Konsumerisme; Budaya atau Pilihan?

ilustrasi dari tonimlakian.blogspot.com

ilustrasi dari tonimlakian.blogspot.com

oleh : A.Aulia Hardina Hakim (HI 2014)

Pada mulanya, konsumerisme berkembang di Amerika pada tahun 1900an ketika masyarakat sebagai konsumen merasa khawatir dengan perkembangan ekonomi yang mengancam produsen dalam memproduksi sebuah produk. Budaya konsumerisme mulai melebarkan sayapnya di dalam kehidupan bermasyarakat sejak industrialisasi terlahir. Berbagai faktor pendukung lainnya yang juga turut serta dalam membangun budaya konsumerisme ini sendiri adalah tingkat pendidikan dan taraf hidup yang semakin meningkat dan tentu saja globalisasi. Kemudahan yang ditawarkan oleh globalisasi semakin membuat terciptanya ruang bagi masyarakat untuk mengakses ranting-ranting yang di tawarkan oleh konsumerisme.

Konsumerisme dapat di analogikan seperti tumbuhan rambat yang memiliki banyak cabang yang menjalar dan terus melebar dalam berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Manusia saat ini yang seyogyanya memenuhi kebutuhan, secara sistematis terkonstruksi menjadi manusia yang menganggap barang mewah sebagai suatu ukuran kebahagiaan.

Fenomena seperti ini menjadikan masyarakat menjadi tanggap terhadap hal-hal berbau kemewahan dan sepertinya berani menukar kebahagiaan yang hakiki menjadi kebahagiaan semu dan menjadikan kata “mewah” sebagai tolak ukur. Konsumerisme yang layaknya tumbuhan rambat ini melebarkan cabang –cabangnya ke berbagai aspek nyata dalam kehidupan manusia. Aspek apa yang mulai tercemar cabang-cabang pohon konsumerisme ini? Tidak lain dunia pendidikan, gaya hidup, lingkungan sosial dan hal-hal lainnya. Secara tidak sadar, manusia adalah makhluk sosial yang terkonstruksi untuk terus memenuhi kebutuhan hidupnya selalu dalam batas kurang dan kurang dan tidak pernah merasa cukup atas apa yang telah dimilik saat ini. Kejadian seperti ini yang membuat tumbuh kembang budaya konsumerisme semakin menjadi-jadi dalam masyarakat.

Masyarakat seperti digerus oleh perilaku konsumtif, ketersediaan pusat-pusat perbelanjaan seperti mall, toko online dan pengiklanan merek oleh media massa membuat orientasi masyarakat semakin mengarah pada perilaku konsumtif. Realita yang ada saat ini, masyarakat mengkonsumsi sesuatu bukan dari segi fungsional melainkan dari tren yang saat ini berkembang, kembali pada faktor yang memperngaruhi yakni cara media massa mengadvokasi kehadiran merek dan mencoba melekatkan merek pada masyarakat. Budaya konsumerisme yang mementingkan benda sebagai ukuran kesenangan mengindikasi masyarakat terjerumus menjadi individu yang mendewakan popularitas demi mendapatkan pengakuan. Namun di lain hal, budaya konsumerisme ini sendiri seperti menjadi pilihan bagi masyarakat, bagi mereka yang percaya bahwa kebahagiaan yang hakiki dapat menjadi kemewahan sebagai tolak ukur. Terdapat 3 hal yang mempengaruhi pola konsumsi suatu barang oleh masyarakat, yakni : Kebutuhan konsumen, persepsi atas karakteristik merek dan sikap kearah pilihan yang dipengaruhi oleh gaya hidup.

Perkembangan kehidupan masyarakat yang pada kehidupan masyarakat dunia, dapat memberi efek yang tidak baik dalam perkembangan kebudayaan. Kebebasan yang terjadi dan kurangnya sikap kritis dari masyarakat yang tanggap dapat menyebabkan pesatnya kebutuhan hidup. Terjerumus oleh kebutuhan hidup menjadikan masyarakat yang konsumtif dan tidak kritis. Produk yang dikemas dalam bahasa pasar kapitalisme membutakan kesadaran masyarakat ditambah arus informasi yang cepat dan kelajuan media massa dalam pemberitaan merek juga membantu masyarakat semakin konsumtif, semakin masyarakat mencoba mencari kemudahan semakin media menawarkan kemudahan dalam berbelanja. Di sisi lain, konsumsi memang bersifat mutlak. Meningkatnya intensitas kebutuhan memang berkorelasi positif dengan semakin manusia butuh untuk mengkonsumsi. Tetapi pada perkembangannya kini, manusia terjebak pada kemultikulturalitas akan barang yang akan mereka konsumsi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang dibangun massa di dalam lingkungan manusia itu sendiri. Maka dari itu, bagi masyarakat yang tanggap terhadap arus perubahan seyogyanya dapat melakukan tindakan preventif terhadap arus konsumerisme yang dijembatani oleh globalisasi ini, karena tidak hanya membawa mudarat bagi individu secara pribadi namun juga membawa masyarakat ada lingkungan yang individualisme.

Masyarakat yang terkonstruksi menganut paham konsumerisme sama saja halnya bahwa masyarakat tersebut percaya dan rela di gerus oleh kapitalisme. Penulis berharap pembaca mampu menangkap pesan yang ditinggalkan akan apa yang menjadi dampak konsumerisme itu sendiri di dalam masyarakat. Konsumerisme sudah seharusnya bukan menjadi hal yang tetap dibiarkan berkembang di dalam masyarakat, namun seharunya diredam. Sebagai generasi muda kiranya sudah menjadi tugas untuk menghindarkan diri dari arus kapitalis yang mendorong masyarakat menjadi konsumtif baik dengan senantiasa menggunakan barang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dengan kata lain penggunaan barang secukupnya dan sepandai-pandainya mampu memilih informasi yang tepat terkait dalam konsumsi terhadap suatu barang.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar