EROPA DAN ARAB: BEDA CARA TANGANI PENGUNGSI

 Syrian children march in the refugee camp in Jordan. The number of Children in this camp exceeds 60% of the total number of refugees hence the name "Children's camp". Some of them lost their relatives, but others lost their parents.


Syrian children march in the refugee camp in Jordan. The number of Children in this camp exceeds 60% of the total number of refugees hence the name “Children’s camp”. Some of them lost their relatives, but others lost their parents.

Foto jasad Aylan Kurdi yang terdampar di pantai kota Bodrum, Turki, menjadi tohokan tajam bagi seluruh masyarakat internasional. Berbagai surat kabar yang menurunkan berita mengenai foto tersebut berpendapat kalau ini adalah sebuah hal yang tak bisa lagi ditolerir atas nama kemanusiaan. Ini bukan mengenai siapa yang bertikai dalam konflik Suriah, tapi bagaimana konflik tersebut memaksa empat juta penduduk Suriah angkat kaki dari negeri tempat mereka dilahirkan. Ini bukan mengenai siapa bisa mendapat apa dari konflik ini, tapi masyarakat yang telah lelah dengan rasa was-was akibat perang memilih minggat dari negara mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dunia kini menghadapi krisis pengungsi paling besar sejak Perang Dunia II.

Lalu, kemana mereka pergi? Banyak data-data yang telah dikeluarkan oleh UNHCR, badan milik PBB yang khusus menangani para pengungsi konflik. Dan cukup mengejutkan saat tahun rata-rata pengungsi Suriah memilih untuk hijrah ke Eropa daripada ke negara-negara Teluk yang notabene adalah negara-negara kaya dengan devisa yang melimpah. Dari laporan UNHCR disebutkan bahwa Yunani (yang tengah berkutat dengan masalah krisis hutang) menampung sekitar 200.000 orang dan Turki sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Yunani menampung lebih dari 2 juta orang. Selain itu, gelombang eksodus juga terlihat di sepanjang wilayah Hungaria-Austria-Jerman karena ketiga negara ini saling berbatasan dan mau melonggarkan perbatatasannya untuk para pengungsi Suriah. Belum lagi Malta, Swedia, Luxemburg, Perancis, dan bahkan Islandia yang sudah mulai menerima pengungsi Suriah melebihi batas kuota yang telah dikeluarkan oleh Uni Eropa.

Namun, belakangan ini, Jerman, sebagai negara tujuan mayoritas pengungsi mulai kewalahan. Hari Minggu 20 September lalu, Kanselir Jerman, Angela Merkel menyatakan bahwa masalah pengungsi bukan cuma menjadi tantangan Jerman, tapi juga Eropa secara keseluruhan. Rupanya Uni Eropa sepakat dengan Jerman. Rapat darurat pengungsi yang diadakan oleh 28 menteri dalam negeri negara-negara anggota Uni Eropa yang diadakan Rabu lalu (23/9) di Brussel sepakat menganggarkan dana tambahan sebesar 1 miliar Euro (Rp. 16 triliun) untuk membantu PBB menangani pengungsi Suriah, dan menghimbau negara-negara Uni Eropa untuk “terbuka” terhadap para pengungsi. Namun gabungan negara-negara bekas Blok Timur (Rumania, Republik Ceko, Slovakia, Hungaria) menentang kebijakan tersebut. Mereka beralasan kedatangan pengungsi tersebut bisa merampas lapangan kerja yang harusnya milik warga lokal. Sikap negara-negara bekas Blok Timur tersebut didukung oleh banyak partai dan organisasi sayap kanan, yang di sana sedang menguat pengaruhnya. Belum lagi jika membahas Kroasia-Serbia yang saling menutup perbatasan pada hari Kamis (24/9) yang membuat ratusan pengungsi dan penduduk kedua negara tak bisa melintas.

Bagaimana dengan negara-negara Timur Tengah? Tercatat beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Irak, Lebanon, dan (yang mengejutkan) Jalur Gaza menerima pengungsi Suriah dengan tangan terbuka. Mereka menyediakan tempat untuk kemah para pengungsi, menyediakan makanan, menyalurkan obat-obatan, dan bahkan memberikan makanan secara cuma-cuma. Hal ini merupakan bentuk solidaritas kepada sesama, apalagi persamaan dalam hal keyakinan membuat rasa empati dan simpati mudah tercipta. Namun di Irak, pengungsi merasa tidak aman setelah banyaknya kota-kota di Irak yang jatuh ke tangan milisi Islamic State dan hal yang sama bisa sewaktu-waktu menimpa kamp-kamp pengungsian mereka.

Sikap berbeda justru ditunjukkan oleh negara-negara teluk yang kaya seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar. Jumlah pengungsi yang mereka terima sejak konflik Suriah pecah tahun 2011 adalah 0. Ya, tidak menerima pengungsi. Ini menjadi pertanyaan banyak orang mengingat negara-negara tersebut punya banyak uang, dan menyediakan sedikit tempat tinggal untuk mereka tentu saja tak masalah. Seolah ingin membungkam kritik, Arab Saudi merespon dengan memberikan bantuan dana sebesar $ 700 juta  kepada para pengungsi yang tersebar di Lebanon dan Yordania, jumlah yang kecil dibandingkan dengan dana yang telah dihabiskan oleh Turki yaitu $ 5,5 milyar. Tanggal 11 September lalu, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang identitasnya dirahasiakan mengeluarkan pernyataan bahwa Arab Saudi telah menerima hampir 2,5 juta pengungsi sejak konflik pecah. Namun, dari penelusuran lebih jauh oleh Amnesty International, faktanya yang diterima berkisar antara 100 ribu – 500 ribu orang. Disaat yang sama, pangeran-pengaran dari Kuwait dan Qatar mendonasikan ratusan ribu dollar kepada UNHCR sebagai bentuk sokongan terhadap masalah pengungsi.

Banyak spekulasi mengenai mengapa negara-negara Arab terkesan “pelit” menerima pengungsi. Pertama, beberapa negara teluk seperti UEA dan Qatar mempunyai wilayah yang kecil sehingga menampung pengungsi yang begitu banyak jumlahnya menjadi masalah besar karena lahan yang terbatas. Untuk masalah wilayah, Arab Saudi tidak terhitung kecil. Kedua, faktor geografis wilayah-wilayah seperti Turki, Yordania, dan Lebanon yang berbatasan langsung dengan Suriah membuat para pengungsi terkesan “enggan” mencari tempat yang jauh. Namun, ratusan ribu pengungsi yang bisa mencapai Jerman (yang lebih jauh dari pada negara-negara Teluk) bisa dipertanyakan. Ketiga, tabu mengenai memberitahu bantuan yang telah diberikan (dalam Islam sering disebut riya’) masih kental terutama bagi orang-orang Arab, sehingga jarang sekali atau bahkan tidak pernah ditemui pernyataan seberapa jauh perbuatan negara-negara tersebut dalam mengatasi masalah pengungsi. Keempat, mungkin luput dari pengetahuan kita: negara-negara Teluk tidak menandatangani Konvensi Jenewa (Konvensi  dan Protokol PBB mengenai Status Pengungsi) tahun 1951. Ketika ada pengungsi Suriah yang datang ke negara-negara Teluk, mereka tak akan disebut sebagai “pengungsi” tetapi sebagai “tamu” atau “pekerja”. Namun masih diragukan mengenai apakah para pengungsi yang diterima tersebut benar-benar menjadi “pekerja” disaat banyak bertanya apakah para “pekerja” itu memang ada. Belum lagi isu buruknya perlindungan dan kesejahteraan pekerja stadion untuk penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar.

Saat Anda membaca kalimat ini, saat ini di Laut Mediterania ada sekitar 15-20 orang yang menyeberang menggunakan kapal seadanya. Hal itu dilakukan demi mencari tempat yang aman dimana tak ada lagi peluru yang bisa menghujam tubuh mereka kapan saja, atau bom yang bisa menghancurkan rumah siapa pun. Maka perjuangan para pengungsi mencari tempat aman bukanlah sebuah perjuangan yang kecil. Menawarkan tempat untuk berlindung kepada mereka sudah seharusnya kita lakukan sebagai manusia. Kita sedang tak menulis sejarah kemanusiaan paling buruk untuk anak cucu kita nanti.

Sumber: The Conversation/U.S. News/Independent/Bloomberg View/Koran Tempo.

Achmad Hidayat – HI 2013

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar