Taman Keberagaman: Mengenal Kapitalisme

image

Oleh: Ignasius Priyono (HI 2010)

Saya sering melibatkan diri dalam kemacetan lalu lintas. Bukan karena suka, tapi karena mau tidak mau, saya harus melibatkan diri dalam kemacetan. Maklum, kami yang hidup di kota besar “Menuju Smart City” ini harus menghadapi resiko kemacetan meski tidak separah macet di ibu kota. Tapi, tidak selamanya macet itu bagi saya membosankan. Di dalam kemacetan, saya terkadang merenung, berkontemplasi, menghayal, berdoa, atau bahkan berdiskusi (dengan boncengan, kalau ada). Nah, di dalam aktifitas tersebut, saya menemukan ide-ide. Sayang, banyak dari ide itu yang kelupaan karena tidak dituliskan (menulis sambil nyetir sepeda motor itu agak susah).

Misalnya, saya sering bertanya kepada diri sendiri ketika saya terjebak macet, spesifiknya di depan salah satu toko swalayan besar di daerah jl. Perintis Kemerdekaan, “Mengapa pemerintah mengatasi kemacetan dengan dengan memperlebar jalan, bukan malah dengan membatasi kendaraan?” Maka, jawaban karangan saya adalah, “Supaya semakin banyak sepeda motor To**** atau mobil Ya**** yang dapat ditampung jalan Makassar. Suatu saat, produksi sepeda motor atau mobil akan berhenti karena besi sudah habis ditambang, dan para warga protes karena ruang tamunya sebagian digusur untuk pelebaran jalan.” Oleh karena itu, saya sarankan teman-teman untuk aktif melibatkan diri dalam kemacetan. Lebih produktif!

Nah, entah kemacetan episode keberapa akhirnya saya mengingat tulisan Romo Herry B. Priyono tentang neoliberalisme. Sambil selap-selip di antara kemolekan bodi mobil-mobil, saya mencoba mengingat-ingat tulisan romo Herry itu…

Tulisan ini adalah buah niat saya di tengah kemacetan waktu itu. Entah ini jenis tulisan apa, tapi saya berharap tulisan ini dapat membantu si pembaca mengenal apa itu Kapitalisme. Mungkin tulisan ini terkesan menyederhanakan Kapitalisme itu sendiri, sebab si penulis bukanlah Marx yang puluhan tahun bergelut dengan tema ini. Dan berkenalan dengan Kapitalisme tidak bisa dengan cara ini: “Hai, nama saya Eki, nama kamu siapa?”, “Hai Eki, nama saya Kapitalisme…”

Bayangkan sebuah taman, ada bunga, kumbang, dekomposer (bukan Erwin Gutawa atau Adi MS, mereka itu komposer), rumput, burung, pohon, kotoran anjing, lebah, dll. Dalam taman tersebut terdapat berbagai macam benda yang memiliki relasi dan membentuk kompleksitas. Lebah punya relasi dengan bunga, kotoran anjing punya relasi dengan dekomposer, rumput punya relasi dengan kumbang, burung dengan pohon, dll. Kesemuanya itulah yang mendirikan taman, membuatnya indah. Tidak ada yang lebih menonjol dari yang lain. Semuanya bergerak pada porosnya, bersumbangsih sesuai dengan perannya. Taman tersebut tidak akan indah jika hanya dipenuhi relasi kotoran anjing dengan dekomposer tanpa dilengkapi dengan relasi-relasi lainnya.

Begitu pula manusia. Kata Romo Herry, manusia itu bagai taman, taman keberagaman. Manusia adalah homo economicus, socius, individualis, religius, dan banyak lainnya. Manusia butuh pangan, sandang dan papan sehingga untuk memenuhinya dia harus melakukan kegiatan ekonomi; homo economicus. Manusia adalah mahluk individu dan sosial. Manusia juga mahluk yang selalu menyadari eksistensi kuasa di luar dirinya, makanya manusia memiliki aspek religius. Satu aspek mempunyai relasi dengan aspek lainnya dan bersama-sama membentuk dan mewujud dalam diri manusia.

Namun, bagaimana jika salah satu aspek tersebut saja yang menjadi dominan dalam diri manusia dan mewujud dalam relasi-relasinya dalam masyarakat. Begitulah yang terjadi. Aspek homo economicus muncul sebagai aspek dominan dalam diri manusia. Aspek ini muncul pada diri manusia dari zaman ke zaman yang saya curigai muncul semenjak adanya alat penimbun kekayaan. Homo economicus segera mencari bentuk-bentuk di luar diri manusia, melahirkan mode-mode produksi yang berubah dari waktu ke waktu.

Karena aspek homo economicus yang memegang peran penting dan menjadi dominan, maka relasi-relasi manusia berikutnya dihitung dan diukur berdasarkan untung rugi. Segera ia menjalar ke aspek-aspek yang lainnya dan aspek-aspek lainnya tersebut direduksi kedalam homo economicus. Dalam hubungan persaudaraan, sahabat, bahkan dalam menyangkut urusan hati nurani. Semua tunduk pada hukum untung rugi. Tidak ada lagi tempat yang tersembunyi dari hitung-hitungan, yang ada hanyalah bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Mungkin inilah yang disebut sebagai kapitalisme.

Kapitalisme harus menemukan bentuk materi. Seperti yang saya bilang tadi, kapitalisme muncul karena mendominasinya homo economicus dalam relasi-relasi manusia. Relasi tersebut terbentuk bukan hanya di satu manusia saja, tetapi menjadi semacam jaring laba-laba yang bertumpuk-tumpuk dan melibatkan manusia-manusia lainnya. Karena relasi itu masih abstrak, maka dia harus menemukan bentuknya. Kadang dia berwujud sebagai perusahaan, pabrik, atau pengusaha (Bill Gates, Donald Trump atau George Soros), bursa saham, atau restoran cepat saji.

Seperti kata Dede Mulyanto, meskipun George Soros dipukul sampai mati, kapitalisme tidak akan hilang. Begitu juga dengan beberapa aksi mahasiswa yang merusak misalnya restoran makanan cepat saji, tidak serta merta akan menghilangkan atau meruntuhkan kapitalisme. Yang dirusak hanyalah wujudnya, atau tubuhnya, sementara relasi kapitalisme yang abstrak tersebut akan berusaha menemukan bentuk-bentuk atau tubuh yang lain. Itulah mengapa kapitalisme selalu menemukan cara beradaptasi dari krisis-krisisnya.

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menemukan bentuk-bentuk perlawanan terhadap kapitalisme ini. Sangat sulit memang jika kita hanya melihat kapitalisme ini dari wujudnya saja, dari strukturnya saja. Sementara kapitalisme sebagai watak itu sibuk menyembunyikan diri dengan apik di dalam tiap-tiap wujudnya. Proyek inilah yang coba dikerjakan oleh para pemikir Mazhab Frankfurt sejak dulu. Tugas kita untuk melanjutkannya di tengah melimpahnya warisan intelektual Marx dan pemikir-pemikir setelahnya.

Nah, sudah cukup kenalannya dengan kapitalisme? Tulisan ini hanya menggambarkan sedikit dari apa yang disebut kapitalisme. Jika dibandingkan dengan Das Kapitalnya buatan Marx, tentulah tulisan ini hanya setitik air di dalam samudera. Tapi, semoga si pembaca mengerti maksud si penulis. Dan semoga si pembaca tidak menyangka bahwa kapitalisme adalah sebuah paham. Sekian.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar