RUSIA “ENGGAN” MELEPASKAN CHECHNYA

12086746_897990620253979_635050905_n

Oleh : Salehati (HI 2013)

Etnis asli Rusia dikenal dengan nama etnis Rus, yang merupakan cikal-bakal Rusia saat ini. Interaksi kekaisaran Rusia dengan Chechnya dimulai ketika Tsar Peter I pada tahun 1722 memutuskan menaklukkan wilayah Kaspia yang berada di bawah kontrol Persia sebagai perwujudan penerapan kebijakan ekspansionis Imperium Rusia. Penduduk Chechnya menghalangi pendudukan ini ketika pasukan imperium memasuki wilayah di Chechnya Timur. Selanjutnya, pada 1762 masa Katherina II, kebijakan ekspansionis difokuskan ke Laut Hitam dan stepa luar Ural di Sepanjang Laut Kaspia. Katherina II selanjutnya mendirikan benteng di Mozdok yang berada di bawah kekuasaan Kabarda dengan tujuan sebagai pusat penyeberangan perdagangan dan pusat misionaris ortodoksi Rusia, yang pada akhirnya mengakibatkan perang 14 tahun (1765-1779). Perang ini mengakibatkan jatuhnya Kabarda dan Ossetia ke tangan Imperium Rusia serta diberikannya kontrol penuh atas Daryl Pass kepada Imperium. Kekaisaran Rusia akhirnya menguasai wilayah Kaukasus Utara (termasuk Chechnya), dan Chechnya secara resmi menjadi bagian dari Imperium Rusia dibawah pemerintahan Alexander II pada 1859.

Pada mulanya, wilayah Kaukasus adalah wilayah yang termasuk dalam daulah Islam yang ditundukkan pada masa kekhalifahan Utsman Bin Affan, sehingga sebagian besar penduduk wilayah tersebut beragama Islam. Adapun gerakan pembebasan Chechnya dari Imperium Rusia telah ada sejak 1785 hingga 1791 dibawah pimpinan Imam Mansur. Imam Mansur kemudian ditangkap di benteng Schlusselburg di Anapa pada 1791.  Selanjutnya, Imam Syamil memimpin gerakan pembebasan Chechnya pada 1834 hingga 1859, namun akhirnya berakhir dengan kegagalan. Kekaisaran Rusia kemudian runtuh dan berganti menjadi Uni Soviet. Ketika terjadi pertikaian antara pendukung Bolshevik dengan pendukung Tsar, Kaukasus Utara mengumumkan kemerdekaannya. Dan untuk itu, Bolshevik kemudian memberikan izin kepada masyarakat Kaukasus Utara untuk menerapkan hukum syariat sebagai hukum konstitusional di wilayahnya. Setelah pemeberontakan oleh pendukun Tsar  berhasil diselesaikan, wilayah Kaukasus Utara kemudian dibagi menjadi enam wilayah Autonomy Oblast yaitu, Chechnya, Ingushetia, Ossetia, Kabarda, Balkaria dan Karachai.

Dzokhar Dudayev mendeklarasikan kemerdekaan Chechnya pada 1 November 1991 dengan nama Republik Chechnya Ichkeria, sekaligus mengangkat dirinya menjadi presiden. Pada kenyataannya, tidak semua penduduk Chechnya menyetujui deklarasi tersebut. Masyarakat yang masih pro Rusia, kemudian melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Dudayev, namun berhasil digagalkan.

Karena merasa dipermalukan, Presiden Rusia saat itu, Boris Yeltsin memerintahkan kepada semua kelompok bersenjata di Chechnya, terutama pendukung Dudayev agar menyerah dan meletakkan senjata dalam waktu 48 jam. Namun karena tidak diindahkan, Rusia akhirnya menurunkan pasukannya di Grozny pada 01 Desember 1994. Kisruh yang terjadi pada 1994 sampai dengan 1996 dikenal dengan Perang Chechnya I. Perang ini memakan korban hingga ratusan ribu orang, termasuk masyarakat sipil Chechnya dan militer Rusia. Perang periode ini berakhir dengan disepakatinya perjanjian damai Khasav-Yurt, yang memberikan status otonomi kepada Chechnya, dan akan membahas statusnya lebih lanjut lima tahun kedepan.

Perang Chechnya fase II terjadi pada tahun 1999, tiga tahun setelah kesepakatan damai, dikarenakan Rusia kembali menurunkan pasukannya di Grozny. Perang kali ini diperkirakan menimbulkan 80000 hingga 100000 korban jiwa dari penduduk sipil, 7500 tentara Rusia tewas, dan sekitar 500000 rakyat Checnya terlantar.

Rusia kaya akan sumber daya alam, seperti batu bara, minyak dan gas alam. Cadangan batu bara Rusia sebanyak 158 milyar ton, atau terbanyak kedua setelah Amerika Serikat. Sedangkan cadangan gas alamnya sebanyak 48 milyar kubik, terbanyak pertama di dunia atau mencapai 21% total cadangan dunia. Sebelum perang Chechnya, Chechnya mampu mengirim jutaan ton minyak ke Rusia. Namun, setelah orang-orang Chechen mengacaukan jaringan pipa minyak yang ada, ekonomi Rusia merosot hingga 30 juta Dollar per hari. Chechnya sendiri memiliki alam yang kaya dengan kandungan minyak mentah dan mampu menghasilkan 4,2 juta ton minyak mentah dan 18 juta ton minyak hasil sulingan per tahun. Pada tahun 2013, sektor minyak dan gas berkontribusi 28% pada GDP negara Rusia, 67% ekspor negara dan 56% untuk total pendapatan negara. Dapat dilihat bahwa sektor minyak dan gas ini sangat potensial.

Kebijakan perestroika (re-strukturisasi ekonomi) dan glasnots (keterbukaan politik) yang diterapkan Mikhail Gorbachev pada masa pemerintahannya, mendorong terjadinya gerakan-gerakan pmberontakan, pemisahan diri dari berbagai wilayah Uni Soviet. Bahkan, hingga menjadi konflik terbuka, seperti konflik Chechnya. Beberapa wilayah mudah untuk mendeklarasikan kemerdekaannya, seperti Ukraina dan Lithuania. Namun, tidak dengan Chechnya.

Banyak hal yang melatarbelakangi keingingan bangsa Chechen untuk merdeka dari Rusia. Pada tahun 1944, pemerintah Uni Soviet pernah melakukan pembersihan etnis dan memindahkan secara paksa bangsa Chechen ke kawasan Asia Tengah sehingga mengakibatkan populasi bangsa Chechen menurun drastis. Hal ini mengakibatkan kebencian orang-orang Chechnya kepada pemerintah pusat, baik saat masih menjadi Uni Soviet maupun setelah terbentuk menjadi Federasi Rusia. Selain itu, demografi masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam, memunculkan kecenderungan gerakan-gerakan pemisahan diri yang tidak saja beralasan etnis tapi juga agama untuk selanjutnya mendirikan negara yang merdeka dari Rusia sekaligus mendirikan pemerintahan Islam.

Deklarasi kemerdekaan Chechnya mendapat penolakan keras dari Rusia. Rezim baru Federasi Rusia tidak menginginkan Chechnya lepas dari Moskow dikarenakan wilayah Kaukasus Utara sangat vital dan riskan, baik dari aspek sumber daya alam maupun geografis. Boris Yeltsin, Presiden Rusia pada masa itu, menyadari betul arti pentingnya Kaukasus Utara bagi kedaulatan Rusia. Dageshtan dan Chechnya merupakan wilayah yang dilewati oleh saluran pipa gas dan minyak Rusia dari Laut Kaspia menuju Laut Hitam, sekaligus menjadi jalur pipa utama antara Azerbaijan dan Rusia. Fasilitas produksi minyak terletak di Grozny (ibukota Chechnya) Novogroznensky. Selain itu, di Chechnya terdapat ladang minyak dan jalur pipa minyak dan gas yang akan menguntungkan Rusia melalui proyek Caspian Oil Pipeline yang merupakan proyek kerjasama Rusia dengan negara-negara lain, seperti Afghanistan dan Oman. Selama perangberkobar di Chechnya, di tengah kehancuran ekonomi, jalur pipa gas dan minyak ini kemudian disedot secara ilegal oleh orang-orang Chechen dan hasilnya dipasarkan secara gelap di pasar gelap.

Memasuki masa pemerintahan Vladimir Putin sebagai presiden Rusia menggantikan Yeltsin, kebijakan yang diterapkan Rusia terhadap Chechnya semakin agresif. Permasalahan di Chechnya menjadi salah satu prioritas dalam agenda pemerintahannya. Berkaca dari pengalamannya selama menjabat sebagai perdana menteri pada era Yeltsin, Putin menolak segala bentuk penyelesaian yang bersifat diplomatis, dan menganggapnya hanya akan mencapai hasil nihil. Dengan begitu, pilihan yang tersisa adalah dengan menerjunkan angkatan bersenjata dengan pengeluaran yang lebih banyak tentu saja. Namun itu sebanding dengan masa depan Rusia dengan minyak dan gas alamnya.

Seiring dengan digaungkannya kebijakan War on Terror secara global, Presiden Putin memanfaatkan momentum ini untuk menumpas para pemberontak di Chechnya hingga ke akarnya. Selain itu, fakta bahwa pemimpin gerakan pembebasan Chechnya pada tahun 1994, Shamil Basaev, pernah melakukan perjalanan ke kamp Osama bin Laden di Khost, Afghanistan, dan isu bahwa Al-Qaeda menyuplai 300 pasukan ke Chechnya pada masa perang Chechnya I, sudah lebih dari cukup bagi Putin untuk menggencarkan aksi-aksi militer dalam rangka menumpas pemberontak, teroris yang mengancam kedaulatan Federasi Rusia.

Berbagai alasan dikemukakan untuk “membenarkan” tindakan Moskow ke Chechnya. Sebelum peristiwa 9/11, salah satu alasan yang diungkapkan Putin adalah mencegah terjadinya “Yugoslavisasi”. Jika Chechnya dibiarkan untuk memisahkan diri dan membentuk negara sendiri, maka dikhawatirkan akan memberikan efek domino kepada wilayah-wilayah atau republik-republik yang lain untuk melakukan tindakan serupa. Terutama wilayah-wilayah di kawasan Kaukasus Utara yang kaya akan minyak.

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa alasan utama yang membuat Rusia tidak mentolerir Chechnya untuk memisahkan diri adalah potensi sumber daya alam yang ada di Chechnya dan terdapatnya jalur pipa minyak dan gas Rusia yang melalui wilayah Kaukasus Utara, termasuk di dalamnya adalah Chechnya. Patut disayangkan bahwa pemerintah Rusia menutup diri pada upaya-upaya diplomatis untuk mengidentifikasi akar permasalahan sekaligus mencari solusi bagi kedua belah pihak. Di pihak Chechnya sendiri, dengan tidak adanya kesediaan dari komunitas internasional untuk mengakui Chechnya sebagai sebuah negara, membuat Chechnya berada dalam keadaan limbo. Pada akhirnya, tersisa dua pilihan bagi Chechnya, seperti yang dipaparkan presiden Putin, yaitu damai atau perang.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar