KADERISASI DAN PENDIDIKAN

bcss

oleh: Sirton (HI- 2012)

Sebenarnya kalau kita berbicara mengenai pendidikan dan pembangunan karakter individu adalah suatu hal yang tidak tabuh lagi untuk diperbincangkan di keseharian kita. Mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, dan sampai mati pun proses itu akan selalu kita jalani. Yah, orang tua dan beberapa orang terdekat di lingkungan kita merupakan elemen yang akan membentuk karakter kepribadian seseorang, baik itu positif maupun negatif. Di dalam ilmu sosial, faktor lingkungan menentukan bagaimana seseorang itu terbentuk. Dan inilah yang penulis pahami bahwa kaderisasi dan pendidikan itu pada hakikatnya adalah sama.

Di mulai dari keluarga yang merupakan organisasi terkecil di dalam masyarakat yang secara garis besar mempunyai peran penting dalam membentuk karakter seseorang. Ayah, ibu, dan anak sama-sama mempunyai fungsi dan tanggung jawab yang berbeda di dalam perkumpulan tersebut. Anak harus mematuhi perintah orang tua sedangkan ayah dan ibu menanamkan nilai kepada sang anak. Tak heran jika kebanyakan orang tua selalu resah ketika anaknya berbuat sesuatu yang dianggap nya itu merugikan bagi orang lain dan nama besar keluarga. Tak heran pula ketika cacian dan makian itu keluar dari mulut orang tua yang biasanya mulut tersebut dipergunakan untuk mengeluarkan kata-kata yang bijaksana. Proses inilah yang akan selalu kita jalani di dalam kehidupan kita. Di dunia pendidikan, baik itu di Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMA,dan Perguruan Tinggi akan selalu kita jumpai hal-hal yang akan mengarahkan, membimbing, dan membentuk kepribadian kita untuk pencapaian dan hakikat kita sebagai manusia.

(Fakih, Topatimasang, & Rahardjo, 2000) mengatakan bahwa tujuan pendidikan pada dasarnya adalah bagaimana membangun kesadaran kritis seseorang. Dalam hal ini perspektif ‘kritis’ yang dianut adalah pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah ‘memanusiakan’ kembali manusia yang mengalami ‘dehumanisasi’ karena sistem dan struktur yang tidak adil. Lihat saja bagaimana realita yang terjadi di sistem pengajaran kita belakangan ini dimana guru menjadi pusat perhatian murid dan proses dialektika menjadi sangat minim. Hal ini pernah dialami oleh penulis bahkan kita semua pernah mengalaminya sewaktu di SD yang dimana murid hanya menerima apa yang diberikan oleh guru (sistem menabung). Tidak hanya itu, di dunia kemahasiswaan pun yang orientasinya lebih kepada pengembangan keilmuan dan proses penyadaran terhadap realitas sosial masih menerapkan sistem tersebut.

Tulisan ini sepenuhnya ditulis dengan semangat “Freirean” yang lebih kepada bagaimana membangkitkan kesadaran kritis di dalam diri manusia. Dengan semangat yang dibawa oleh Paulo Freire inilah yang menjadi bekal pemahaman kepada kita semua bahwa pendidikan yang dialogis dan membangun adalah substansi dari tujuan pendidikan itu sendiri. Bahwa seyogyanya, subjek dan objek dalam pendidikan bisa berjalan secara bersamaan. Inilah yang disebut dengan gaya pendidikan yang membebaskan (andragogy). Teringat ketika penulis masih berada dalam proses pengaderan di kampus dan beberapa orang (senior) masih menerapkan metode pendidikan yang menurut saya tidak rasional. Organisasi kemahasiswaan yang sejatinya membentuk karakter orang, menanamkan ide, dan pengembangan diri tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Output yang dihasilkan pasti sudah kita duga bahwa hasilnya sama saja seperti apa yang dilakukan subjek atau pelaku kepada objeknya dengan mengambil fenomena yang penulis paparkan di atas.

Seharusnya organisasi kemahasiswaan saat ini yang lebih kepada penanaman nilai-nilai dan pembentukan karakter harus melihat permasalahan kekinian dengan sudut pandang lain. Berangkat dari keresahan akan kondisi institusi pendidikan kita yang sudah tergerus oleh kepentingan-kepentingan global dan akhirnya mengingkari fitrah pendidikan kita yang mengatakan bahwa pendidikan untuk semua. Di benak penulis metode seperti itu tidak salah, hanya saja kurang tepat digunakan. Menurut saya, metode kaderisasi yang lebih mengedepankan kekerasan, perpeloncoan, serta tidak adanya proses dialektis itu tidak relevan lagi digunakan dalam konteks sekarang. Teringat ketika penulis berdiskusi dengan seorang teman, ia mengatakan begini “di dalam sebuah proses kaderisasi kita harus selalu mengedepankan yang namanya budaya ilmiah, budaya kerjasama, dan keterbukaan. Hal-hal yang seperti itulah yang harusnya membudaya di kehidupan kita sebagai kaum intelektual.

Substansi dari tulisan ini sebenarnya memberikan pemahaman bahwa kaderisasi dan pendidikan adalah tujuannya sama. Beberapa dari kita hanya sekedar mengetahui Pengembangan diri manusia pada ranah afeksi, kognisi, dan psikomotorik adalah tujuan yang ingin dikembangkan. Menurut Benyamin S. Bloom, titik capaian manusia dalam proses pendidikan adalah ketika mencapai tahap mengkreasikan (creation). Ketiga ranah tersebut merupakan hal yang paling substansial dalam mengembangkan seseorang. Ketika ranah tersebut telah melalui serangkaian tahapan dalam sebuah institusi atau perkumpulan maka akan terciptalah orang-orang yang berpegang teguh pada idealismenya masing-masing. Maka dari itu jangan pernah mremehkan yang namanya kaderisasi dan juga pendidikan. Metodologi yang selama ini kita kreasikan dan kita kemas dalam bentuk yang bervariasi seperti kegiatan perkaderan di kampus, diskusi, menulis, dan yang lainnya adalah wujud dari pemahaman kita akan kaderisasi itu sendiri. Bayangkan ketika semua anak muda berkumpul dalam sebuah wadah yang terorganisir dan melakukan kegiatan yang memacu ranah di dalam dirinya. Terciptalah orang-orang yang paham akan hakikatnya sebagai manusia dimana ia harus peka terhadap lingkungan sosialnya dan tanggung jawabnya sosialnya. Hati-hati juga ketika berbicara mengenai kaderisasi karena terkadang apa yang kita ucapkan tidak sesuai dengan tindakn kita. Introspeksi diri dan menerima kritikan harus dijunjung tinggi.

Dalam konteks kemahasiswaan, kegiatan perkaderan merupakan metode yang diyakini bisa memacu kesadaran kritis seseorang. Semakin banyak orang yang sadar dan paham akan semakin baik pula konsepsi kita akan bagaimana mahasiswa ideal yang seharusnya. Maka dari itu kegiatan-kegiatan yang seperti itu seharusnya lebih banyak diciptakan oleh kita sebagai mahasiswa. Jangan sampai kita terlena oleh urusan atau hal-hal duniawi yang membawa kita ke sikap-sikap yang tidak seharusnya dilakukan sebagai seorang mahasiswa. Berbagi dan bermanfaat. Itulah tujuan dari kaderisasi dan pendidikan yang selama ini kita lakukan.

2 comments on “ KADERISASI DAN PENDIDIKAN”

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar