memunculkan keberlimpahan jumlah barang di tengah-tengah masyarakat (affluent). Semua itu berkat penemuan teknologi yang mendorong pabrik-pabrik dapat beroperasi semakin efisien. Apa yang dulunya dikerjakan manusia perlahan-lahan mampu diambil alih oleh mesin-mesin buatan manusia. Pakaian, kendaraan, media hiburan, perangkat komunikasi, alat berat konstruksi bangunan, semua adalah buah hasil kecerdasan teknologi.

Namun Marcuse melancarkan kritik atas kondisi masyarakat industri modern yang seperti ini. Watak kegilaan pada produktifitas kerja yang tinggi sebagai ukuran kemajuan mengantarkan masyarakat menuju ketundukan pada teknologi. Kondisi demikian menciptakan masyarakat yang berpikir dan bertindak dalam satu dimensi. Kondisi ini dianggap sebagai krisis dan kemerosotan masyarakat. Kesadaran kritis yang harusnya dimiliki para buruh industri tenggelam di tengah akumulasi keuntungan ekonomi yang mengalir deras menuju segelintir jumlah orang (kaum borjuis). Kaum pekerja (buruh) larut dalam sistem yang ada. Mengapa dan bagaimana itu terjadi ?

Menurut Marcuse, ada tiga ciri masyarakat industri. Pertama, masyarakat berada di bawah kekuasaan prinsip teknologi. Kedua, masyarakatnya menjadi irasional secara keseluruhan. Ketiga, masyarakatnya berdimensi satu dan inilah yang paling fundamental.

Pertama, prinsip yang dipegang adalah semua upaya manusia harus diarahkan untuk memperlancar dan memperluas produksi. Saat ini teknologi sudah merambah ke segala aspek kehidupan kita dan dengan itu kemajuan manusia seakan-akan dilegitimasi.

Kedua, produktifitas masyarakat lewat teknologi bercampur dengan sisi destruktifnya. Perlombaan senjata menjadi fenomena yang lumrah dilakukan negara-negara. Anggaran militer terus diperhatikan atas nama pertahanan dan keamanan nasional. Kekuatan produktif maka dari itu justru diarahkan pada sesuatu memunculkan permusuhan. Bahkan kita juga mungkin akan senang jika tahu negara kita punya pasukan yang kuat dan terlatih, atau punya anggaran militer tertinggi, atau sekalian punya senjata nuklir. Betapa potensi kehancuran yang tidak masuk akal ketika ia justru diinginkan.

Ketiga, dalam masyarakat industri modern tujuan utama yang menggerakkan tiap individu termasuk buruh-buruh sesungguhnya adalah melanggengkan status quo, yang tak lain adalah sistem kapitalisme. Di dalamnya tersembunyi penindasan yang tak disadari oleh mereka yang tertindas. Marx memprediksi bahwa kontradiksi internal kapitalisme akan membawa pada revolusi yang dilakukan kaum pekerja. Hal ini karna ada kesadaran kaum pekerja akan ketertidasan pada kapitalisme liberal klasik. Kaum buruh pekerja sadar dan mengeluhkan jam kerja yang panjang, upah yang minim serta pekerjaan yang berat dan membosankan.

Namun konflik kelas yang dijelaskan Marx tak berlaku dalam masyarakat kapitalisme lanjut. Mereka yang tertindas dibuat tak sadar akan ketertindasannya. Hal ini karena pemenuhan kebutuhan buruh telah terpenuhi. Di balik pesatnya produksi secara massal, mereka telah menjadi buruh yang bermobil, bermotor, punya televisi, ponsel, akun di media-media sosial dan fasilitas lainnya yang sama dimiliki kaum borjuis. Sensasi menjadi borjuis terasakan lewat pemuasan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Akibatnya adalah kaum pekerja tidak lagi revolusioner.

Di balik pemenuhan kebutuhan materil akibat berlimpahnya hasil produksi, tentu masih terdapat relasi eksploitatif. Konsumsi yang digembar-gemborkan terutama lewat media sebenarnya adalah wajah dari kepentingan kelas tertentu yang dipaksakan kepada keseluruhan masyarakat. Model alienasi yang dijelaskan Marx memang berbeda dengan alienasi yang dialami pekerja dalam sistem kapitalisme lanjut ini. Mereka terkekang dan tak punya pilihan selain memastikan kebutuhannya terus terpenuhi. Mereka menjadi toleran bahkan cenderung menginginkan keberlangsungan sistem yang ada.

Dalam kondisi demikian, menurut Marcuse harapan akan revolusi dan perubahan sosial tak bisa disandarkan pada kaum buruh. Pencarian sosok revolusioner harus kepada golongan-golongan yang termarjinalkan, yang merasakan penindasan tersebut. Adalah kaum muda, cendekiawan dan mahasiswa yang tetap kritis terhadap kondisi sosial-budaya di sekitarnya dan mau memberontak terhadap kemapanan sistem.

Sedemikian berpengaruh pemikiran Marcuse antara 1960-an dan 1970-an menjadi salahsatu pemicu revolusi dan kerusuhan mahasiswa 1968 di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Namun demikian sangat bukan berarti tulisan ini ingin mengartikulasikan perasaan heroik pada kaum cendekia atau mahasiswa. Bukan juga mengajak pada penentangan akan kemajuan teknologi atau mengecam kepemilikan barang-barang mewah oleh masyarakat. Bukan!

Tulisan ini hanya berusaha mengajak kita sama-sama berpikir apa yang membuat penindasan dalam kapitalisme tetap inheren dari masa ke masa lewat pengamatan fenomena-fenomena keseharian. Seperti kata Marcuse, adalah kesadaran kritis akan penindasan yang bisa mendorong kita pada perubahan sosial. Sementara itu penindasan-penindasan kecil sampai mahabesar yang terjadi setiap harinya mungkin sudah tidak teramati dan terasakan oleh kita sebagai bagian masyarakat.

Referensi :

Herbert Marcuse. 1964. One-Dimensional Man : Studies In The Ideology of Advance Industrial Society. London : Routledge.

Agus Darmadji. Herbert Marcuse Tentang Masyarakat Satu Dimensi, diakses dari http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ilmu-ushuluddin/article/download/1027/917 pada 25 November 2015 pukul 01.10 wita.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar