Awra Amba

 oleh : Yulianti Sulaiman (HI 2012)

Jika pada layaknya sebuah hal yag ideal diinginkan oleh penganut kaum Feminisme sukar untuk di terapkan, berbeda halnya dengan masyarakat yang berda di salah satu desa yang berada di wilayah Ethiopia ini. Desa ini dikenal dengan nama Awra Amba. di Awra Amba, laki-laki dan perempuan adalah sama dan bekerja dibagi sesuai dengan keahlian, bukan gender.

Pada tahun 1972, di salah satu wilayah Amhara Ethiopia, seorang pemuda yang bekerja sebagai petani bernama Zumra Nuru memutuskan untuk mengubah cara atau hal-hal primitive yang sudah ada melekat didalam masyrakat. Dia ingin hidup di dunia dimana perempuan dan laki-laki setara dan tradisi serta agama tidak mendikte setiap aspek kehidupan. Meskipun ia tidak dapat menulis atupun membaca, namun ia memiliki semangat untuk menciptakan tatanan masyarakat baru di desanya. Zumra lahir pada tahun 1947 dan dibesarkan di pedesaan Ethiopia. setelah seharian bekerja di sawah, setiba di rumah, ayahnya akan beristirahat penuh, sedangkan ibunya masih terus bekerja seharian penuh sampai malam hari. Begitupun dengan ia yang dididik untuk melanjutkan profesi ayahnya sebagai petani sejak usia dini, ia tidak pernah bisa sekolah dan dibesarkan dengan dogma-dogma kepercayaan masyarakat tentang kepercayaan tradisional yang berlaku saat itu, begitupun dengan perbedaan beragama.meskipun ia mempertanyakan banyak hal tentang praktek-praktek tradisionaldan apa yang dilihatnya sebagai ketidakadilan di sekelilingnya tersebut, ia tidak pernah puas dengan jawaba ayah dan ibunya. Problema tersebutlah yang mendasari dia untuk melakukan suatu perubahan besar.

Dia mencoba memulai percakapan dengan keluarga dan masyarakat tentang hak-hak perempuan, pentingnya pendidikan dan keadilan sosial. Ide-ide radikal Zumra membuatnya dicap sebagai orang gila dan menjadi terpinggirkan oleh keluarganya dan masyarakat luas. Setelah bertahun-tahun mencari orang yang berpikiran di sekitarnya, Zumra menemukan sekelompok petani, di antaranya Hossain Bogale, yang mendengarkan ide-idenya. Selama beberapa bulan, kelompok yang terdiri dari 19 orang tersebut bertemu setiap hari untuk membahas hal-hal yang mereka ingin ubah. Mereka menyusun strategi yang progresif, di mana hal yang menjadi pondasinya adalah kemandirian, perdamaian, dan kesetaraan bagi semua tanpa memandang jenis kelamin, etnis atau usia, serta menghentikan budaya praktek-praktek tradisional yang selama ini berlangsung, seperti pemotongan alat kelamin perempuan dan pernikahan anak di usia muda dihapuskan. Ritual keagamaan yang mulai ditinggalkan, dan tidak ada tempat ibadah yang dibangun di desa. Masyarakat memutuskan untuk menunjukkan iman mereka kepada Tuhan melalui kerja keras dan hormat terhadap semua manusi. Zumra dan teman-temannya dengan cepat menjadi terkenal dikalangan masyarakt sekitar. Namun perjuangan mereka bukannya tidak mengalami hambatan, cara pandang dan cara hidup mereka dianggap tidak bermoral. Selama bertahun-tahun mereka mengalami banyak penderitaan, mulai dari mereka diusir dan dukcilkan dari desa mereka dan Zumra sempat dipenjara selama 6 bulan dan harus mengeluarkan biaya sebelum akhirnya dibebaskan. Meskipun diserang, dilecehkan dan dipenjarakan karena dianggap kelompok pemberontak amoral, Mereka mengulurkan tangan untuk orang-orang yang menyerang mereka dan berupaya untuk mengklarifikasi kesalahpahaman yang terjadi, serta mengundnag mereka untuk mengunjungi suatu desa yang sekrang disebut Awra Amba tsb. Bagi masyarakat Awra Amba, diskusi dan musyawarah adalah hal yang di utamakan baik didalam lingkungan keluarga maupun tingkat masyarakat. Hari ini , mimpi Zumra itu akhirnya menjadi kenyataan. Selama 40 tahun terakhir Awra Amba telah berkembang yang dari awal hanya 19 jiwa menjadi hampir 500 jiwa penduduk yang menetap tetap, dengan ribuan anggota dan pendukung yang berbasis di desa-desa lain di sekitar Ethiopia dan negara-negara lain di seluruh dunia bahkan masyarakat. Awra Amba hidup melalui bisnis tekstil yang notabenenya anggota masyarakat sendiri yang mengelolanya.Sebagian besar keuntungan yang diinvestasikan ke pelayanan sosial, seperti membangun dan menjalankan sekolah, klinik dan rumah jompo. Sisanya diinvestasikan kembali ke dalam bisnis dan dibagi rata antara semua anggota masyarakat, tidak peduli yang pekerjaan apapun yang mereka lakukan. Perlu diketahui bahwa sekolah-sekolah dan klinik di Awra Amba baik yang didanai dan dibangun oleh desa sendiri ini melayani ribuan orang di sekitar wilayah tersebut yang sebagian besar tinggal di desa-desa yang menetang sistem Awra Amba.

Popularitas Zumra pun akhir-akhir ini menjadi tokoh di Ethiopia. Dia mendapat sebuah kehormatan PhD dari University of Jimma atas kontribusinya terhadap pembangunan masyarakat di wilayah tsb. Ia kerqp kali diundang untuk berbicara di universitas dan konferensi. Pada bulan April tahun ini, ia melakukan perjalanan pertama kalinya di luar Etiopia dengan dua anggota masyarakat lainnya yang diundang untuk tur di wilayah Perancis oleh salah satu organisasi hak asasi manusia di Perancis. Sampai saat ini Awra Amba menerima ribuan pengunjung dari seluruh dunia yang datang untuk melihat dan mendengar bagaimana mereka telah mencapai perubahan yang signifikan.

“The community believes peace will be created throughout the world, if human beings participate in family discussions for peace.” (Journey to Peace, a book written by the Awra Amba Community).

 

 

Sumber: https://www.indiegogo.com/projects/rethink-a-beautiful-world-the-awra-amba-experience

 


*Penulis adalah Koordinator Departemen Advokasi dan Kajian Strategis HIMAHI FISIP UH Periode 2014/2015

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar